Zikir Kesunyian

aku bersembunyi di balik kabut baris-baris puisi
zikirku seribu sunyi mengejarmu
dalam gelap ruang semadi
di antara erangan dan jeritanku yang terpendam

aku hanya ingin memahami isyarat kegelapan
yang telah mengiringi langkahku
namun mataku selalu perih setiap melafazkan namamu
adakah yang salah dari penglihatanku yang nanar
dan tumbuh menjadi nyanyian kelakar

musim panas membakar kata-kataku
yang menjadikannya abu dan lelatu
lalu menyeretku ke wilayah tak dikenal
dunia tak terjangkau lidahku
hingga teriakanku lenyap dalam regukan besar waktu
seperti embun yang terserap cahaya pagi

dunia di luar kata-kata
dan nyanyian tak menyuarakan apapun
tapi zikirku terus mengalir padamu
menjenguk setiap puing-puing kesunyian di bukit
kotamu.
menyusuri terowongan-terowongan panjang waktu
yang menelanku hingga tenggorokanku terbakar sunyi

aku memintal lagu sepanjang lorong rahasiamu
untuk kunyalakan dalam jiwa
tanganku meraba ayat-ayat
tapi setiap kunaiki tangga ke langit terjauh
aku selalu ditenggelamkan cahayamu

aku letih menjengkal kesamaranmu
dan zikirku adalah zikir kesunyian

Kediri, 12 Mei 2016

Poetry Prairie Literature Journal #5
Penulis: Aharys Koeartz

Advertisements

Atas Nama Sunyi

Atas nama sunyi
Berendam dalam kesendirian
Kehilangan kian terasa
Memeluk bayangan silam
Hanya kosong tak tersentuh
Raga itu terpisah jarak
Bersandar di pelukan lain

Atas nama sunyi
Berapa lama seperti ini
Memandang setiap kenangan
Berpencar senyuman di kepala
Mata lahir seolah melihatnya
Menyebar di segala sudut
Lalu hilang ditelan kesadaran

Atas nama sunyi
Puisi menjadi tak berisi
Langit tak berpelangi
Awan menjauh pergi
Semua tak lagi di sini
Hampa mendalam di hati
Sulit menghapus semua ini

Atas nama sunyi
Hari baru dimulai lagi
Berharap segera terobati
Tak secepat itu terganti
Senyuman itu tertanam di sini
Tumbuh lebat dalam diri
Tersadar kini semua menjadi berarti

Malang, 30 Januari 2017

Poetry Prairie Literature Journal #5
Penulis: Aan Handian

Kehidupan Di Kedalaman Yang Asin

pulang dari laut
rambut pirangmu memaduku
di bawah kuntum bulan
di tengah gelombang amuk badai
terbentang membungkus lambung bumi
tubuh kerontangmu merapaliku
dimana sejauh mata berlayar

ikan-ikan
-tetasi, cumi-cumi, bandeng
cakalang, gabus, kenduy, kakap-
bertasbih kepada Tuhan
oo….sang adikarya jagad
kepada laut kukabarkan
:ikan punya banyak lakon dalam hidup
seperti adalah satu-satunya alasan
mereka harus mati
ketika terhempas ganas gelombang
tubuh gelisah pasrah
di tengah-tengah pasir keterasingan
terkadang ikan-ikan menantang gelombang
tak peduli kemanakah
seling-siul badai menerompanya

tak peduli ia harus mati
di perut penikmatnya
ketika lapar mengendap diam-diam
di sela-sela kebiruan lautmu

oo……sang maha lestari
lautmu yang gagah
ada pesona yang terbingkai keabadian
ketika ikan-ikan kecil memutar-mutar
di antara rerimbun karang
atau ikan terbesar pun
melompat bersama mencabik langit
di antara reruntuk imaji dan andai

kepada Tuhan aku nisbatkan
;aku jatuh cinta pada lautmu

aku ingin seperti mereka
bebas sebagaimana jiwanya
di pojok april
masih dalam sejauh mata berlayar
kutemukan nama ikan-ikan yang ramai
-tetasi, cumi-cumi, bandeng
cakalang, gabus, kenduy, kakap-
masih menyibukkan diri
laut tak pernah sepi
hidup tak pernah berhenti
berganti sejalan skenario Tuhan hakiki

aku ingin seperti mereka
bergumul terkapai-kapai
mengapung-ngapung menuju jazirah mimpi
di tengah lautan
di tengah buritan angin payau yang entah
keindahan tetap saja klasik
kehidupan tetap saja punya ritus waktu
tempat ikan-ikan dihidupi oleh cinta-Mu
cinta memang jamuan kudus bagi-Mu
yang paling tinggi
oo…pangeran abtina
segala hidup di laut
di bumi
berserah diri di bawah lutut agung-Mu

~Ahmad el-Rama~

Nyanyian Terumbu Karang

Kuhempaskan tubuh ini, melayang
Menari kalahkan tarian ombak pasang
Terus kumelayang kalahkan air laut garang
Aku terus merekam aneka kisah tak berbilang

Penerangku sayup-sayup soroti terumbu karang
Kulihat mereka bergoyang-goyang
Menggelinding, peluk pasir lautan nan lengang
Dan mulai kudengar nyanyian terumbu karang

Nanana, huhuhu, lang leng lang
Nyanyian itu terdengar amat garang
Terus kugenggam lautan, kudengarkan ia berdendang
Begitu terasa gamang

Nanana, huhuhu, rang reng rang
Bukan lirik biasa ia ulang-ulang
Dua puluh enam detik lalu terkenang
Bersahutan tangisan dengan sorak penuh riang

Terumbu karang nyanyikan kisah malang
Meski ia tak lagi punya hutang
Laut, langit dan ikan pun telah akui dengan girang
Bila terumbu karang selalu berbaik hati tanpa berang

Sedang takdir menjelma suratan sumbang
Dua puluh enam detik lalu tubuh lainnya menghilang
Larut dalam tarian air laut nan lengang
Bola berdembum itu berhasil menghancurkan kisah lautan karang

Nyanyian itu kembali mengadu pincang
Siluet lukisan laut nampak remang-remang
Kala tangan-tangan durhaka itu menyerang
Menyita pengabdiannya pada lautan sang Maha Penyayang

Terumbu karang terus bernyanyi dan berguncang-guncang
Ia murka, teramat garang
Mencabik penghuni lautan karang
Buat mereka tercengang

Sebab terumbu karang mengenang
Sebab terumbu karang menangis dan marah kepada tangan-tangan curang
Yang hancurkan kebahagiaan terumbu karang
Takkah kau kasihan, duhai ciptaan paling istimewa sang Maha Penyayang?

Sendangagung, 14 November 2016
~Rana Rafidha Salsabilla Rachman~


Pulau-Pulau Biru

ribuan pulau dalam kepung samudera biru
pernahkah kau ukur dengan langkah kakimu?
mendaki tubuh bumi dan sisa-sisa tanah sejarah
dengan jemarimu meraba detak cincin api
di bawah mahkota surya khatulistiwa
persembahan musim datang
di laut, di sungai, di padang rumput dan bukit-bukit
di gunung, di lembah, di ngarai dan hutan belantara
tumbuh, tumbuhlah kehidupan

sanggupkah detak jantungmu mengukur
dalamnya ombak di laut-selat
pelekat ribuan pulau biru
yang bicara dengan bahasa-bahasa ibu
teguh pada rasa satu

dalam lukis warna tanah nusantara
ragam bahasa dan lingkar budaya
mengalung zamrud dan jejak cincin api
di atas pulau-pulau biru bertanah hijau
peramu sari kehidupan nusantara
dimana musim berwarna hangat
budaya dan agama berakar kuat
beragam tapi satu, berbeda tapi damai

itulah rumah kita yang paling syahdu
akan kuat oleh cinta
jadi dekaplah,
dekaplah tanah sehangat tangan-tangan ibu
dengan asih, penuh kasih 

-Poetry Prairie-
Love Indonesia

Rindu Tak Berujung

image

Desir bayu menyayat hati
Menoreh waktu bisikkan rindu
Berseloka sama dedaunan kering
Menguak rasa terhempas layu

Ruang waktu dinding pemisah
Pembuncah asa bergelayut sepi
Bagai jasad bicara tanpa makna

Continue reading Rindu Tak Berujung

Tanda

Kubaca tanda yang dikiamatkan waktu
Dalam labirin sunyi berdetak ia seperti nadi
Rekah menjadi serakan dengus napas
Berkelindan debu yang menjadi lumpur
:sisa genangan hujan yang turun, kemarin

Adalah sapa yang lenyap berbuah bisu
Mengurungkan lidah dalam katup bibir
Perintah hati laksana titah baginda raja
Bahasa tubuh sudah cukup sebagai penanda
:mengenalmu sebatas kenangan semata

Continue reading Tanda

Lambung Sunyi

–elegi kloset dan aborsi

Lenganku pucuk rebung dari rumpun bambu nenek moyang. Jemariku mekar mengelopak bunga dipoles sepasang mata buta dan desir darah ibu.

Wajahku. O, wajahku lipatan muara terpasang dari ayah yang mencari dan ibu yang menanti disuguhi temaram lampu lalu kunang-kunang melayang.

Aku tenggelam di buih api yang terus membara tidak mau mati. Tuhan menurunkanku ke bumi dari seluncuran ibu yang curam penuh tikungan di setiap hela nafasnya. Jeritku merapal tabu dan merobek batin dari rantai waktu. Menguras rapal do’a di kolam Tuhan. Tidak ada yang mengintip di balik jendela atau bertasbih pada ruh telah bernyawa ini.

Continue reading Lambung Sunyi

Pelan-Pelan Rindu Tumbuh Sebagai Kunang-Kunang

Pelan pelan aku tumbuh sebagai kunang-kunang
Isyarat musim tak mudah disangkal, Bi
sebab hujan begitu sibuk bertiup di telingamu
Menjatuhkan bertubi-tubi bisikan iblis
juga syaiton nirojiim

Dingin, Bi
Biarkan dedaunan berpelukan pada tanah
Sebab lengan kerinduan tak cukup lincah
menghangatkan kita
Seduh saja puisimu pada setangkai embun
yang mampir di kaca
Kaca yang hampir saja dipecah sekuncup cerita
Tentang penyair yang nyaris kehilangan metafora
Lalu sajaknya laksana lelaki tua,
yang kepalanya di penuhi berlapang-lapang nisan
di tiap sisinya

Continue reading Pelan-Pelan Rindu Tumbuh Sebagai Kunang-Kunang

Madura yang Melaut

Tanah ini bernama ranah garam
Asin di lidahnya, putih di rambutnya
Isi lambung adalah nelayan yang haus ikan-ikan
Kulitnya pasir-pasir kasar dengan terumbu karang
Debur di tubuhnya ialah keringat yang terkumpul
jadi gelombang
Ombak di dadanya mengapit kehidupan yang
menjanjikan masa depan
bahwa bersama badai bukan berarti harus lempar
jangkar-jangkar
bahwa jika tiba kemarau panjang, tak selamanya
hasil tangkapan melimpah besar

Continue reading Madura yang Melaut