Menimang Matahari Rembulan

Hari-hari yang menimang matahari rembulan telah lahir
Dari rahim subuh yang membumbung di ufuk timur
Menoreh celarat merah kekuningan
Melukis batas cakrawala

Hari-hari yang memeluk matahari rembulan mekar di
antara dedaun rimbun
Basah oleh embun yang tak pernah kering
Dari rekam hidup dan penantian hati
Menjelajah hari

Continue reading Menimang Matahari Rembulan

Menerka Pintu-Pintu

Di pelupuk waktu yang hening
dan jejak mata yang asing
kutulis puisi maha
yang tak tertera kata

sebab engkaulah puisi
yang mengisi ruang hujan, angin dan pori-pori dedaun

jejak keterasingan aku terka
lewat garis bibir
yang menerpa sebuah desa

Continue reading Menerka Pintu-Pintu

Madura yang Melaut

Tanah ini bernama ranah garam
Asin di lidahnya, putih di rambutnya
Isi lambung adalah nelayan yang haus ikan-ikan
Kulitnya pasir-pasir kasar dengan terumbu karang
Debur di tubuhnya ialah keringat yang terkumpul
jadi gelombang
Ombak di dadanya mengapit kehidupan yang
menjanjikan masa depan
bahwa bersama badai bukan berarti harus lempar
jangkar-jangkar
bahwa jika tiba kemarau panjang, tak selamanya
hasil tangkapan melimpah besar

Continue reading Madura yang Melaut