Ballade No.1, Op.23 In G Minor

Kita berkelana dengan lembut
Angin tipis menari-nari, usir saya bising dan raung itu kekasih
Tuts yang pasi berdenting, udara sekitar mengerut
Kita berkenalan dengan lembut dan malam makin jauh
Barangkali sense of humor membayang. Meredam dalam jari-jari kita
Makin bengis merangkak di telinga
Ada sesuatu yang gaib, ada sesuatu yang raib
Matahari menerobos dinding,
udara berbaring sembari mengatur nafasnya
Aku tersipu
Bibirmu pualam yang licin, dingin
Seperti komposisi yang naik turun ini, lembab terpilin

“And never saw that dearly loved man again” memeluk tubuhku erat-erat
“Kenapa gelisah?” tanyamu
Kusadari kilat-kilat itu terus meruncing
Gemerincing
Ngilu sampai ujung dasar jiwaku


2020


Hisyam Billya. Mahasiswa filsafat UIN Sunan Kalijaga.