Blue

Maybe it is just one of his random notion,
Or the result of his complex contemplation,
When he blurted out his favourite tone out of summer hue’s gradation
Blue is the calmest colour, he said, it is the epitome of a tragic illusion.

Just look at the sky, he continues without any hesitation,
The bluish hue is just another form of deception,
letting us believe that the sky is within our reach, messing with our ideal conception.
His view of the said tint sadly filled with too much contradiction.

Little that he knows that I agree to disagree on his revelation,
As what I see from the hue itself is the reason for my opposition,
Blue reminds me of him, the object of my absolute adoration,
Filling my sleepless nights with memories that are worth to mention.

If only he knows,
maybe he would finally give the said tint its deserving appreciation.

Penulis: Jennifer Jaenata

Dia Dalam Waktu, Musim dan Pertigaan Jalan

Dia, seorang perempuan di pertigaan jalan.
Di hari pertama kumelihat dia tidak begitu jelas
Rabun seperti embun yang menguap di sela-sela pinus di tebing perbukitan
Dalam redupnya awan yang siap menghujani tanah-tanah gersang
Dia yang sendiri menatap kosong sebuah keramaian, antara menunggu dan ditunggu

Dia, seorang perempuan dalam penantian pada pertigaan jalan.
Dia, seorang perempuan memakai hijab di hari kamis.
Dalam senja selalu kutemui dia dalam pertigaan jalan
Dalam gerimis syahdu pun hanya bergeser pada pohon rindang
Sesekali dia menoleh arah barat, menjemukan matahari yang semakin tenggelam
Sesekali dia menoleh pada arloji, meminta waktu dalam derik untuk berhenti

Dia, seorang perempuan dalam kesendirian pada pertigaan jalan.
Dilindungi payung biru saat hujan menghantam november.
Sepatu dan jeansnya telah kuyup digerogoti air pada jalanan
Ancaman langit melalui petir tidak membuat dia bergeming dari tempatnya
Sendirinya tak hangatkan tubuh dalam gerimis yang bertubi-tubi jatuh

Dia, seorang perempuan dalam tanda tanya pada pertigaan jalan.
Melindungi kepala dengan sebuah majalah saat gersang meradang juli.
Rambutnya sedikit bermandikan keringat pada pelipis putihnya
Sesekali dia menutup senyum dalam masker
Sesekali dia menatap debu tanpa senyum

Dia, seorang perempuan pada pertigaan jalan.
Aku telah terlarut dalam waktu untuk selalu menatapnya
Aku telah membeku dalam ruang untuk selalu memperhatikan kegelisahannya
Aku telah terganggu dalam senja untuk menemukan jawaban penantiannya
Waktu itu selasa, sebelum gerimis, awal desember yang tidak begitu cerah.
Aku menghentikan laju kendaraanku, terakhir kuingat aku menjabat tangannya.

Penulis: Youbil Fernando