Suatu Saat Nanti

Suatu saat nanti kau pulang
Datanglah ke tepi gunung dekat pantai
tempat kita menanak rindu
Aku sudah menantimu di sana

Ayah sendiri pernah berlayar dan
Menebar debar asmaranya di sana
Bersama selembar malam dan sebuah sepi
Kita dipancang ke pelupuk pertiwi

Tak ada yang berubah
Toilet dan kamar mandi masih ada
Fotomu juga masih pajang di situ

Di balik bilik teluk cahaya itu
Katamu, Biak adalah perihal kebaikan
Menjelma ayah dan ikan-ikan membiak
Ke dinding karam laut jadi kita

Maka baiklah suatu saat nanti kau pulang
Datanglah ke tepi gunung dekat pantai itu

Biak ruang segala pergi telah
menemukan jalan pulangnya

Jakarta, Agustus, 2018

Penulis: Rino Fahik

Advertisements

Zikir Kesunyian

aku bersembunyi di balik kabut baris-baris puisi
zikirku seribu sunyi mengejarmu
dalam gelap ruang semadi
di antara erangan dan jeritanku yang terpendam

aku hanya ingin memahami isyarat kegelapan
yang telah mengiringi langkahku
namun mataku selalu perih setiap melafazkan namamu
adakah yang salah dari penglihatanku yang nanar
dan tumbuh menjadi nyanyian kelakar

musim panas membakar kata-kataku
yang menjadikannya abu dan lelatu
lalu menyeretku ke wilayah tak dikenal
dunia tak terjangkau lidahku
hingga teriakanku lenyap dalam regukan besar waktu
seperti embun yang terserap cahaya pagi

dunia di luar kata-kata
dan nyanyian tak menyuarakan apapun
tapi zikirku terus mengalir padamu
menjenguk setiap puing-puing kesunyian di bukit
kotamu.
menyusuri terowongan-terowongan panjang waktu
yang menelanku hingga tenggorokanku terbakar sunyi

aku memintal lagu sepanjang lorong rahasiamu
untuk kunyalakan dalam jiwa
tanganku meraba ayat-ayat
tapi setiap kunaiki tangga ke langit terjauh
aku selalu ditenggelamkan cahayamu

aku letih menjengkal kesamaranmu
dan zikirku adalah zikir kesunyian

Kediri, 12 Mei 2016

Poetry Prairie Literature Journal #5
Penulis: Aharys Koeartz