Tanda

Kubaca tanda yang dikiamatkan waktu
Dalam labirin sunyi berdetak ia seperti nadi
Rekah menjadi serakan dengus napas
Berkelindan debu yang menjadi lumpur
:sisa genangan hujan yang turun, kemarin

Adalah sapa yang lenyap berbuah bisu
Mengurungkan lidah dalam katup bibir
Perintah hati laksana titah baginda raja
Bahasa tubuh sudah cukup sebagai penanda
:mengenalmu sebatas kenangan semata

Continue reading Tanda

Lambung Sunyi

–elegi kloset dan aborsi

Lenganku pucuk rebung dari rumpun bambu nenek moyang. Jemariku mekar mengelopak bunga dipoles sepasang mata buta dan desir darah ibu.

Wajahku. O, wajahku lipatan muara terpasang dari ayah yang mencari dan ibu yang menanti disuguhi temaram lampu lalu kunang-kunang melayang.

Aku tenggelam di buih api yang terus membara tidak mau mati. Tuhan menurunkanku ke bumi dari seluncuran ibu yang curam penuh tikungan di setiap hela nafasnya. Jeritku merapal tabu dan merobek batin dari rantai waktu. Menguras rapal do’a di kolam Tuhan. Tidak ada yang mengintip di balik jendela atau bertasbih pada ruh telah bernyawa ini.

Continue reading Lambung Sunyi

Pelan-Pelan Rindu Tumbuh Sebagai Kunang-Kunang

Pelan pelan aku tumbuh sebagai kunang-kunang
Isyarat musim tak mudah disangkal, Bi
sebab hujan begitu sibuk bertiup di telingamu
Menjatuhkan bertubi-tubi bisikan iblis
juga syaiton nirojiim

Dingin, Bi
Biarkan dedaunan berpelukan pada tanah
Sebab lengan kerinduan tak cukup lincah
menghangatkan kita
Seduh saja puisimu pada setangkai embun
yang mampir di kaca
Kaca yang hampir saja dipecah sekuncup cerita
Tentang penyair yang nyaris kehilangan metafora
Lalu sajaknya laksana lelaki tua,
yang kepalanya di penuhi berlapang-lapang nisan
di tiap sisinya

Continue reading Pelan-Pelan Rindu Tumbuh Sebagai Kunang-Kunang