Zikir Kesunyian

aku bersembunyi di balik kabut baris-baris puisi zikirku seribu sunyi mengejarmu dalam gelap ruang semadi di antara erangan dan jeritanku yang terpendam aku hanya ingin memahami isyarat kegelapan yang telah mengiringi langkahku namun mataku selalu perih setiap melafazkan namamu adakah yang salah dari penglihatanku yang nanar dan tumbuh menjadi nyanyian kelakar musim panas membakar kata-kataku …

Continue reading Zikir Kesunyian

Advertisements

Atas Nama Sunyi

Atas nama sunyi Berendam dalam kesendirian Kehilangan kian terasa Memeluk bayangan silam Hanya kosong tak tersentuh Raga itu terpisah jarak Bersandar di pelukan lain Atas nama sunyi Berapa lama seperti ini Memandang setiap kenangan Berpencar senyuman di kepala Mata lahir seolah melihatnya Menyebar di segala sudut Lalu hilang ditelan kesadaran Atas nama sunyi Puisi menjadi …

Continue reading Atas Nama Sunyi

Rindu Tak Berujung

Desir bayu menyayat hati Menoreh waktu bisikkan rindu Berseloka sama dedaunan kering Menguak rasa terhempas layu Ruang waktu dinding pemisah Pembuncah asa bergelayut sepi Bagai jasad bicara tanpa makna Andai jarak mengerti Satu sisi di ruang rindu Menerka secercah cahaya Menembus relung hati Rindu tak berujung ini Merayu resah, membisu Dalam setitik angan  Namun tiada …

Continue reading Rindu Tak Berujung

Tanda

Kubaca tanda yang dikiamatkan waktu Dalam labirin sunyi berdetak ia seperti nadi Rekah menjadi serakan dengus napas Berkelindan debu yang menjadi lumpur :sisa genangan hujan yang turun, kemarin Adalah sapa yang lenyap berbuah bisu Mengurungkan lidah dalam katup bibir Perintah hati laksana titah baginda raja Bahasa tubuh sudah cukup sebagai penanda :mengenalmu sebatas kenangan semata …

Continue reading Tanda

Lambung Sunyi

--elegi kloset dan aborsi Lenganku pucuk rebung dari rumpun bambu nenek moyang. Jemariku mekar mengelopak bunga dipoles sepasang mata buta dan desir darah ibu. Wajahku. O, wajahku lipatan muara terpasang dari ayah yang mencari dan ibu yang menanti disuguhi temaram lampu lalu kunang-kunang melayang. Aku tenggelam di buih api yang terus membara tidak mau mati. …

Continue reading Lambung Sunyi

Pelan-Pelan Rindu Tumbuh Sebagai Kunang-Kunang

Pelan pelan aku tumbuh sebagai kunang-kunang Isyarat musim tak mudah disangkal, Bi sebab hujan begitu sibuk bertiup di telingamu Menjatuhkan bertubi-tubi bisikan iblis juga syaiton nirojiim Dingin, Bi Biarkan dedaunan berpelukan pada tanah Sebab lengan kerinduan tak cukup lincah menghangatkan kita Seduh saja puisimu pada setangkai embun yang mampir di kaca Kaca yang hampir saja …

Continue reading Pelan-Pelan Rindu Tumbuh Sebagai Kunang-Kunang

Madura yang Melaut

Tanah ini bernama ranah garam Asin di lidahnya, putih di rambutnya Isi lambung adalah nelayan yang haus ikan-ikan Kulitnya pasir-pasir kasar dengan terumbu karang Debur di tubuhnya ialah keringat yang terkumpul jadi gelombang Ombak di dadanya mengapit kehidupan yang menjanjikan masa depan bahwa bersama badai bukan berarti harus lempar jangkar-jangkar bahwa jika tiba kemarau panjang, …

Continue reading Madura yang Melaut

Anak Jiwaku

Anak jiwaku mengapa durjana bercumbulah dalam kesesakan laiknya air dijamahi ekor ikan seperti embun bercinta tunas cemara laiknya purnama direnda iringan malam seperti air bergelut relung awan legam laiknya siulan pipit pada putra cakrawala asa terbumbung, terikat jiwa dalam doa tersimpul roh dalam puja, asa terulur menuju sosok-Nya Anak jiwaku mengapa kelu bersoraklah dalam tangisan …

Continue reading Anak Jiwaku

Mekarnya Hidup Wakilkan Dengan Doa

Betapa purna laku mesti disemai Dalam perahu kayuh hayat Agar tak surut melayari samudera Tak tenggelam melintas jarak dalam depa tak terukur Adalah harapan! Umpama napas yang pecah menyebari paru-paru Melapangkan rongga-rongga jantung Ke mana arah haluan disandarlabuhkan Adalah semangat! Aroma udara selalu mendenyar nadi Titah perigi tampungkan kecamuk ombang-ambing kalut Di pusaran onak hanyutkan …

Continue reading Mekarnya Hidup Wakilkan Dengan Doa

Autobiografi Tanah Merah

-setelah hari keenam; Ahmad Nurullah akulah pekarangan semesta cikal bakal peradaban umat manusia muasal sesal gairah paling purna lalu cinta, birahi, dan ambisi tumbuh subur bersama margasatwa yang dilindungi firman-firman Tuhan lalu segala materi yang melekat padaku merekah-rekah di udara menjadi cermin bagi samudera bukit-bukit dan gunung merapi di negeri-negeri jauh tak bernama maka di …

Continue reading Autobiografi Tanah Merah