Zikir Kesunyian

aku bersembunyi di balik kabut baris-baris puisi
zikirku seribu sunyi mengejarmu
dalam gelap ruang semadi
di antara erangan dan jeritanku yang terpendam

aku hanya ingin memahami isyarat kegelapan
yang telah mengiringi langkahku
namun mataku selalu perih setiap melafazkan namamu
adakah yang salah dari penglihatanku yang nanar
dan tumbuh menjadi nyanyian kelakar

musim panas membakar kata-kataku
yang menjadikannya abu dan lelatu
lalu menyeretku ke wilayah tak dikenal
dunia tak terjangkau lidahku
hingga teriakanku lenyap dalam regukan besar waktu
seperti embun yang terserap cahaya pagi

dunia di luar kata-kata
dan nyanyian tak menyuarakan apapun
tapi zikirku terus mengalir padamu
menjenguk setiap puing-puing kesunyian di bukit
kotamu.
menyusuri terowongan-terowongan panjang waktu
yang menelanku hingga tenggorokanku terbakar sunyi

aku memintal lagu sepanjang lorong rahasiamu
untuk kunyalakan dalam jiwa
tanganku meraba ayat-ayat
tapi setiap kunaiki tangga ke langit terjauh
aku selalu ditenggelamkan cahayamu

aku letih menjengkal kesamaranmu
dan zikirku adalah zikir kesunyian

Kediri, 12 Mei 2016

Poetry Prairie Literature Journal #5
Penulis: Aharys Koeartz