Melawan Ingat

Hentakkan kakimu
Hempas dia dalam hatimu
Lihatlah ruang dan waktu
Masihkah ada kamu
Masihkah ada lukisanmu di dia
Cobalah menerka
Rasakan dengan nuranimu
Tatap apa yang ada di pandangannya
Jangan luka
Jangan pernah luka
Kosong yang ada
Senyum itu dari pikirannya
Senyumnya penuh rencana
Tangannya di bawah
Tangannya menengadah
Layunya rasa dalam hatimu
Itu rahasia pencipta dan ciptaan-Nya

Parasnya memang silau
Hatinya begitu redup
Pikirannya begitu picik
Logika terlalu sakit
Hidupnya penuh dusta
Topeng kebaikan terpasang
Seluruh hamba Tuhan mengiyakan
Mengiyakan apa yang diperbuat
Mengiyakan adab busuk tak terlihat
Tawanya terbaca lukaku
Langkahnya tersimpan karma dariku

Dia itu sang pengelana
Sang pengembara
Mungkin juga pujangga
Hingga waktu bumi berhenti
Dan nafasnya tak ada lagi
Dia baru mengerti
Dia baru memahami
Arti diciptakan
Arti kasih sayang

*


AGAINST REMEMBRANCE

Stomp your feet
Throw him inside your heart
Look at the space and time
Are you still there
Is the picture of you still with him
Try to guess
Feel with your conscience
Look what’s inside his stare
Do not be hurt
Be never hurt
Vacant,
That smile is from his mind
His smile is full of plans
His hand’s below
His hand looks up
Withering sense in your heart
That’s the creator’s secret and His creation

His face is glowing
Yet his heart is so dim
His mind is shortsighted
The logic is too sick
His life is full of lies
The goodwill mask attached
The servants of the Lord agreed
Affirmed what he has done
Agreed his invisible foul deeds
His laughter read by my wounds
His steps keeping the karma from me

He is the rover,
The traveler,
Perhaps also a poet
Until the time of earth stops
And his breath is no longer exist
Then he’ll understand
Then he’ll start to understand
The meaning of being created
The meaning of affection

*

Author: Fitri Anggarsari
Translated by Poetry Prairie

Fitri Anggarsari. “Saya suka menuliskan semua cerita tentang hidup saya, karena saya bingung harus bagaimana. Dengan menulis, emosi dan unek-unek bisa terluapkan.”

Advertisements

Terbakar di Pintu

Perempuan itu menepi. Terbakar di dekat pintu
dan rasa kangen yang ganjen
gamang
kemana gerangan dialamatkan?

Sedangkan hujan kian jauh merantau
pada diri lelaki yang membakar tembakau.
Hai, hidup memang tak tentu, ketika roda berdentam mengagetkan
pecah di sebelah kanan.

Munjul-Pandeglag, 29 Oktober 2015


BURNED AT THE DOOR

That woman stopped over. Burnt near
the door
and a flirtatious longing feeling was
fret
where it should be addressed to?

Whilst the rain keeps wandering away
to a man that burning tobacco.
Hey, life indeed is uncertain, when wheels
are pounding aghast
crashing on the right side

Munjul-Pandeglang, 29th October 2015


Author: Riduan Hamsah
Translated by Poetry Prairie

Riduan Hamsah. Penulis pernah bekerja sebagai jurnalis dan penulis kolom juga aktif menulis karya-karya sastra, sejumlah tulisan dipublikasikan di Harian Media Kalimantan, Radar Banjarmasin, Harian Satelit News (Tangerang), Lampung Post, Majalah Sabili, Majalah Suluh, http://www.wartalambar.com, serta termuat dalam sejumlah buku antologi antara lain; TANAH PILIH, 142 PENYAIR NUSANTARA, dll. Saat ini penulis bekerja sebagai pegawai di Bidang P2PL Dinas Kesehatan Kabupaten Pandeglang, Banten.

Dalam Diam

Janganlah dulu kau pamit
Janganlah dulu kau beranjak
Malam waktu baru menyapa,
Silahkan masuk katanya.
Sunyi masih muda
Alun angin masih menari-nari
lincah

dan kita berdua terduduk di sini
di bangku taman
di bawah pohon rindang
berterangkan hanya sebatang lilin
yang terus leleh dimakan waktu
saling bertatap
dalam diam
diselimuti kabut; kabut bianglala

Arak-arakan gerimis pun datang
mau mampir mereka kata
yang tiap serbuk-serbuk dari mereka membawa
setitik kenangan yang purba

masihlah kita saling balas tatap
masih dalam sunyi
sunyi yang diiringi tembang jejangkrik
diiringi orkestra gerimis
dan angin yang bergesekan
tapi kita rasakan gejolak dari dalam diri
ingin menghambur ria keluar
tapi tak sepatah, dua patah, tiga patah kata pun
berontak dari rongga mulut

malam itu, tak ada kata-kata terucap
tapi segala macam rasa dan pikir
telah sampai ke kami berdua
mesra rasanya.
Hangat.

Malam nyaris gugur, rebah
Fajar akan bertamu sebentar lagi
Mentari sedari tadi curi-curi kesempatan mengintip kami
Kami yang saling bertukar cinta kala sunyi

Bukankah mencintai dalam diam itu
lebih menyenangkan?
Bak gerimis,
disembunyikannya rindu yang meriap
oleh serbuk-serbuk air yang luruh ke tanah
tanpa mengacaukan apa yang ada di sekitarnya.
Tapi mau sampai kapan?
“Andaikata aku…”
Tapi kau ini gerimis!
Janganlah menjelma jadi badai
yang buat risau sekitarnya.

Jakarta, 23 Maret 2016


IN SILENCE

Please, do not say goodbye already
Do not go away
The night has just greet us,
It says please come in.
 The silence’s still young
 The wind’s still dancing agile

and we both sat here
 on a park bench
 under a shady tree
 alighted by a candle
 that melted in time
we were staring to each other
in silent
shrouded in mist; the mist of rainbow

The drizzles’ cortege had arrived
they want to stop by, they said
 when each of their dusts brought
 a speck of ancient memory

still we stared to each other
 still in silence
 with the song of cicadas
 and the orchestra of drizzling rain
 the wind set a friction
but we sensed our inner turmoil
that wanted to burst out
but not one, two or three words came out
rout of the oral cavity

that night, no words were spoken
but all sorts of feeling and thoughts
has clenched us both
it felt intimate.
Warm.

The night was almost falling, and laid down
Soon the dawn would come
The sun was surreptitiously peeking on us
We, that were exchanging love when silent came

Wasn’t it much more merrier when loving secretly?
Like the drizzling rain,
that hid a protrude longing
by drops of water, exuviated to the ground
without interfering the vicinity
But how long it would take?
“If only I…”
But you are the drizzling rain
Don’t transform into a storm
that overwhelmed your surroundings

Jakarta, 23rd 2016


Author: Muhammad Ilham Fauzi
Translated by Poetry Prairie

Muhammad Ilham Fauzi. Lelaki yang tertarik pada dunia sains dan kesenian ini menjadikan kegiatan bersastra dan berteater sebagai sarana pengikis penat dari rutinitasnya di jurusan kampusnya, jurusan fisika UNJ. Saat ini sedang berperan aktif dalam Unit Kesenian Mahasiswa sebagai pengurus bidang Sastra Drama.


Kita dan Antara Kita

Jika cinta adalah rumah singgah, yang menumbuhkan dan meruntuhkan luh, dari cangkang mata.
Jika air mata adalah patahan batu mulia, yang membuat leluasa untuk tetap menundukkan kepala.
Jika menangis adalah upacara paling magis dalam melunaskan kehidupan “sebuah kesedihan”, dan menunaskan ketabahan.
Aku sepakat denganmu, jika tidak ada tempat seindah rumah.
Sebab kau tahu, alasan ketika aku menitikkan air mata.

Empat tahun lalu, kau memintaku menyadap api.
Getahnya akan membagi kehangatan, di tingkahku yang dingin.
Agar kau leluasa menyusuri jalan pikiranku, menuju patahan air di lengkung kali yang membanjir di ulu matamu.
Aku tahu, kau mau mengukur jati diri cintanya seorang lelaki.
Seperti katamu, cinta kasih murni, ialah batu teguh di tengah kali.

Tapi, dalam separuh windu aku telah jadi abu.
Membeku di tanggal merah, di hari renta.
Aku bergegas memangkas kalender demi memadu lagi bangkai masa lalu, kukepak di amin sayapmu.
Sebab, kau adalah dara pertama yang membuatku jatuh cinta, bukan karena senggama.
Sudah kuputuskan kadarnya, hanya agar kau menafsirkan, jika aku pernah dilahirkan di kefanaan kehidupanmu:
sebagai, pemilik rusuk yang kaupatahkan, dan dihibahkan kepada rajah tangan kekalahan.

Sudah kubebat tenggang, lantas selekasnya berkemas dari ufuk niatku.
Sebab, sejatinya kau begitu padu, berpangku pada cincin tangkaimu.
Aku memilih, memutuskan tali rantai: sebuah kemustahilan, agar mengakar ekor namamu.
Sebab, seseorang telah mengukur ekor namamu.

Kubiarkan bulir anggur gugur, di lamur perbincangan.
Agar, jarak dapat melautkan jalan.
Sehingga, tak bisa kucecap wanginya kuncupmu.
Meski, aku tak menaruh batang cinta di tiris persimpangan.
Tapi, aku tak mampu menyangkal, jika sekarang, bukanlah dari sempalan rusukku engkau berasal.

Kudengarkan lagi, “lembayungmu”.
Aku melihatnya, dengan geliat telinga.
Agar, suatu kelak aku pandai mendo’a, meminta yang tak ada sia-sianya.
Semoga saja, pemilik kehidupan akan menyempurnakan tingkahku dan polahmu.
Menggiringnya, menuju sebaik-baik perilaku.
Agar, di kehidupan lain cinta membawa kita bersama, menuju surga.

Temanggung, Februari 2016

Penulis: Hamzah Firmansah


US AND BETWEEN US

If love is a halfway house, it grows and undermines the spirit, from shell of eyes.
If tear is the gemstone craquelures, which keeps the head bowed freely.
If crying is the most magical ceremony to complete the life of “a sadness”, and growing fortitude.
I concur with you, that there’s no place as sweet as home.
So then you know, the reason why I carried out these tears.

Four years ago, you asked me to extract the fire.
The saps would share some warmth, to my cold deeds.
So you can easily strode over my mind, to a fracture of spring on river’s hook that flooded the pit of your eyes.
I know, you wanted to measure the love identity of a man.
As you said, pure love, is a steady rock in the middle of a river.

But, after four years I’ve turned into ashes
Frozen between red dates on calendar, at my older age.
I cut the calendar hurrily to rejuvenate the carcass of past, I flapped with your wings.
Because, you are the first lady that made me fall in love, not because of lust.
I have decided, only for you to interpret, if I had ever been born in your transience of life:
as, the owner of ribs that you break, and granted to a palmistry of defeat.

I have swathed the time, then hurrily packed my rising intentions
Because, in truth you are so unified, standing on your ring’s bezel.
I chose, to break the chain: an impossibility, so that your name would be rooted.
Because, someone has measured the cortege of your name.

I let the grapes fall, over myopic conversation.
So that distance could wave the road.
Thus, I could not sense the fragrance of your buds.
Though, I did not put the love bars at the junction.
But, I can not deny, that now, you are not the splinter of my ribs.

I listen again, “your twilight”.
I see, with ears stretching.
So that someday I’m good enough on praying, asking for things without futility.
Hopefully, the owner of life will take my acts and your deeds into perfection.
Marching us, to the best of behavior.
So, in another life love will bring us together, to heaven.

Temanggung, February 2016

Author: Hamzah Firmansah

Translated by Poetry Prairie

Pentas Kita

Hari ini, aku mencari wangimu di antara sekian aroma yang dikirim angin.
Ingin kuberitahu kau, tentang
puisi yang tumbuh dari pertemuan-pertemuan tak sengaja,
pandangan yang gagap, dan senyum yang kusembunyikan.
Telah kusiram ia dengan rindu yang jatuh di ujung senja,
juga dengan rinai pinta pada Tuhan.

Continue reading Pentas Kita

Rindu Tak Berujung

image

Desir bayu menyayat hati
Menoreh waktu bisikkan rindu
Berseloka sama dedaunan kering
Menguak rasa terhempas layu

Ruang waktu dinding pemisah
Pembuncah asa bergelayut sepi
Bagai jasad bicara tanpa makna

Continue reading Rindu Tak Berujung

Puisi Cinta Untuk Ayah

Ayah, aku adalah salah satu dari dua nyawa
yang pernah kau titipkan di rahim seorang perempuan
Air susunya yang kuminum membawa pesan padamu
bila ia boleh kembali, tentu takdir takkan digariskan bersamamu
Namun cinta tak mengajak teropong untuk mengintip lebih jauh
Sebab, konon kemantapan adalah rahasia paling dekat dan dalam
Walau pada akhirnya kau dialamatkan
hanya untuk menjelma seekor burung yang tak lupa pada sayap

Continue reading Puisi Cinta Untuk Ayah

Rayap dan Karatku

screenshot_2016-05-11-06-55-01-817.jpeg

Dari waktu yang memasungku pada aromamu, masih tak dapat aku dobrak, bahkan sepertinya pasungmu tuli terhadap lapuk, terhadap rayap yang kukirim tiap saat.

Nafsu memalingkanmu tanpa ingin tahu padaku yang terseok dengan pasung berat sambil mengendus-endus asap di antara angin kencang yang terkadang memberitahuku kemana arahmu beberapa hari yang lalu, dan aku tahan nyeri, aku obati robek dengan ludah yang bernanah. Terus aku endus baumu sampai endusan anjing tak lagi mengungguli endusanku.

Continue reading Rayap dan Karatku

00:00 Definisi Cinta

kutelah ragu, kadang 
jarum yang menikam di bilik jantung 
padahal namanya adalah rindu 
telah lama bisu di situ, setiap detaknya 
harmoni dan empedu 
tak tahu, 
dasar tebing mana, atau sekecil kuantum apa 
hanya terjadi begitu saja 

Continue reading 00:00 Definisi Cinta

Jalan Hidup Kita Satu

Seusai kutatapi kedua bola matamu,
aku ingin kita bersalaman dari mata lurus ke hati
hingga erat menanami kita sebutir benih keyakinan yang batu.

Seumpama-pun kau merawat musim lain,
selain hujan dan tanah subur di ladang permulaan ini,
aku akan tetap meniti tumbuh
hingga cemas yang lumpur berangsur-angsur lebur.

Continue reading Jalan Hidup Kita Satu