Karena Waktu, Aku Bisa Mengingat


Karena waktu, aku bisa mengingat:
Semula hanya ingatan yang sering bermain-main sendiri di kepala. Menanyakan kekasih juga pisau untuk membuat luka. Luka yang diyakini sebagai penghilang kekanak-kanakan. Mengubah tangis jadi suatu kegembiraan yang tanpa dendam. Prasangka seringkali dibenturkan pada bayang-bayang yang pahit. Membentuk penanggalan warna merah di halaman, di jalan, di alun-alun sampai harus membingkai wajah dengan beragam rupa.

Karena waktu, aku bisa mengingat:
Menceritakan lelucon kepada yang selalu ingin tahu. Meski terkadang ada kalimat yang tak sempurna dari keinginan. Sebagaimana harus ditanggung sendiri atas segala yang tampak di depan ataupun di belakang. Ketakutan memang kerap menghadiri impian. Remang-remang di dalam kehendak mulai bertanya. Apa dan kepada siapa harus dititipkan sehimpun cita-cita untuk menjadi. Mengingat usia memadati kelamin yang tak berhenti membesar.

Karena waktu, aku bisa mengingat:
Meletakkan kenakalan pada lemari gantung. Tangan-tangan berkejaran dari saku ke dompet, dari dompet ke saku. Meskipun tidak ada simpanan untuk satu hari yang akan datang. Kaki mengekor pada ayam kampung yang tiap hari bangun subuh. Cuma mencari tetanda dengan menengok ke luar pintu. Sepatu, celana, baju dan kopiah tersedia serupa hidangan. Lambat laun muncul pesan-pesan, doa-doa agar terhindar dari iri dan dengki juga keselamatan sampai tujuan.

Karena waktu, aku bisa mengingat:
Hanya sebagian saja

Surabaya, 2018

Penulis: Achmad Lubaidillah


Achmad Lubaidillah. Lahir di Sumenep. Menulis puisi, catatan dan skrip pertunjukan teater. Mahasiswa Seni Teater Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya. Bergiat di Komunitas Tikar Merah Surabaya. Karya puisinya yang telah terbit secara komunal antara lain: Kata yang Terlempar ( Mangsen, 2010), Teriak Penyair (Mangsen, 2011), Artate (LSC, 2012), Ngaji Laut Ngaji Kembang Seteguk Air Sungai Pagi (Tikar, 2015), Ketam Ladam Rumah Ingatan (Lembaga Seni dan Sastra Reboeng, 2016), Gelombang Puisi Maritim (Dewan Kesenian Banten, 2016), Menyaksikan Lakon Kota Kecil (Sahur Sastra#2 Surabaya, 2016), Puisi Peduli Hutan (Tuas Media Publisher, 2016), Kartograf (Dewan Kesenian Jawa Timur, 2016), Tanah Bandungan (FAM Publishing, 2017) dan Bangkalan Literary Festival (Delima, 2019). Tinggal di Asembagus-Situbondo Jawa Timur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s