Di Bawah Langit Agustus

Mari bicarakan rindu (lagi)
Yang datang secara tiba-tiba pun tanpa aba-aba
Bukan salah siapa, hanya saja hadirnya memang nyata
Walau tanpa terka
Ada, di waktu menikmati pesona malam-Nya
Pada rasi bintang yang samar di antara rasa yang menguat 

Lalu kubiarkan berhamburan di pelataran takdir,
menjelma menjadi sebuah kata berwujud kepastian

Maka, tak perlu lagi kutanya kabarmu pada-Nya
Sebab di langit kerinduan itu aku tahu, bahwa harap itu perlahan kian pudar tergerus waktu

Seperti halnya cahaya dari konstelasi yang mengisi langit malam ini

Karena kita,
adalah dua beda yang tengah mencari arah

Karena kita,
adalah dua yang saling menunggu pada genggaman takdir


Under August Sky

Let’s talk about longing (again)
Which come so suddenly without a cue
No one’s fault, it’s just that its presence is real
Though without a guess
There, in the time to enjoy the charm of His night
In the faint constellations between a stronger feeling

Then I let it bursts in the court of destiny,
transforms into a tangible word of certainty
So, I need not to ask about you to Him
Because in that sky of longing I know
that hope is slowly fading, erodes in time

Just as the light of the constellations that fills the sky tonight

Because we,
are two differences that seek our direction

Because we,
are two that await on the grip of destiny

©Putri Adhitya

Cahaya Sirius Si Perangkai Canis Mayor

Berjuta terang menghiasi gelap gulita
Tak peduli akan takut pada malam
Menghapus kian ribu mimpi buruk
Merobek penuh ragu dalam sunyi
Mencoba jauh lihat wajah langit
Mengagumi kemegahan ciptaan Tuhan

Gugusan bintang menyapu sepi           Membangun jalinan arti rasi
Ditemani jutaan rangkai bintang         Mengizinkan anganku melayang
Tampak pancaran sinar paling terang
Mencoba memanggil suatu tanya

Siapa bintang paling terang itu?
Seolah menyambut pula memanggilku
ia ambil alih sorot pandanganku
Menatap langit gelap menuju arahnya

Kutanya pada segenap bintang…
siapakah dirinya itu?
Bertanya pada sang rembulan
Siapakah cahaya penerang itu?
Mencoba tuntaskan segala kata tanya

Lalu bintang berikan jalannya
Pada rasi canis mayor ia tinggal
Mencoba cari siapa namanya
Sang perangkai canis mayor

Kepadamu gelap kubertanya
Penuh terang yang jauh kugapai
Mencoba hiasi malamku nan sepi
Sirius sang perangkai

Tak ingin malam ini laju
Merapuh lalu usai
Ingin terus memandangimu
Tak penat menatap wajah langit
Cahayamu menggetarkan rongga hati
Kepadamu sirius si perangkai canis mayor

Curup, 7 Agustus 2016


Sirius Light The Canis Major’s Designer

Millions of light adorn total darkness
No matter how scared at night
Erase thousands nightmares
Ripping doubtfully in silence
Try to see the face of sky from a distance
Adore His grandeur divine creations

The stars’ clusters sweep this silence
Build the tangles of constellations
Accompanied by a million truss of stars
Allow my thoughts to wander
I see the most bright light
Trying to call a wonder

Who is that most bright star?
As if it greets me and call
It takes over my sight
Staring at the dark sky toward the star

I ask the stars, who it was?
I ask the moon
Who is that torch of light?
Trying to complete all the wonders

Then stars open their way
To Canis Major it lives
I try to seek its name
The Canis Major’s designer

To darkness I ask
So bright that’s so far
Trying to decorate my hollow night
Sirius the coupling

I don’t want this night to run
Fragile then done
I want to look through at you
Staring the face of sky
Your light thrills the cavities of heart
To you Sirius, the Canis Major’s designer

Curup, August 7th 2016

©Fetra Ardianto

Quintet untuk Langit Malam

Langit malam
Selalu kaulah sesuatu yang menarik
Tertaburi mereka yang selalu apik
Di awal senja dengan bintik-bintik
Di tengah gelap tampak laiknya manik-manik

Langit malam
Mereka adalah bagian dari dirimu
Tak terhitung jumlah berapa jutaribu
Menempelkan diri bersama keelokan paraupanmu
Merekalah rasi bintang yang setia nan syahdu

Langit malam
Berekor binatang, gegunung, dan, secuil hamba
Di bawah dekapan yang merasuk nyata
Serta rajutan bebintang tanpa ada benang sutera
Bersaksi bersamamu untuk memuja-Nya

Pemalang, 6 Agustus 2016


Quintet To The Night Sky

Night sky
Always you were something 
Sowed by their beauty
At the front of dusk with spots
Amongst the dark sparkling like beads

Night sky
They are a part of you
Countless how many thousandbillions of them
Pledged themselves to your elegance 
They are the most loyal, serene constellations

Night sky
Beast-tailed, mountains-tailed, and, a piece of me
Under a true pervasive embracement
Knitting stars without silk threads
To make an oath with you, worshipping God

Pemalang, August 6, 2016

©Muhammad Wildan Basri

Summer Triangle

Altair,
node of constellation has measured your wings
incandescent eyes are floating in the sea of breeze
recreate the brightest eyes inside the constellation’s lines
a conference of billions of years

three triangular eyes anneal the wings
as sturdy as eagle piercing the north sky
infest the summer skies
thousands of love were written naturally
in the eternal flickerings, eyes of the ones who yearn

Vega, Deneb,
please greet the earth passer-by
the explorers of the skins of silence
where lights are dead
    at hidden summits
old trees curl up their fingers
mountains embrace the earth
the wind blows echoes of holy spaces

and from the silent earth, the eternal roads are painted
a confluence of milky way, sublunar in vague
the gadabouts’ eyes are dancing as soft as air
     that bind the trace of galaxies
leaving their homes
away from the life of souls
there, there are souls that crave so deeply
for who is the owner of the universe lights?

Akasia, 6th August 2016

Malam Langit Gelap (Poetry of The Milky Way)

Setiap kali memandang kota dari ketinggian, kita selalu terpesona dengan kerlap-kerlip lampu kota seakan bintang telah berpindah ke bumi. Tanpa disadari, cerlangnya lampu-lampu kota itu turut membunuh keindahan gugusan bintang di langit yang luar biasa menawan.

Tanggal 6 Agustus 2016 dinobatkan sebagai Hari Keantariksaan oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). Untuk merayakannya, LAPAN mengampanyekan “Malam Langit Gelap”, kampanye untuk meminimalisir polusi cahaya. 

Lewat kampanye “Malam Langit Gelap”, LAPAN mengajak warga kota mematikan lampu di luar ruangan pada pukul 20.00 – 21.00.

Kepala LAPAN, Thomas Djamaluddin, mengatakan, jika seluruh warga kota ikut serta gerakan ini, maka bukan tidak mungkin gugusan bintang akan nampak di langit malam. Kita bisa melihat “Segitiga Musim Panas” yang terdiri dari bintang Vega, Deneb, Altair. Bintang-bintang yang tersusun dalam bentuk segitiga ini sangat legendaris. Di Jepang, gugusan ini dikenal dengan “Gingga”.

Seluruh Indonesia juga bisa melihat dengan mata telanjang rasi bintang Angsa (Cygnus), Salib Selatan (Cygnus), dan rasi Kalajengking (Scorpiro).

“Khusus untuk Sabtu malam tanggal 6 Agustus 2016, kita juga bisa melihat Mars, Saturnus, dan bintang Raksasa Merah Antares yang membentuk segitiga,” kata Thomas.


Untuk mendukung kampanye “Malam Langit Gelap”, Poetry Prairie mengajak semua orang untuk mengikuti event cipta puisi khusus hanya di hari ini. Caranya mudah, simak ketentuan berikut:

  • Tema puisi: Milky Way / Rasi Bintang 
  • Jumlah puisi bebas, dengan bentuk dan format bebas. Cantumkan biodata dan kontak di bawah puisi.

  • Kirimkan puisi ke email: poetryprairie@yahoo.com 

  (subjek email: Malam Langit Gelap)

  • Batas akhir pengiriman puisi, 7 Agustus 2016 pukul 15.00 WIB.
  • Kami mencari puisi yang indah, menggetarkan hati dan mampu menggambarkan kemurnian langit dan rasi bintang. Puisi yang berhasil memikat hati kami akan ditampilkan di website Poetry Prairie (www.poetryprairie.com). 

  • Tiga puisi pilihan akan mendapat paket buku dari Poetry Prairie. 

  • Satu puisi terbaik akan mendapat tambahan hadiah kejutan dari Poetry Prairie.

  • Malam ini persiapkan diri kalian. Jangan lupa mematikan lampu dan sejenak lihatlah ke langit malam. Gugusan bintang dan simpul galaksi di langit adalah kemegahan yang diciptakan Tuhan. Nikmati melalui mata, resapi dengan hati dan tulislah puisimu.

    Big Love,

    Poetry Prairie

    Poetry For Life (Diperpanjang: 30 Agustus 2016)

    “dimana manusia
    ketika anak-anak menjadi korban nafsu
    yang bersemayam di selangkangan
    menderu-deru, berseru-seru
    menuntut pemuasan
    darahnya bergejolak, ekstase murahan
    melihat wajah bening ternista
    mani-mani bermuncratan
    menghanguskan harga diri, darah dan 
    nyawa manusia”

    Tema Poetry for Life 2016:
    “Dunia Rapuh Anak-Anak”.

    Beberapa waktu terakhir ini berita kekerasan terhadap anak-anak kian banyak bermunculan. Lebih miris lagi adalah kasus-kasus di luar nalar seperti pemerkosaan dan pembunuhan dengan cara keji terhadap anak-anak. Anak-anak seharusnya adalah lambang kesucian dan kemurnian jiwa. Setiap manusia pasti tersentuh hatinya melihat keluguan anak-anak, pasti timbul kasihnya pada makhluk titipan Tuhan ini. Karena itu siapapun yang sanggup menyakiti anak-anak, bahkan tega berbuat keji, pantas dipertanyakan sungguhkah ia seorang manusia?

    Program Poetry for Life kali ini diadakan untuk mengajak masyarakat kembali merenungkan mengapa kekerasan pada anak masih terjadi, bahkan dalam bentuk-bentuk yang semakin keji. Mengapa dunia anak-anak ternyata sangat rapuh dan rentan terhadap kekerasan. Mari tunjukkan sikap. Segala penindasan kepada anak-anak harus ditolak, serukan cinta kasih agar dunia anak-anak kembali berwarna.

    Mulailah dari diri sendiri untuk menyadari betapa pentingnya anak-anak bagi masa depan. Rasakan segala cinta dan luka yang harus dialami anak-anak ini. Tuangkan segala kisah inspiratif, rasa cinta dan empati, semangat melindungi atau bahkan harapan untuk kebahagiaan anak-anak ini. Maka sambil berdoa demi masa depan anak-anak bangsa, menulislah sekarang! Menulislah untuk membuka hati kita, menumbuhkan cinta kita dan selalu terjemahkanlah di dunia nyata. Anak-anak harus dicintai dan dijaga dengan segenap hati.

    III. Syarat dan Ketentuan

    – Satu penulis diperbolehkan mengirim 2 puisi 
    – Bentuk puisi bebas.
    – Diketik dalam file Microsoft Word, A4, Font Times New Roman 12, spasi 1.5
    – Panjang puisi maks. 3 halaman
    – Sertakan biodata narasi singkat di lembar terakhir. Dan boleh juga tambahkan doa dan harapan bagi anak-anak Indonesia (maksimal 100 kata)
    – Cantumkan nama asli lengkap dan alamat lengkap untuk pengiriman hadiah buku. Usahakan selengkap mungkin agar tidak terjadi kesalahan pengiriman.

    Cara Pendaftaran:
    – Membayar biaya pendaftaran sebesar Rp 60.000,- 
    – Melakukan transfer ke rekening Bank Mandiri No. 1320014920103 atas nama Mulyana
    – File karya dan bukti transfer dikirim melalui email ke poetryprairie@yahoo.com
    (Subject: PFL – Nama Penulis)
    – Batas akhir pendaftaran dan pengiriman karya adalah 30 Agustus 2016

    Catatan:
    Apabila puisi yang terpilih memenuhi syarat dari segi kualitas dan kuantitas, maka direncanakan akan diterbitkan menjadi sebuah buku Antologi Puisi.

    Apresiasi:

    Seluruh peserta mendapatkan:

    • e-sertifikat peserta
    • 1 paket buku (antologi puisi/cerpen/novel)

    Pemenang I:

    • Uang tunai Rp 1.000.000,-
    • 1 buku Antologi Puisi
    • e-Book Antologi Puisi
    • e-sertifikat pemenang

    Pemenang II:

    • Uang tunai Rp 500.000,-
    • 1 buku Antologi Puisi
    • e-Book Antologi Puisi
    • e-sertifikat pemenang

    Pemenang III:

    • Uang tunai Rp 250.000,-
    • 1 buku Antologi Puisi
    • e-Book Antologi Puisi
    • e-sertifikat pemenang

    Segera kirimkan karyamu!

    Sebarluaskan kepedulian dan kecintaan kita pada anak-anak. Satu peningkatan kesadaran pada diri manusia, berarti mengurangi potensi kekerasan pada anak.

    God Bless You All

    ©Poetry Prairie – 2016