Dalam Diam

Janganlah dulu kau pamit Janganlah dulu kau beranjak Malam waktu baru menyapa, Silahkan masuk katanya. Sunyi masih muda Alun angin masih menari-nari lincah dan kita berdua terduduk di sini di bangku taman di bawah pohon rindang berterangkan hanya sebatang lilin yang terus leleh dimakan waktu saling bertatap dalam diam diselimuti kabut; kabut bianglala Arak-arakan gerimis …

Continue reading Dalam Diam

Advertisements

Rindu Tak Berujung

Desir bayu menyayat hati Menoreh waktu bisikkan rindu Berseloka sama dedaunan kering Menguak rasa terhempas layu Ruang waktu dinding pemisah Pembuncah asa bergelayut sepi Bagai jasad bicara tanpa makna Andai jarak mengerti Satu sisi di ruang rindu Menerka secercah cahaya Menembus relung hati Rindu tak berujung ini Merayu resah, membisu Dalam setitik angan  Namun tiada …

Continue reading Rindu Tak Berujung

00:00 Definisi Cinta

kutelah ragu, kadang  jarum yang menikam di bilik jantung  padahal namanya adalah rindu  telah lama bisu di situ, setiap detaknya  harmoni dan empedu  tak tahu,  dasar tebing mana, atau sekecil kuantum apa  hanya terjadi begitu saja             pada apa yang telah kita lakukan  pada semua yang sering kita bicarakan  pada beberapa simposium  semangat, pengalaman dan …

Continue reading 00:00 Definisi Cinta

Janji Gerimis

Ada gerimis yang kau tinggalkan sebelum aku pergi. Masih kusimpan hingga kini. Jika rindu mulai menggerayang aku segera mengundang mendung. Lalu kau datang membawa pelangi. Jarak telah memagar gerak. Hanya angin yang masih setia mengantar lirik sajak untukmu, sebelum malam kelar. Kupakai jemarimu untuk menuliskannya dan senyum serta sorot matamu sebagai kata. Aku sudah bukan …

Continue reading Janji Gerimis

The Nature Song

I lay my head on the fingers of trees To the wind I feel serene To the sun I hold my dreams In a fresh flesh I hear the birds build its nest O'er lush trees, close to the sky Birds are sacredly free With the colour of spring on its wings Befriend the nature, …

Continue reading The Nature Song

Nestapa Luka Cinta Anak Penyair

Dunia basah menampung air mata seorang penyair Merembesi langit, menetaskan hujan diatas kepala seorang bayi Yang baru lahir di suatu subuh: ruh yang masih rapuh Masa depannya tercipta atas tetesan cerita menantinya hingga tua Setelah kelahiran di atas reruntuhan bangunan sehabis perang, ia berdoa Benar-benar berdoa pada Tuhannya, “Sirnakanlah segala luka!” Hingga besarlah ia: tertawa, …

Continue reading Nestapa Luka Cinta Anak Penyair

Aku Mencintaimu

Aku mencintaimu meski kata-kata belum pintar membuat formasi yang menarik pandang. Tapi segaris rindu di kertas malam akan semakin panjang dan menjadi prasasti yang akan di kunjungi anak cucu. Aku mencintaimu dengan ribuan rintik doa yang tergenang oleh airmata berdarah sampai mengering pada almanakku yang telah pensiun mengisi hari juga telah mengajari bagaimana menyayangi puisi, …

Continue reading Aku Mencintaimu

Dialog Hujan Akhir Bulan

Anginkah yang telah menghempas mimpiku terbang melayang di langit perkampungan? Ataukah bocah-bocah desa Dengan sendu-senda yang jenaka Meramal hujan kapan tiba? Marilah sejenak bertegur sapa, Nona! Meski kita tak pernah jumpa. Jika nanti malam hujan kembali datang Maukah kau ke rumahku? ; di negeri mimpi dengan sejuta kerinduan Kuajak kau jalan-jalan berpayung pelangi --Wahai pemuda …

Continue reading Dialog Hujan Akhir Bulan

Fragmen Pertemuan

1/  demikian angin mengurai kenangan  membawa hikayat tanah dan semesta  pembaringan bagi dedaun yang lelah menjaga  namamu dalam pengasingan 2/  adalah kita yang menjahit masa lalu  tempat bagi segala kebaikan dan kealpaan  mantra bagi kepulangan  binara tahun-tahun kesedihan 3/  hari ini setelah doa ditumpahkan  engkau menepi bersama perahu yang hilang  menemu diri penuh kesadaran  bernaung …

Continue reading Fragmen Pertemuan

Firdaus

Jalanan ini adalah yang dulu kerap kita lalui:  sebagai jalan pergi atau kembali. Pepohonan di tepian, ilalang yang panjang,  reranting, dedaunan. Mereka hanya berganti usia. Persis seperti kita, tetapi mereka tak pernah kemana-mana. Sedang kita, memilih pergi. “Kupilih timur”, katamu. “Ia bintangku. Padanya, aku bertemu bebas. Kau pilihlah arahmu sendiri.” Ujarmu kemudian. “Kutuju utara”, kataku. …

Continue reading Firdaus