Do You See What I See?

My love,
do you see what I see?
cloudless night illuminated by the moon
that shine on the beggar kid
who just want a silver spoon

My love,
do you see what I see?
amidst the edifices of banal desire
where money is gain and power is win
there is a man who never had money nor power
since he was born

My love,
do you see what I see?
there’s a couple fighting outside the bar
the woman accuse him of kissing with the waitress
and the man accuse her of fornicating with the bartender
both of them understand that the flame has ceased to exist
and they only want an excuse to begin with

My love,
do you see what I see?
your figure standing in the balcony
hanging your head and lost in thought
you think of many things except me
for I see what you don’t see
the face of love
for someone, not I

Author: Alvin Dharma

Suspirium

Suspirium of impression
Love at the time of occupation
Obviously clearly want to go
But was surprised to see the argo

Suspirium of being curious
Think about how to make a chorus
But don’t have a piano
Can’t play an instrument, oh no

Suspirium of an attempt
Some chats that were rescript
1 minute compared to 47 minutes
Start to be self solicitous

Suspirium of reality
Dusk with scenery of unacceptability
Saw her with some branded clothes
Mirror myself, hypercriticize

Suspirium of dejected
Unreasonable and unwarranted
Do you think loving is easy?
No kidding, it’s a messy

Suspirium of conclusion
Send this when media social is on
Smarting by reason of love
Time can’t be halved

Author: Farhan Yugarpaksi

Pendahuluan

1/ SILIR

Tak bisa lagi diajak berkompromi
Berat, terasa berat melawannya
Hawa dingin menyergap, menyelimuti layaknya kabut di pagi buta

Ketukan detik jam terus berputar
Berputar, berputar semakin cepat
Air mengalir keluar dari mata, mengambang dan jatuh

Suara yang terdengar bagai kereta cepat
Hanya lewat sepintas tanpa disadari
Dengan suara lirih selirih hembusan nafas manusia

2/ GAGAK

Lompat atau loncat
Langkah atau jalan
Diam atau berhenti

Angin dan udara
Berputar dan berbalik
Melihat dan mengamati

Sepasang burung gagak bercinta di siang hari
Di atas genting di kala hujan di awal bulan Februari

3/ PERAYAAN

Pintu gerbang baru dibuka menandakan perjalanan penuh harapan yang dinanti-nantikan selama ini telah tiba dan berada di depan mata. Hingar bingar, riuh gebyar perayaan meresmikan babak baru dari kisah panjang yang akan dilalui. Semua bergembira, terharu dan tertawa tanpa sadar.

Namun dia, masih tak mengerti apa yang terjadi, apa yang menyebabkan ini semua, hanya terpana dengan tatapan heran serta senyum lucu.

Tak terasa musim telah berganti, zaman telah terlewati. Dengan setapak demi setapak langkahnya, jejak-jejak yang ditinggalkannya menjadi tempat tumbuh bunga dan duri.

Penulis: Olia Girindra Sakti

Gelora

Dalam karung itu matahari ia pikul, ada juga jumawa yang sengaja ia jinjing tinggi tinggi. Lalu ketika hujan tumpah, dan menguyubkannya. Ia masih saja berkisah “Matahari ini kan tetap merajai semesta”

Ia yang buta dengan benderang obor di tangannya. Dihadapnya, sumbu peletup segala dermaga dengan puluhan drum berisi rum. Satu ledakan mampuskan beberapa anak kecoa yang sembunyi antara malam dan remang.

Segala tentang isi kepala ia puisikan. Sedang dirinya masih saja tentang purba. Adakalanya pintu goa dibuka sekali dua. Dan benderang masuk lewat celacelanya.

Dalam karung matahari itu meronta menuntut senja tanpa dirinya. Tanpa burungburung dan gemericik ombak. Sedang seluruh isi dunia telah habis dimakan apinya.

Lumajang, 28 Desember 2018

Penulis: Wildan Ismail

Kasidah Air Mata

;Teruntuk Neng Ozara

Selamat malam luka, selamat hijrah ke hatiku
Apalagi yang semestinya hendak kututupi berkali-kali pada sepi
Bilamana sekuntum mawar di tubuhku, perlahan gugur
Mengering dedaunannya, sebab penindasan kemarau
Tak henti-hentinya kau kirim dari senyummu
Bahkan, seratus duri-durinya
Pasrah menancap di curam dadaku.

Terimakasih luka, perih yang kau wasiatkan padaku
Telah sempurna menjadi riuh dan debur lautan
Lebih pasang dari riak maritim, menghempas segudang harapan
Serta memecahkan jembatan panjang di otakku.

Sebelum waktu makin berlalu
Aku berharap padamu
Hargailah perasaanku
Sebagaimana kau mengerti perasaan mu sendiri.

Ozara, ini kali aku bersaksi
Bahwa semenjak mencintaimu
Aku lupa cara hidup yang sebenarnya.

Ozara, harus dengan apa pula kutatap langit di dadamu
Manakala sesal mendung di mataku
Menjelma kemarau paling ganas di kepala.

Ozara, apakah aku harus ingkar pada sunyi
Biar tetas dari ayat-ayat air mata
Mencipta sungai dangkal di matamu
Agar segalanya bisa kau larungkan
Pada resah yang paling rekah di ceruk-ceruk jiwa.

Ozara, aku sempat ingin berlari dari hikayat
Sebab gurindam kata-kataku
Semakin ranggas tak lagi ganas diksi-diksinya.

Ozara, mungkin begini saja,
Jalan terbaik di antara kita
Adalah menjauh paling sempurna.
Tapi, ada kemungkinan lain
Aku terlalu yatim untuk mencintaimu
Sebab ayah dari rasaku
Telah meninggal paling dahulu.

Aku mohon maaf, Ozara
Jika suatu saat, aku pamit meninggalkanmu
Lalu, kuserahkan kado kecil untukmu
Sebagai pemberian terakhir kali dan selama-lamanya.
Tetapi sebelum itu, aku titip sebotol darah padamu
Mungkin engkau akan menyimpan seribu tanda tanya tentang darah itu?

Sebelum kau tanya, Aku jawab paling dahulu:
“darah itu akan menjadi saksi, bahwa aku pernah berjuang mencintaimu,
meski perihal kegagalan yang sempurna kucapai”.

Maka, cukup kuterjemahkan sekarang
Bahwa hakikat musim yang bertahun-tahun kugenggam
Adalah kegagalan mencipta hujan di tubuhmu.

Annuqayah, 2019

Penulis: Firmansyah Evangelia

Hari-Hari Nestapa

pohon seribu satu malam itu
dipeluk cahaya kamar kita
kudengar ia merintih

dari rimbunan hari-hari lalu
kerap ia menatap nun ke langit
gulung-bergulung awan-gemawan
mengajari ia mendekap rahasia

di dalam kamar
seorang gadis legam
memijaki bayang-bayang
wajahnya hening
tetapi pikirannya gemuruh angin

daunan itu semakin menguning
sebentar lagi bakal terpelanting
menyusur udara
lalu melepas lelah di rebah tanah
dan rahasia-rahasia membawanya
hingga ke surga

gadis itu merunduk
matanya berembun sesal
matahari di lemarinya
membias hingga ke jalan ini

(aku mendapati jalanan
pelan-pelan menjadi basah)

LK, 15 Maret 2019

Penulis: Ibna Asnawi

Senandung Daun

seperti kupu-kupu lain
kau senang terbang ke tempat yang kau ingin
membiarkan hijau tubuhmu disaksikan
dahan-dahan yang merindukan sentuhan
sementara beberapa ilalang kerap membayangkan
suatu saat tubuhnya senantiasa kekar
lalu merayumu tuk singgah sebentar

alkisah, semasa menjadi ulat
kau sering mencumbu tubuhku hingga sekarat
bahkan, telah kuberikan seluruhnya padamu
walau tak pernah kutahu
seperti apa kelak warna sayapmu

maka, sebagai makhluk yang membantumu terbang
menunggumu seperti akar pepohonan yang lapar
manakala yang kau tinggalkan hanya serupa cangkang
yang kuanggap sebagai kenangan

esok, lusa dan seterusnya
adalah ketabahanku pada reranting
belajar sabar bila sudah menguning

bahwa, hari-hariku membesarkanmu
hanya untuk melenyapkanku

membesarkanmu
melenyapkanku.

Annuqayah, 9 Juli 2019 M

Penulis: M. Syamilul Hikam

Nyanyian Kesedihan

(Peristiwa Tragis)

aku membayangkan betapa hari ke hari berikutnya begitu dingin
bukan sebab ingin yang melayang-layang di pikiran
tetapi, keputusan yang tegas dan pas
di bulan Agustus

aku nikmati haus dan lapar
dengan waktu yang makin menghempas
di dada seorang Ibu
yang melahirkan, yang merawat, dan membesarkanku

aku tahan lapar
aku menahan memar
sampai pada batas

Darmakradenan, Agustus 2018

Penulis: Yanwi Mudrikah

Kembali ke Rumah Cahaya

bukan gadis yang kau kejar
apalagi rasa lapar
tetapi,
kau kembali ke rumah cahaya
hingga menyala
seluruh tubuh

ruh-mu menyala
ke lubuk
ke lamuk
tak ada kata ‘mengamuk’

kembalilah para pencinta
kepada cahaya

lenyaplah
dari huru-hara dunia
dan prahara
di deretan jarum
dan benang dunia

kembalilah ke rumah cahaya

Darmakradenan, 2018

Penulis: Yanwi Mudrikah

Above The Nicobar

Out in the heaven so blue
swirls the silvering clouds,
with the edges fly, and monsoon dies,
men challenged the storm, and with thunder crushed.

What violence, said the men,
could rattle the canopy and
tear the fiery rays asunder?
or quisle the dying gold of Her grandiose,
or maul the sun till ocean’s bleed.

And underneath, the ocean foams and twirls,
with Gods and Goddesses from the river’s rage.
All men, women in silk and hued zest sing
“be calm, sea - the ashes of my love sleep therein!”

Underneath, the devil and Poseidon are chanting
lullaby and haunting serenade
to bid the Nicobar coast a sweet dream.

Sea of turmoil, will you speak
the hour of my death?
until the restful temper of eve
claims Nicobar an Eden

Author: Sarita Diang