Laut Belit

Uap uap meluap ke udara
Memecah amis darat
Mengirimkannya pada surya
Yang sedang bermanja-manja
Sambil menikmati hidangan laut

Air-air bercakap sana-sini
Mencari insang yang berenang
Atau karang-karang yang berlubang
Ibu air kerepotan mengejar anaknya
Yang masih kecil dan sulit diatur

Tangan-tangan berkaret tiba
Ikan ikan kepahitan
Karang-karang menerima kenyataan pahit
Matahari melirik sedikit
Tapi belum sempat mampir dalam masalah

Dasar laut, dasar harus bersuara
Bercerita pada surya yang adil sepertinya
Bahwa dasar laut harus tetap gelap
Sehingga akan tenang di dalam sana
Tanpa ada yang mengusik karena ketakutan.

~Muhammad Ridlo~

Advertisements

Pesona Laut Kita, Nusantara

Pulau-pulau ini berdiam diri
Mengisyaratkan kedekatan
Mengisyaratkan rindu pada hujan
Yang menyemai setiap bulan

Garis laut yang jauh tak terbatas
Berdetak tenang
Mendorong setiap perahu dari layar nelayan
Hanya berteman dengan angin dan senja

Rumput laut dan karang terpaku pada dasar samudra
Menggoyangkan nyiur hijau di dasar samudra
Tanpa angin dan hanya dengan doa
Mereka melahap gelembung-gelembung pada ikan tuna

Surakarta, 22 Oktober 2016
~Muhammad Lutfi~

Senyuman Manis Si Laut Biru

Anganku terdampar ke seluk-beluk keindahan
merangkai biru nan luas mata memandang
Mengarungi luas-dalamnya kata yang tersimpan
mencoba mengelilingi tiap sudut arti maknanya
mencari sebuah jalan di persimpangan penuh misteri
Untuk pecahkan rahasia mutiara tersembunyi

Suara ombak pemecah karang memangggil namaku
Mengajakku hadir menenmani indahnya rahasia
Bersamanya coba habiskan tiap detik waktu
Menyusuri kemegahan cipta tangan Tuhan
Elok di mata nan jatuh jadi pujaan permata
Bilik lain dari titik keindahan dunia

Sambutan manis menyapaku dalam birunya
Berikan aku pencerahan lain yang menyatu
Telusuri terumbu karang yang menawan nan eksotis
Jelajahi luas hamparan biru pemanja mata
Rumput laut mengayun menari menyambutku
Kerang-kerang cantik menghiasi suasana
Bintang laut bersantai menikmati hari ini

Kepiting laut mencoba menyapa si kuda laut
Barisan penyu siap pula berlari mengintari samudera
Ubur-ubur melayang di laut seraya menari
Kawanan ikan badut melemparkan tawa candanya
Lumba-lumba terbang raih arti kebebasan

Cinta dan rasa berpadu dalam harmoni
Yang dirahasiakan agar utuh lestari maknanya
Dalamnya laut biru bukan pembelenggu rasa takut
Kalah rasa itu dengan mahakarya yang kuasa
Diciptakan untuk suatu titik keindahan
Sebagai permata mutiara yang tersembunyi
Pantaslah matahari senja tenggelam dipeluknya
Hilang dalam kehangatan biru yang ia berikan
Si penyimpan berjuta rahasia keindahan dunia
Terpaut nyata kemegahan yang tercipta dari cinta
Titip rinduku pada pesona kemegahanmu
“Senyuman manis si laut biru”

~Fetra Ardianto~

Havana, Maafkan Aku Berpaling

Gadis bergaun putih itu menyusuri reruntuhan megalitikum Havana
Rambut panjangnya yang tergerai
menari indah di balik puing-puing tua
Menyelami kamar-kamar peradaban
Sembari memejamkan mata

Kilauan cahaya mentari Bone
menembus ketenangan laut Olele
Gadis kecil tersenyum dalam belaian
ikan-ikan yang berdansa
Disaksikan koral-koral Petrosia Lignosa sang Salvador Dali
Surga tersembunyi penuh kenangan

Tangan lelaki paruh baya menariknya perlahan
Membawanya naik ke tepian
Sebelum lelap teramat dalam
Dalam pelukan cinta sang laut lestari

Mata gadis bergaun putih itu terbuka
Kembali menatap indah Havana
Perlahan menjauh dengan mata berkaca
Dalam buaian kenangan akan kampung halaman

Laut Olele,
Tunggu ia akan segera pulang
Kembali bersenda gurau dengan jutaan biota
Semoga lestari tetap terjaga

~Euis Fajriyah~

Ketenangan Dari Dunia Laut

Laut,
Tujuh puluh satu persen indah kehidupan
di permukaan bumi
Tempat pemilik insang-insang hidup
Memberi manfaat bagi yang berfikir

Engkaulah objek permata bagiku
Indah menjuntai ke tepi pantai
Tempat manja mentari bangun
Juga tempat mentari pulang ke peradaban

Kulihat, gurita-gurita bermain dengan tentakelnya
merasa seakan ia tak pernah tersaji di piring
Hiu berenang kilat merasa seakan siripnya ‘kan menua bersamanya
para lumba berlomba-lomba meloncat tinggi seakan
ia pasti akan mengitari seluruh samudera
Terlihat, para nelayan dan pemburu mempersiapkan jaring dan tombak

Duniamu melahirkan mutiara yang sekarang di etalase
Aliran angin di atasmu membuat keluarga nelayan makan
Aliran air di dirimu,
mendinamikakan oksigen dan kehidupan
Itulah takdir Tuhan

Dulu di sini, ada karang dan tumbuhan bermekaran
Dulu di sini ikan berenang tanpa sesak
Dulu di sini butir pantai permata
Dulu di sini banyak tukik gontai

Walaupun dulu dan sekarang berbeda
Tetap terlihat cantik bagiku
Di dirimulah terdapat ketenangan bila penat
Ombak merangrai
Spesies air bertelur

~Eka Pratiwi~

Belajar Menyelam

Aku ingin menjadi duyung
Terhempas dan bebas oleh tarian gelombang
Terlelap dalam belaian hidrostatis
Turut membiru dalam lautan biru cemerlang
Insang dan ekor menjadikanku bukan manusia
Aku rindu menjadi terumbu karang
Yang indah tanpa bersolek
Berwarna tanpa perlu memulas gincu
Menjadi jantung bagi kehidupan sarat
Dicintai bagai kekasih yang jarang bertemu
Aku mau menjadi penyu
Ia adalah saraf yang memijarkan rasa
Melayang di atas kemolekan
Tanpa getar dan gentar
Samudera menjadi miliknya sendiri
Aku adalah penyelam pemula
Laut dalam adalah pantangan
Koral dan ikan adalah anugerah
Jangan tarik aku ke atas dan lupakan saja
Aku sudah hilang dalam partikel air asin

~Dyah Sekar Purnama Ratri~

Surga Biru

Surga biru
Niscaya tak mampu ditiru
Siklus sempurna Sang Agung
Memulai pagi dari tepi
Lamun menikmati santapan mentari
Melambai menenangkan arus
Menyejukkan karang
Mengundang pelangi lautan

Warna warni tubuh mungil berkeliaran
Bermain dalam lekukan tubuh karang
Capit nakal merobek dasar
Terbenam aman dari raksasa lapar
Pertunjukan schooling tuna
Ratusan berpadu menari indah
Berputar meliuk lentur seirama
Anggun lagi mempesona

Lumba lumba menyapa menyembur manja
Cium aroma nikmat mengangkasa
Tak ada celah bagi lapar
Mungkin miskin berdosa
Surga biru
Angin meninggikan ombak
Mengantar sampan sang paruh baya
Mencari nafas bertaruh nyawa

Riuh kepakan ekor menjadi tanda
Akan kembali dalam rupa bangga
Sadar esok tak lagi serupa
Sebentar keringat menjadi lamunan
Beton mengeluarkan asap ego penguasa
Meludahi alam menyiksa nelayan
Sejahtera hanya sampai mimpi
Kaya tak kunjung jadi

Dengarlah jeritan sakit
Seperti kulit tertusuk duri
Tangisan para penghuni
Mengharap penguasa berhati
Sepanjang hari hanya sembunyi
Karang saja terlihat tegar
Semua ingin membenamkan diri
Pelangi rupanya hampir mati

Seruan kami
Bahagialah bersama
Tanpa melupakan etika
Wahai penguasa nan manusia
Kami rindu para pecinta

~Asti Iryanti Putri~

Lautan Teka-Teki

Menyelam sedalam yang aku bisa
Bak memahami teka-teki
Beribu warna menyayat pandanganku
Akulah ahli selam terkemuka
Ilmuku menjawab jutaan pertanyaan tentang lautan

Samudera demi samudera sudah aku gapai
Hingga suatu hari
Aku terenyuh
Mencari akal sehat
Membaca lembar teori
Sebuah dinding membran
Tak bisa kucerna

Ini bagai khayalan
Kehidupan bermil-mil bawah laut
Laksana mimpi, tak pernah kusaksikan

Hingga aku menyadari
Ilmuku seperti lantunan lirik tanpa warna musik apapun
Tak bermakna

Di bawah aliran ada aliran tersembunyi
Pertemuan dua hal berlawanan
Asin dan tawar menjalin dinding bersama
Lautan memang dalam, tak seperti diriku
Tak seperti apa yang kutahu

Ini seperti aku menemukan
Segar di dalam garam

Ini sebuah naungan Tuhan
Membawaku sedalam ini
Mencari pemahaman
Hingga menuju jawaban
Hingga aku mengimani firman Tuhan itu
Menakjubkan

Bagaimana keabadian firman-Nya terjaga
Hingga detaknya bisa menempuh jawaban di abadku
Di mana di abad penyampai
Tidak secanggih itu
Hingga aku memahami
Lautan memiliki teka-teki sendiri
Dalam membawaku kepada Sang Agung

~Aryakala~


*Puisi ini terinspirasi dari kisah nyata seorang oceanografer dan ahli selam, Mr. Jacques Yves Costeau yang memeluk Islam ketika berhasil menemukan sebuah sungai di dasar lautan. Ia mencari jawaban atas fenomena tersebut hingga ia dipertemukan oleh seorang profesor muslim yang menjelaskan fenomena tersebut dengan menggunakan surat Ar-Rahman ayat 22 dan surat Al-Furqon ayat 53.

Kehidupan Di Kedalaman Yang Asin

pulang dari laut
rambut pirangmu memaduku
di bawah kuntum bulan
di tengah gelombang amuk badai
terbentang membungkus lambung bumi
tubuh kerontangmu merapaliku
dimana sejauh mata berlayar

ikan-ikan
-tetasi, cumi-cumi, bandeng
cakalang, gabus, kenduy, kakap-
bertasbih kepada Tuhan
oo….sang adikarya jagad
kepada laut kukabarkan
:ikan punya banyak lakon dalam hidup
seperti adalah satu-satunya alasan
mereka harus mati
ketika terhempas ganas gelombang
tubuh gelisah pasrah
di tengah-tengah pasir keterasingan
terkadang ikan-ikan menantang gelombang
tak peduli kemanakah
seling-siul badai menerompanya

tak peduli ia harus mati
di perut penikmatnya
ketika lapar mengendap diam-diam
di sela-sela kebiruan lautmu

oo……sang maha lestari
lautmu yang gagah
ada pesona yang terbingkai keabadian
ketika ikan-ikan kecil memutar-mutar
di antara rerimbun karang
atau ikan terbesar pun
melompat bersama mencabik langit
di antara reruntuk imaji dan andai

kepada Tuhan aku nisbatkan
;aku jatuh cinta pada lautmu

aku ingin seperti mereka
bebas sebagaimana jiwanya
di pojok april
masih dalam sejauh mata berlayar
kutemukan nama ikan-ikan yang ramai
-tetasi, cumi-cumi, bandeng
cakalang, gabus, kenduy, kakap-
masih menyibukkan diri
laut tak pernah sepi
hidup tak pernah berhenti
berganti sejalan skenario Tuhan hakiki

aku ingin seperti mereka
bergumul terkapai-kapai
mengapung-ngapung menuju jazirah mimpi
di tengah lautan
di tengah buritan angin payau yang entah
keindahan tetap saja klasik
kehidupan tetap saja punya ritus waktu
tempat ikan-ikan dihidupi oleh cinta-Mu
cinta memang jamuan kudus bagi-Mu
yang paling tinggi
oo…pangeran abtina
segala hidup di laut
di bumi
berserah diri di bawah lutut agung-Mu

~Ahmad el-Rama~

Enigma Bawah Samudera

Fajar menyingsing,
penghuni laut bangun dari pertapaan
Gelombang bersuar mengusir keasingan
Pasir pantai yang tersungkur jauh menerjang
Terumbu karang persembunyian ikan-ikan dan hewan transparan
Kepiting krustasea dan biota lainnya berburu sarapan
Tarian dan sejenis musik, ganggang menari-nari
deburan ombak mengiringi

Anemon tak mau kalah
serta alga dengan kelentikan khasnya
Sungguh eksotis yang kepagian,
menjelma istana bawah laut
Estetika sempurna di bawah samudera,
antara pegunungan lembah tua

Berlarian para bayi dalam gendongan induknya,
keberuntungan menyertai kalian
Rantai makanan tersaji kompleks melenyapkan rasa khawatir
Mereka punya dunia sendiri, mereka punya cara sendiri
Tak perlu caci maki apalagi senjata api

Sungguh…
Tak perlu kau usik wahai tangan-tangan serigala berbulu domba
Kegaranganmu cukup di darat saja
Dunia bawah laut tempat penghuni para dewa
Titik keseimbangan ada di dalamnya

~Andromeda der Rosen~