Semesta Sunyi

Tak cukup tangis iba tuk tutup nganga luka
Tak butuh cecar kata tuk ungkap duka lara
Karena perpisahan selalu tinggalkan cenderamata
Kesunyian yang meluapluap

Senjamu tlah hadir di tengah derasnya hujan
Lalu kau pergi sisakan bayangan punggung yang kian pudar
Cukup sampai di sini
Aku kan mendiam
Dan memeluk sunyi

Bukanlah apa dirimu yang bergiat di garisgaris hujan lebat
Meneriakiku tuk terus berkejaran waktu
Ah badai masih terus berdatangan
Dan kau sambil terisak layu, meninggalkan kesunyian yang dalam

Jurang gelap tlah tergali lama di dadaku
Kau tak kan bisa menggalinya lebih dalam lagi
Tidak! Kau bahkan tak pernah mencapai dasarnya
Dan dirimu hanya berikan gaung dalam ruang hampa
Menajamkan indera, membutakan rasa
Mewariskan sunyi yang begitu mendera

Maret, 2017

Poetry Prairie Literature Journal #5
Penulis: Ayu Qonita

Zikir Kesunyian

aku bersembunyi di balik kabut baris-baris puisi
zikirku seribu sunyi mengejarmu
dalam gelap ruang semadi
di antara erangan dan jeritanku yang terpendam

aku hanya ingin memahami isyarat kegelapan
yang telah mengiringi langkahku
namun mataku selalu perih setiap melafazkan namamu
adakah yang salah dari penglihatanku yang nanar
dan tumbuh menjadi nyanyian kelakar

musim panas membakar kata-kataku
yang menjadikannya abu dan lelatu
lalu menyeretku ke wilayah tak dikenal
dunia tak terjangkau lidahku
hingga teriakanku lenyap dalam regukan besar waktu
seperti embun yang terserap cahaya pagi

dunia di luar kata-kata
dan nyanyian tak menyuarakan apapun
tapi zikirku terus mengalir padamu
menjenguk setiap puing-puing kesunyian di bukit
kotamu.
menyusuri terowongan-terowongan panjang waktu
yang menelanku hingga tenggorokanku terbakar sunyi

aku memintal lagu sepanjang lorong rahasiamu
untuk kunyalakan dalam jiwa
tanganku meraba ayat-ayat
tapi setiap kunaiki tangga ke langit terjauh
aku selalu ditenggelamkan cahayamu

aku letih menjengkal kesamaranmu
dan zikirku adalah zikir kesunyian

Kediri, 12 Mei 2016

Poetry Prairie Literature Journal #5
Penulis: Aharys Koeartz

Kasidah Kematian

bersama malam aku terus mengayuh sampan
kekekalan
melewati pelayaran demi pelayaran
melampaui pendakian demi pendakian
mengimani sembahyang demi sembahyang

kata-kata mengalir dari setiap desah napas
tahajudku
zikir bibir hanyut
dalam rukuk dan sujudku

mataku buta oleh tangis seratus tahun
darah dan airmata
dalam gairah musim
keheningan fajar lukisanku menggali cahaya
menyulut sumbu waktu warna-warna
yang disemburkan kedalaman batu
dan tarianmu adalah keheningan subuh
yang dipadatkan dekapan rindu membusuk

sungguh ingin kulekatkan gairahku
pada perangkap kesementaraan
seperti adegan-adegan pertobatan
sepanjang dinding kekekalan
mungkin tak akan pernah mengubah arah sunyi
hingga aku kembali menjadi debu
tak perlu cemas pada hari-hari yang menyusut
kematian hanyalah bagian dari waktu

dalam gairah waktu akan kusembahyangkan kematian batu batu

Kediri, 20 Juni 2016
~Aharys Koeartz~

Sisa Perjalanan

Di balik senja,
yang merangkak letih pada punggung langit
Kau mengulum jingga dalam diam
tak disisakan seberkas, sebait, sebaris saja
Untuk kukenang, di malam-malam yang mengemis bintang.

Sepi dan sunyi, menjelma malaikat yang menduduki pundak
Memilihkan pematang, lembah, bukit, dan belukar sebagai jalan mendekati tuju,
               sebidang maya, yang tak akan pernah mengecup nyata.
               Kamu.

Sendiri aku
Menaklukkan sisa perjalanan ini tanpa lampu.
entah itu lilin, api, maupun wajahmu.
Sepanjang mata menautkan pandang,
Hanya ada gelap!
                     terpaksa kupeluk seolah rindu
                     terpaksa kucumbu seolah nafsu
sedangkan ia, diam-diam menghunuskan tusuk, pada relung yang kusebut rusuk.
Sedetik menetes darah, sejalan menggores luka
Malam berubah jadi musim yang haus nyawa,
suram mencipta iklim pembunuh cinta

Dan
di sisa perjalanan ini,
kalah pada cadasnya pertarungan
                      antara dingin dan seikat gulita yang bersandiwara
                      di balik batang pohon
                      patahnya ranting
                      pipihnya daun
                      dan sebutir biji-bijian
                      Hati telah sekarat
mengharap belas kasih dari hewan malam yang terjaga.
Alpa.
Pengembaraan ini, tak akan pernah menemui akhir
Sebab jalanan terlampau sunyi
Dan malam terlampau dengki untuk berbagi arah.

Sebelum pagi menjelang,
Kuseduh lagi mimpi.
Aku, kamu, janji, dan harapan, kembali bercengkrama.
                             rupanya semua baik-baik saja
                             atau aku?
yang terlanjur meregang nyawa. Mati.

Poetry Prairie Literature Journal #5
Penulis: Dwi Fikriyah