Di Bawah Tenda

bukanlah pencinta Bungur bila merebut bunga dari rantingnya menimbulkan suara patah menyerupai kata pamit dari belantara ungu yang kusebut cinta lalu meremah di sela jemari yang tak kunjung menulis puisi betapa merugi perhiasan aneh yang kau sebut hati yang tak pernah jera membangun kesedihan di bawah tenda bumi, tenda bunga yang kita kuliti atas nama …

Continue reading Di Bawah Tenda

Advertisements

Bulan Nampak Lebih Kecil di Kotaku

Di kotaku pintu-pintu setengah terbuka adat peluh yang berpesta di pelupuk mata belum juga punah di bahu kurus trotoar debu lebih deras dari keringat pejalan kaki hujan terbata-bata puisi-puisi yang lahir bersama embun harakiri di penghujung hari di pusat kota terlihat puluhan bencana tetapi bila mata dipicingkan jumlahnya berjuta-juta seperti kuman di sela kuku jemari …

Continue reading Bulan Nampak Lebih Kecil di Kotaku

Kota

Di seberang kota yang buta itu Kudapati beberapa anak-anak bisu Dari kantong-kantong belanjaan supermarket Membisu sesekali terdiam Terdiam sesekali membisu Di seberang kota yang bisu itu Kudapati beberapa pengamen yang tuli Dari dompet-dompet tuan buncit berdasi Mendengar sesekali tuli Tuli sesekali mendengar Di seberang kota yang tuli itu Kudapati beberapa pengemis buta Dari pinggir-pinggir jalanan …

Continue reading Kota

Ayahku Itu Siapa?

Sampai hari ini aku bingung ayahku itu siapa. Semenjak kecil aku sering ditinggal bersama gadis muda di ruang keluarga. Ibu pernah bilang gadis muda itu pengganti ibu selama ibu pergi bekerja. Lalu ayah penggantinya mana? Ibu bilang ayahmu tidak perlu pengganti, kan ayah masih sibuk dengan tidurnya di kamar ibu. Aku selalu bertanya-tanya tentang ayah …

Continue reading Ayahku Itu Siapa?

Tuhan Keduaku

Hari itu aku sangat heran Darah di sekujur tubuhku berceceran Kulihat dunia baru yang berserakan Tetapi kupandang wajah yang penuh pengorbanan Di saat saraf otakku mulai tersesat tanpa arah melaju melewati batas akal sang pencipta Aku malu untuk maju mengangkat dagu, malu untuk menunggu kepastian yang masih terbelenggu Hampir-hampir aku tak tahu jasad siapa yang …

Continue reading Tuhan Keduaku

Kesekian Kaliku

Ribuan bahkan milyaran Kecil, bahkan tersering besar sekalipun Napsu yang menguasai raga hina ini Hanya titik hitam, kala itu Terbalut kian hitam, benda mulia itu Saat ini.. Taubat seolah permainan jenaka Yang bisa kuulangi setelah berbuat Berbuat hal, yang Kau jadikan larangan. Sering sekali dosa setelah taubat ku Sehingga, terus sahaja berputar Ya, seperti permainan …

Continue reading Kesekian Kaliku

Mengukir Tembok Beton

Berpaling dari angan Dengan darah hati menanti Menuruti paksaan karena tersakiti Layaknya bulan menandingi matahari Kelopak mawarpun berguguran Karena awan melawan hujan Bak kertas mematahkan goresan hitam Dengan penuh penyesalan Kabut telah menanti Namun, darah putih datang membasahi pipi Dengan menatap buta Menyadari kesalahan yang membara Kurela… Meretakkan semua yang berlalu Tuk membuang gumpalan penyesalan …

Continue reading Mengukir Tembok Beton

Gelabah Malam

Bumi yang merupa kehidupan profan Seharusnya tidak menjadikan malam pongah dengan menindih siang Begitu juga dengan dua manusia telanjang yang mengupas keduniawian Besar rasanya, seharusnya menghayati alasan penciptaan Perempuan yang yoni dalam rupa lumpang, sabar menjadi sumber kehidupan Disandingkan dengan lelaki yang disangga Tertoteh begitu saja tanpa surat nikah Juga dalam sejarah catatan fana Keduanya, …

Continue reading Gelabah Malam

Terperangkap

kudengar debur jantung berdebar menahan denyar renjana liar yang menawarkan rinai kenikmatan kusadar tatapan mata telah berubah nanar memendam gusar diri yang pandir terbujuk oleh jebakan kesesatan kini aku benar-benar terkapar terbius ranum bibir para lacur yang tak jemu melena khayalan sampai kapan hal ini akan terbiar? sedang jiwaku kian menggelepar terkubang dalam lumpur perangkap …

Continue reading Terperangkap

Malam Panjang Pengampunan

Di kota ini pengampunan itu serupa pengemis jalanan Menggigil bertangkup udara munafik menjengkali malam-malam di musim dingin Wajahnya kotor dijelagai kesinisan Pakaiannya compang-camping disobek kebohongan Oh lupakan saja rasa bersalah!!! Malam masih panjang, dia sedang tidur nyenyak Di pelukan hangat perapian di rumah pengerat berdasi Dimana penyesalan??? Ia duduk di belakang meja sibuk memotong pajak …

Continue reading Malam Panjang Pengampunan