Mekarnya Kehidupan

Menghirup bau biru
Mengalirkan ke dalam jiwa
Merengkuh menguasai pikiran
Damai memeluk hati
Ketika rasakan lagi
Semilir alam membelai
Sejuknya hapuskan beban
Beratnya terkubur
Nyanyian nina bobo kekalutan
Seluruh semesta tersapu
Mata yang tak henti merayu
Mengagumi dan memuji
Lukisan nyata mahakarya berharga
Lalu kuterbaring
Rasakan damai yang tercipta
Syukur penuh rasa
Di sini aku berada
Di sini mekarnya kehidupan

Magetan, 25 Agustus 2015

————————————————————————-
Kent Pinaka Pinasti Ratu. Lahir di Magetan. Berasal dari Kelurahan Mranggen Maospati Magetan. Bersekolah di Universitas Sebelas
Maret Surakarta jurusan Agroteknologi dan sekarang tinggal di Surakarta. Menurut saya, puisi adalah kalimat hati terdalam.

Advertisements

Mekarnya Kehidupan

Padahal,
pagi masih basah pada kuncup-kuncup angin
demikian pula dingin,
semarak di hutan cengkeh teduh di puncak Gunung Gamalama
pada daun yang bergurau embun
pikiranku mendaki sepagi ini
pada batas pengetahuan geografis
memandang gugusan pulau berwibawa cakrawala
kadang hanya butuh meluangkan sedikit pikiran
menghargai ayam mematok bintang
lalu matahari sebentar lagi gemilang
atau membuka sedikit tirai mengusir ketakutan
yang berjejer di media sosial
menemukan rona langit perlahan membiru

Continue reading Mekarnya Kehidupan

Tanda

Kubaca tanda yang dikiamatkan waktu
Dalam labirin sunyi berdetak ia seperti nadi
Rekah menjadi serakan dengus napas
Berkelindan debu yang menjadi lumpur
:sisa genangan hujan yang turun, kemarin

Adalah sapa yang lenyap berbuah bisu
Mengurungkan lidah dalam katup bibir
Perintah hati laksana titah baginda raja
Bahasa tubuh sudah cukup sebagai penanda
:mengenalmu sebatas kenangan semata

Continue reading Tanda

Pergantian

keluar dari lubang penuh ketakutan
jeritan menemani kala kita diberikan kekerasan
pelajaran awal: hidup tidak sehalus yang kita pikirkan

pelukan datang
kasih sayang menyusul
canda tawa berhias ditengah ruangan yang tadinya
kelam
pelajaran selanjutnya: akan ada pahlawan yang
membuat kita tenang

Continue reading Pergantian

Lambung Sunyi

–elegi kloset dan aborsi

Lenganku pucuk rebung dari rumpun bambu nenek moyang. Jemariku mekar mengelopak bunga dipoles sepasang mata buta dan desir darah ibu.

Wajahku. O, wajahku lipatan muara terpasang dari ayah yang mencari dan ibu yang menanti disuguhi temaram lampu lalu kunang-kunang melayang.

Aku tenggelam di buih api yang terus membara tidak mau mati. Tuhan menurunkanku ke bumi dari seluncuran ibu yang curam penuh tikungan di setiap hela nafasnya. Jeritku merapal tabu dan merobek batin dari rantai waktu. Menguras rapal do’a di kolam Tuhan. Tidak ada yang mengintip di balik jendela atau bertasbih pada ruh telah bernyawa ini.

Continue reading Lambung Sunyi

Bunga di Setiap Hati Manusia

Tak ada yang berbeda ketika kehidupan berjalan
Terkejar waktu dan melakukan banyak hal yang kita mau
Mengakhiri malam dengan letih yang tidak sepadan
Dan melalui malam dengan tidur terlelap oleh waktu
Tidak ada yang spesial dan semua terlihat membosankan
Manusia hidup dengan semua pilihannya
dan berakhir semu

Continue reading Bunga di Setiap Hati Manusia

Pelan-Pelan Rindu Tumbuh Sebagai Kunang-Kunang

Pelan pelan aku tumbuh sebagai kunang-kunang
Isyarat musim tak mudah disangkal, Bi
sebab hujan begitu sibuk bertiup di telingamu
Menjatuhkan bertubi-tubi bisikan iblis
juga syaiton nirojiim

Dingin, Bi
Biarkan dedaunan berpelukan pada tanah
Sebab lengan kerinduan tak cukup lincah
menghangatkan kita
Seduh saja puisimu pada setangkai embun
yang mampir di kaca
Kaca yang hampir saja dipecah sekuncup cerita
Tentang penyair yang nyaris kehilangan metafora
Lalu sajaknya laksana lelaki tua,
yang kepalanya di penuhi berlapang-lapang nisan
di tiap sisinya

Continue reading Pelan-Pelan Rindu Tumbuh Sebagai Kunang-Kunang

Destinasi Hidup

Hawa di lereng gamping mencurah hening
Sepoi yang hampa
Menyejuk atma yang mengalir di kelok kodrat
Menepi di tepi resah, serah, kalah
Taburilah bangkai itu dengan dedoa
Di antara hidup dan mati ‘kan ada jalan meretas
Kembali…
Dalam reinkarnasi
Serak belulang bergelut lagi di rahim ibu
Kompromi dengan gumpal-gumpal daging dan darah

Continue reading Destinasi Hidup

Cycle

We came in this world, alone
Looking with own eyes
Hearing with both ears
Speaking through one’s lips

We learn about world, together
Cared by parents
Laughing with brothers
Sharing with sister

We enjoy the world, with partners
Spending times with friends
Crying loud with comrades
Fooling around with mates

Continue reading Cycle

Menimang Matahari Rembulan

Hari-hari yang menimang matahari rembulan telah lahir
Dari rahim subuh yang membumbung di ufuk timur
Menoreh celarat merah kekuningan
Melukis batas cakrawala

Hari-hari yang memeluk matahari rembulan mekar di
antara dedaun rimbun
Basah oleh embun yang tak pernah kering
Dari rekam hidup dan penantian hati
Menjelajah hari

Continue reading Menimang Matahari Rembulan