Gelora

Dalam karung itu matahari ia pikul, ada juga jumawa yang sengaja ia jinjing tinggi tinggi. Lalu ketika hujan tumpah, dan menguyubkannya. Ia masih saja berkisah “Matahari ini kan tetap merajai semesta”

Ia yang buta dengan benderang obor di tangannya. Dihadapnya, sumbu peletup segala dermaga dengan puluhan drum berisi rum. Satu ledakan mampuskan beberapa anak kecoa yang sembunyi antara malam dan remang.

Segala tentang isi kepala ia puisikan. Sedang dirinya masih saja tentang purba. Adakalanya pintu goa dibuka sekali dua. Dan benderang masuk lewat celacelanya.

Dalam karung matahari itu meronta menuntut senja tanpa dirinya. Tanpa burungburung dan gemericik ombak. Sedang seluruh isi dunia telah habis dimakan apinya.

Lumajang, 28 Desember 2018

Penulis: Wildan Ismail

Advertisements

Kasidah Air Mata

;Teruntuk Neng Ozara

Selamat malam luka, selamat hijrah ke hatiku
Apalagi yang semestinya hendak kututupi berkali-kali pada sepi
Bilamana sekuntum mawar di tubuhku, perlahan gugur
Mengering dedaunannya, sebab penindasan kemarau
Tak henti-hentinya kau kirim dari senyummu
Bahkan, seratus duri-durinya
Pasrah menancap di curam dadaku.

Terimakasih luka, perih yang kau wasiatkan padaku
Telah sempurna menjadi riuh dan debur lautan
Lebih pasang dari riak maritim, menghempas segudang harapan
Serta memecahkan jembatan panjang di otakku.

Sebelum waktu makin berlalu
Aku berharap padamu
Hargailah perasaanku
Sebagaimana kau mengerti perasaan mu sendiri.

Ozara, ini kali aku bersaksi
Bahwa semenjak mencintaimu
Aku lupa cara hidup yang sebenarnya.

Ozara, harus dengan apa pula kutatap langit di dadamu
Manakala sesal mendung di mataku
Menjelma kemarau paling ganas di kepala.

Ozara, apakah aku harus ingkar pada sunyi
Biar tetas dari ayat-ayat air mata
Mencipta sungai dangkal di matamu
Agar segalanya bisa kau larungkan
Pada resah yang paling rekah di ceruk-ceruk jiwa.

Ozara, aku sempat ingin berlari dari hikayat
Sebab gurindam kata-kataku
Semakin ranggas tak lagi ganas diksi-diksinya.

Ozara, mungkin begini saja,
Jalan terbaik di antara kita
Adalah menjauh paling sempurna.
Tapi, ada kemungkinan lain
Aku terlalu yatim untuk mencintaimu
Sebab ayah dari rasaku
Telah meninggal paling dahulu.

Aku mohon maaf, Ozara
Jika suatu saat, aku pamit meninggalkanmu
Lalu, kuserahkan kado kecil untukmu
Sebagai pemberian terakhir kali dan selama-lamanya.
Tetapi sebelum itu, aku titip sebotol darah padamu
Mungkin engkau akan menyimpan seribu tanda tanya tentang darah itu?

Sebelum kau tanya, Aku jawab paling dahulu:
“darah itu akan menjadi saksi, bahwa aku pernah berjuang mencintaimu,
meski perihal kegagalan yang sempurna kucapai”.

Maka, cukup kuterjemahkan sekarang
Bahwa hakikat musim yang bertahun-tahun kugenggam
Adalah kegagalan mencipta hujan di tubuhmu.

Annuqayah, 2019

Penulis: Firmansyah Evangelia

Falsafah Tragedi Rindu Kian Memanjang di Kota Dadaku

Nona, mengawali segelintir cemas
ranggas paling ganas di dadaku
Aku ingin titip perihal pada nyala api
yang menari di matamu
Bahwa tragedi paling kukuh:
Adalah tunggalnya kesaksian rindu.

Apalagi yang harus kukatakan pada langit
Bilamana kebenaran dari rinduku
Tak pernah mengenal proklamasi musim
Keadilan kemarau, juga tetas rinai hujan
yang bertandang di pekarangan rumahmu.

apalagi yang harus kusampaikan pada tanah
manakala sejatinya resah
telah berpijak, pada kegersangan batin yang tak pernah bengkak
juga menjadi tulang-belulang harapan
sebagaimana kehendak tuhan
menghadiahkanku tunas kesabaran.

Apalagi yang harus kutitipkan pada angin
Pabila rahim desirnya
Adalah bagian gigil dari tubuhmu.

Apalagi yang harus kurahasiakan padamu
Pabila hakikat dari silau bebayang lain
Larut sirna di mataku
Dan hanya kepadamulah
hendak kupersembahkan segala rindu.

Penulis: Firmansyah Evangelia

Hari-Hari Nestapa

pohon seribu satu malam itu
dipeluk cahaya kamar kita
kudengar ia merintih

dari rimbunan hari-hari lalu
kerap ia menatap nun ke langit
gulung-bergulung awan-gemawan
mengajari ia mendekap rahasia

di dalam kamar
seorang gadis legam
memijaki bayang-bayang
wajahnya hening
tetapi pikirannya gemuruh angin

daunan itu semakin menguning
sebentar lagi bakal terpelanting
menyusur udara
lalu melepas lelah di rebah tanah
dan rahasia-rahasia membawanya
hingga ke surga

gadis itu merunduk
matanya berembun sesal
matahari di lemarinya
membias hingga ke jalan ini

(aku mendapati jalanan
pelan-pelan menjadi basah)

LK, 15 Maret 2019

Penulis: Ibna Asnawi

Senandung Daun

seperti kupu-kupu lain
kau senang terbang ke tempat yang kau ingin
membiarkan hijau tubuhmu disaksikan
dahan-dahan yang merindukan sentuhan
sementara beberapa ilalang kerap membayangkan
suatu saat tubuhnya senantiasa kekar
lalu merayumu tuk singgah sebentar

alkisah, semasa menjadi ulat
kau sering mencumbu tubuhku hingga sekarat
bahkan, telah kuberikan seluruhnya padamu
walau tak pernah kutahu
seperti apa kelak warna sayapmu

maka, sebagai makhluk yang membantumu terbang
menunggumu seperti akar pepohonan yang lapar
manakala yang kau tinggalkan hanya serupa cangkang
yang kuanggap sebagai kenangan

esok, lusa dan seterusnya
adalah ketabahanku pada reranting
belajar sabar bila sudah menguning

bahwa, hari-hariku membesarkanmu
hanya untuk melenyapkanku

membesarkanmu
melenyapkanku.

Annuqayah, 9 Juli 2019 M

Penulis: M. Syamilul Hikam

Eloquent Silence

I sat there with the eloquent silence, with the laughter and tears that are not meant to be heard, yet felt. Having a conversation with sanity on how to stay sane with all the insanity around. Asking the voiceless sound that was on the verge of breaking out, how to stay quiet with all the madness around.
Not one shows any sign of answering the questions.

Distracted, uncertain, anxious, yet thrilled.

Then I start asking happiness, how to stay blossom when the garden is on fire.
Asking how love felt when it was humiliated, betrayed.
You are not ought to feel helpless, do not run away from yourself, they said.
Conquer your demons, love until nothing left but ashes in your bones.

The conversations went on for years
My brain attained the answers, yet stills no sign of knowing how to execute them.
Then patience came out and told me not to give up yet, told me to stop asking questions and let heart find its way out of the opaqueness.

(by Dimitri Josephine)

Suatu Saat Nanti

Suatu saat nanti kau pulang
Datanglah ke tepi gunung dekat pantai
tempat kita menanak rindu
Aku sudah menantimu di sana

Ayah sendiri pernah berlayar dan
Menebar debar asmaranya di sana
Bersama selembar malam dan sebuah sepi
Kita dipancang ke pelupuk pertiwi

Tak ada yang berubah
Toilet dan kamar mandi masih ada
Fotomu juga masih pajang di situ

Di balik bilik teluk cahaya itu
Katamu, Biak adalah perihal kebaikan
Menjelma ayah dan ikan-ikan membiak
Ke dinding karam laut jadi kita

Maka baiklah suatu saat nanti kau pulang
Datanglah ke tepi gunung dekat pantai itu

Biak ruang segala pergi telah
menemukan jalan pulangnya

Jakarta, Agustus, 2018

Penulis: Rino Fahik

Senja

Aku menjadi saksi
Tentang seorang ayah yang pulang ke rumah dengan perasaan bangga membawa sebungkus lauk untuk keluarga tercinta.
Tentang sepasang kekasih yang sedang kasmaran menikmati indahnya jingga di cakrawala sambil berbicara tentang rencana-rencana membangun sebuah rumah tangga.
Tentang anak kecil dengan wajah masam yang tak mau disuruh berhenti bermain bola oleh ibunya karena hari sudah petang.
Tentang sekawanan burung yang terbang meninggalkan tanah lapang munuju peraduan.
Tentang seorang pemuda yang berdiri di penghujung asa merasa seluruh hidupnya sia-sia semenjak ditinggal wanita.

Aku menjadi penantian
Bagi manusia yang lelah dan penat seharian terjerat dalam masalah-masalah pekerjaan.
Bagi orang tua renta dengan tubuhnya yang termakan usia hingga menghitung waktu yang masih tersisa.
Bagi pemudi frustasi yang tengah depresi mencoba mengumpulkan nyali untuk mengakhiri hari.
Bagi pekerja malam yang bersiap dengan dandanan berharap sedikit rejeki untuk makan.
Bagi harapan yang terus mencari jalan untuk membuat semua asa menjadi kenyataan bukan hanya menggantung di angan.

Aku menjadi yang dibenci
Oleh pasangan yang masih enggan saling meninggalkan di saat semua hal indah mulai muncul perlahan.
Oleh pedagang di pinggir jalan yang beranjak pergi meratapi jajaannya yang tak ada pembeli lagi.
Oleh orang pinggiran dengan listrik yang padam dan mereka tak mampu lagi melihat terang.
Oleh semua insan yang membenci kenyataan karena senja selalu mengajarkan tentang kesadaran.

Namun aku tetaplah senja
Yang selalu menyimpan cerita bagi setiap jiwa yang rindu akan hangatnya siang sebelum harus meringkuk di antara dinginnya malam.
Yang selalu mampu menyihir mata dengan gradasi warna hingga setiap insan merasakan betapa indahnya semesta.
Yang selalu mampu mengubah tawa menjadi air mata atau mengubah duka menjadi suka cita.
Dan yang selalu mampu mengubah setiap kejadian manis, pahit, susah, senang menjadi lembaran-lembaran kenangan dalam ingatan.

Penulis: Wirga Wirgunatha

Nyanyian Kesedihan

(Peristiwa Tragis)

aku membayangkan betapa hari ke hari berikutnya begitu dingin
bukan sebab ingin yang melayang-layang di pikiran
tetapi, keputusan yang tegas dan pas
di bulan Agustus

aku nikmati haus dan lapar
dengan waktu yang makin menghempas
di dada seorang Ibu
yang melahirkan, yang merawat, dan membesarkanku

aku tahan lapar
aku menahan memar
sampai pada batas

Darmakradenan, Agustus 2018

Penulis: Yanwi Mudrikah

Kembali ke Rumah Cahaya

bukan gadis yang kau kejar
apalagi rasa lapar
tetapi,
kau kembali ke rumah cahaya
hingga menyala
seluruh tubuh

ruh-mu menyala
ke lubuk
ke lamuk
tak ada kata ‘mengamuk’

kembalilah para pencinta
kepada cahaya

lenyaplah
dari huru-hara dunia
dan prahara
di deretan jarum
dan benang dunia

kembalilah ke rumah cahaya

Darmakradenan, 2018

Penulis: Yanwi Mudrikah