Lambung Sunyi


–elegi kloset dan aborsi

Lenganku pucuk rebung dari rumpun bambu nenek moyang. Jemariku mekar mengelopak bunga dipoles sepasang mata buta dan desir darah ibu.

Wajahku. O, wajahku lipatan muara terpasang dari ayah yang mencari dan ibu yang menanti disuguhi temaram lampu lalu kunang-kunang melayang.

Aku tenggelam di buih api yang terus membara tidak mau mati. Tuhan menurunkanku ke bumi dari seluncuran ibu yang curam penuh tikungan di setiap hela nafasnya. Jeritku merapal tabu dan merobek batin dari rantai waktu. Menguras rapal do’a di kolam Tuhan. Tidak ada yang mengintip di balik jendela atau bertasbih pada ruh telah bernyawa ini.

“Sungguhkah ibu menelan makhluk mungil berlendir ini, membuntuti setiap langkah, merampas rasa laparmu tanpa kenal waktu?” dari rahim ibu aku terus bertanya.

Aku tidak mengendus bau sperma atau merasakan telapak surga hanya sekat yang benar-benar sunyi dan nyanyian jangkrik mengikuti poros bumi. Nafas alam menjadi rahang srigala dengan mulut lebar menganga. Taringnya, ya taringnya pedang benggala melihatku tanpa cahaya.

Aku digelitik lidah baja tidak berdaya dan berputar menghindar dari senapan linggis dan aku menangis tidak berdaya bahkan ibu tengah mati suri di atas ranjang neraka. Lubang itu menawarkan surga untuk mencabik kulit babi masih suci yang dibasuh Tuhan sebagai titipan. Degup jantungku menggila darah ibu mengucapkan salam sampai jumpa menghitung gelitik detik.

Aku bersumpah, kedua lengan ini ditakdirkan jadi sayap pelindung Ibu saat terlelap atau menari di punggung ayah saat lelah. Namun satu hembusan nafas lagi satu kali teriakan yang sia-sia aku diguncang dalam tempurung ibu diberi senyum tabung maut dan kolam surgaku menjadi savana Afrika,

“Ibu, aku kehilangan kaki untuk melangkah bersamamu, degup jantung mengurai tawamu, tanganku serbuk pasir kali, kepalaku biji salak yang terkoyak dan mataku adonan lunak pemanis, dan hatiku mengalir di pusaran kloset”.

Bau toilet menjadi temanku dan retakan keramik saksi bisu lalu surga di tempat kumembeku, membekam jiwa tabu tidak untuk lahir ke dunia. Aku ada bersama satu juta jiwa biji jambu terkurung rahim ibu berharap meluncur bersama tangis yang menjadi tawa ibu melihat dua pasang wajah menyatu satu di hadapanmu.

“Hanya hitungan bulan di jari, di tabung ibu yang luar biasa, sempat kudengar degup jantungmu menyiring detak jantungku dalam detik dan nafas kucium darah suci menjadi gumpalan petaka“.

Ruang kosong kuhuni hingga tumbuh mimpi dan Tuhan merajut jemari menjadi kuas pelukis yang asing pada kanvas mau pun cat warna-warni. Di
sini aku pernah berdiri, benyanyi, menari, mencari dan melukis nama Ibu memahat harapan sepi.

“Aku ingin bisa lahir ke bumi disambut tangis dan air mata bahagia bersama ibu, dan meringkuk di pangkuanmu.”

2015

—————————————————————
J. Safitri (Juanita Safitri). Biasa dipanggil Juan. Lahir di Cianjur, 07 Juni

1998. Siswi SMA Negeri 1 Cilaku-Cianjur. Ketua Earth Security Cianjur yang sangat menggemari sastra juga aktif di Komunitas Nina Bobo asuhan Iwan B. Setiawan. Menulis; terlahir tanpa mengenal suara, tersembunyi di balik mata yang bermakna, menjelma kata yang indah tanpa berfikir memamerkan kemolekannya. Mengalir di sekujur jiwa yang murni, terkadang deras ketika jiwa itu berpetualang melintasi api. Karena itu aku sangat suka menulis, dengan diam aku bisa menjelma jadi apapun, bahkan keliling dunia sekalipun, tanpa harus mengeluarkan dana yang besar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s