Zikir Kesunyian

aku bersembunyi di balik kabut baris-baris puisi zikirku seribu sunyi mengejarmu dalam gelap ruang semadi di antara erangan dan jeritanku yang terpendam aku hanya ingin memahami isyarat kegelapan yang telah mengiringi langkahku namun mataku selalu perih setiap melafazkan namamu adakah yang salah dari penglihatanku yang nanar dan tumbuh menjadi nyanyian kelakar musim panas membakar kata-kataku …

Continue reading Zikir Kesunyian

Advertisements

Atas Nama Sunyi

Atas nama sunyi Berendam dalam kesendirian Kehilangan kian terasa Memeluk bayangan silam Hanya kosong tak tersentuh Raga itu terpisah jarak Bersandar di pelukan lain Atas nama sunyi Berapa lama seperti ini Memandang setiap kenangan Berpencar senyuman di kepala Mata lahir seolah melihatnya Menyebar di segala sudut Lalu hilang ditelan kesadaran Atas nama sunyi Puisi menjadi …

Continue reading Atas Nama Sunyi

Kehidupan Di Kedalaman Yang Asin

pulang dari laut rambut pirangmu memaduku di bawah kuntum bulan di tengah gelombang amuk badai terbentang membungkus lambung bumi tubuh kerontangmu merapaliku dimana sejauh mata berlayar ikan-ikan -tetasi, cumi-cumi, bandeng cakalang, gabus, kenduy, kakap- bertasbih kepada Tuhan oo....sang adikarya jagad kepada laut kukabarkan :ikan punya banyak lakon dalam hidup seperti adalah satu-satunya alasan mereka harus …

Continue reading Kehidupan Di Kedalaman Yang Asin

Nyanyian Terumbu Karang

Kuhempaskan tubuh ini, melayang Menari kalahkan tarian ombak pasang Terus kumelayang kalahkan air laut garang Aku terus merekam aneka kisah tak berbilang Penerangku sayup-sayup soroti terumbu karang Kulihat mereka bergoyang-goyang Menggelinding, peluk pasir lautan nan lengang Dan mulai kudengar nyanyian terumbu karang Nanana, huhuhu, lang leng lang Nyanyian itu terdengar amat garang Terus kugenggam lautan, …

Continue reading Nyanyian Terumbu Karang

Pulau-Pulau Biru

ribuan pulau dalam kepung samudera biru pernahkah kau ukur dengan langkah kakimu? mendaki tubuh bumi dan sisa-sisa tanah sejarah dengan jemarimu meraba detak cincin api di bawah mahkota surya khatulistiwa persembahan musim datang di laut, di sungai, di padang rumput dan bukit-bukit di gunung, di lembah, di ngarai dan hutan belantara tumbuh, tumbuhlah kehidupan sanggupkah …

Continue reading Pulau-Pulau Biru

Rindu Tak Berujung

Desir bayu menyayat hati Menoreh waktu bisikkan rindu Berseloka sama dedaunan kering Menguak rasa terhempas layu Ruang waktu dinding pemisah Pembuncah asa bergelayut sepi Bagai jasad bicara tanpa makna Andai jarak mengerti Satu sisi di ruang rindu Menerka secercah cahaya Menembus relung hati Rindu tak berujung ini Merayu resah, membisu Dalam setitik angan  Namun tiada …

Continue reading Rindu Tak Berujung

Tanda

Kubaca tanda yang dikiamatkan waktu Dalam labirin sunyi berdetak ia seperti nadi Rekah menjadi serakan dengus napas Berkelindan debu yang menjadi lumpur :sisa genangan hujan yang turun, kemarin Adalah sapa yang lenyap berbuah bisu Mengurungkan lidah dalam katup bibir Perintah hati laksana titah baginda raja Bahasa tubuh sudah cukup sebagai penanda :mengenalmu sebatas kenangan semata …

Continue reading Tanda

Lambung Sunyi

--elegi kloset dan aborsi Lenganku pucuk rebung dari rumpun bambu nenek moyang. Jemariku mekar mengelopak bunga dipoles sepasang mata buta dan desir darah ibu. Wajahku. O, wajahku lipatan muara terpasang dari ayah yang mencari dan ibu yang menanti disuguhi temaram lampu lalu kunang-kunang melayang. Aku tenggelam di buih api yang terus membara tidak mau mati. …

Continue reading Lambung Sunyi

Pelan-Pelan Rindu Tumbuh Sebagai Kunang-Kunang

Pelan pelan aku tumbuh sebagai kunang-kunang Isyarat musim tak mudah disangkal, Bi sebab hujan begitu sibuk bertiup di telingamu Menjatuhkan bertubi-tubi bisikan iblis juga syaiton nirojiim Dingin, Bi Biarkan dedaunan berpelukan pada tanah Sebab lengan kerinduan tak cukup lincah menghangatkan kita Seduh saja puisimu pada setangkai embun yang mampir di kaca Kaca yang hampir saja …

Continue reading Pelan-Pelan Rindu Tumbuh Sebagai Kunang-Kunang

Madura yang Melaut

Tanah ini bernama ranah garam Asin di lidahnya, putih di rambutnya Isi lambung adalah nelayan yang haus ikan-ikan Kulitnya pasir-pasir kasar dengan terumbu karang Debur di tubuhnya ialah keringat yang terkumpul jadi gelombang Ombak di dadanya mengapit kehidupan yang menjanjikan masa depan bahwa bersama badai bukan berarti harus lempar jangkar-jangkar bahwa jika tiba kemarau panjang, …

Continue reading Madura yang Melaut