Bunuh Diri


Tangisan mengikat sumpah
Uliran pada jiwa yang dilepaskan tak kentara
Segala beban pada tulang telanjangnya
Meski rasa itu tak benar-benar ada
Tak nyata pun dalam mimpi
Hingga ia menyeret tubuhnya sendiri
Bersimpuh pada dahi yang melekat
Matanya nyalang, berapi-api
Menguras emosi yang tak berharga
Tak ada yang tahu ombak di dalam sana

Apa arti nyawa baginya,
Apa arti ia bagi dirinya sendiri,
Ketika ia cukuplah keparat yang penuh dosa?
Yang senantiasa merayap pada abu di udara
Menghempaskan setiap duri merobek ubin tak bernoda
Tanpa tahu kemana harus mengadu
Hingga luka-luka yang terjahit rapi atasnya
Sungguh ia tak lagi perduli

Matahari baru saja berbelok di persimpangan
Di kala ia memilih menjauh dari keramaian
Terperosok jatuh ke dalam pusara
Mendengar bunyi hampa tercabut dari raga
Kiranya, beban itu telah melanglang buana
Namun nyatanya, terdengar pula suara semerdu ilusi
Memainkan gendang telinga yang sepi
Merayu dengan hati-hati untuk merangkak naik
Meski ajal tersenyum menanti 

Kuku-kuku panjang itu terus menghujam
Menggoreskan ukiran pada denyut nadinya
Haruslah diasingkan, dimusnahkan
Terisolasi dalam ruangan kering
Hingga hancur berderai tak berguna
Sayangnya ia tak cukup bertenaga
Mengabaikan rasa semu mengambang di depan mata
Menyakitkan, membelainya berulang-ulang

Kini ada dirinya bersama rembulan
Menenggak buliran padat atas cercaan orang
Menghitung jarum jam yang berdetak
Mengakhiri semua di ambang kepuasan semata
Atas segala kebahagiaan yang menghujani
Begitu menikmati dan mencintai
Berujung dengan dirinya terkapar
Membeku karena lupa berteduh
Lalu mati bersama kebodohan

Poetry of The Week
Penulis: Amatullah Hayyatunnupus

Advertisements

2 thoughts on “Bunuh Diri

  1. Dwi Sekar

    .. Sorry before… I will ask about poem… How to sending some poem for competetion online?? , because I think in internet you post advertisment if poerty prairie open for competetion it! It is right?????? Pada tanggal 10 Sep 2017 9.19 PM, “Poetry Prairie” menulis:
    > poetryprairie posted: “Tangisan mengikat sumpah Uliran pada jiwa yang > dilepaskan tak kentara Segala beban pada tulang telanjangnya Meski rasa itu > tak benar-benar ada Tak nyata pun dalam mimpi Hingga ia menyeret tubuhnya > sendiri Bersimpuh pada dahi yang melekat Matanya nyalang, ” >

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s