Rumus Rindu

sungguh! tiada lebih bising manakala dengung denting kerinduan kian melengking nyaring dalam replika kenangan tentang kita.
mungkin benar; merindu bukanlah sandiwara politik. serupa sidang para kabinet wakil kita kian pandai merangkai permainan kata berupa wacana.
aku tak pernah bisa berkata jujur untukmu, kawan. bilamana wajahmu kerap menabur subur di hati dan mata yang seketika mencipta duka pada tawa foto-foto kita.

oh Tuhan! pencipta segala rasa. hanyutkan aku dalam lebur kabar kawanku ini. malam ke kelam, sampai kuterlelap puas hingga terpejam pulas. memandu lara hingga kabar bahagia. dari canda tawa hingga candu menepis segala duka.

jangankan puting beliung menyeret kenangan kita. ombak badai topan sekalipun; aku akan peluk dengan tenang. hempas air asinnya kuanggap kerangka sebuah rasa. asal derita hati, sua kabar ceria. meski masa semakin mencumbu tua.

walau harus menyepi dengan beribu catatan duka, akan candu canda kita; serupa NIL yang terus berkepanjangan ke ceruk dada. hingga lupa; ternyata perpisahan masih setia menanti diujung dermaga. dan aku harus mengalah pasrah meski gelisah selalu membuncah ruah.

untuk mengenang segala nestapa; kita tepis bersama. indah dikenang, hilir-hilir tangis mengalir. di hening malam berbantal kenangan.

kawan, aku tak pernah tahu rumus tentang rindu!
aku ditambah kamu samadengan candu
aku dikurangi kamu samadengan rindu
aku dikali kamu samadengan candu bertemu
dan aku dibagi kamu samadengan duka rindu ingin bertemu.

Penulis: Fadhil Sekennies

Pendahuluan

1/ SILIR

Tak bisa lagi diajak berkompromi
Berat, terasa berat melawannya
Hawa dingin menyergap, menyelimuti layaknya kabut di pagi buta

Ketukan detik jam terus berputar
Berputar, berputar semakin cepat
Air mengalir keluar dari mata, mengambang dan jatuh

Suara yang terdengar bagai kereta cepat
Hanya lewat sepintas tanpa disadari
Dengan suara lirih selirih hembusan nafas manusia

2/ GAGAK

Lompat atau loncat
Langkah atau jalan
Diam atau berhenti

Angin dan udara
Berputar dan berbalik
Melihat dan mengamati

Sepasang burung gagak bercinta di siang hari
Di atas genting di kala hujan di awal bulan Februari

3/ PERAYAAN

Pintu gerbang baru dibuka menandakan perjalanan penuh harapan yang dinanti-nantikan selama ini telah tiba dan berada di depan mata. Hingar bingar, riuh gebyar perayaan meresmikan babak baru dari kisah panjang yang akan dilalui. Semua bergembira, terharu dan tertawa tanpa sadar.

Namun dia, masih tak mengerti apa yang terjadi, apa yang menyebabkan ini semua, hanya terpana dengan tatapan heran serta senyum lucu.

Tak terasa musim telah berganti, zaman telah terlewati. Dengan setapak demi setapak langkahnya, jejak-jejak yang ditinggalkannya menjadi tempat tumbuh bunga dan duri.

Penulis: Olia Girindra Sakti

Above The Nicobar

Out in the heaven so blue
swirls the silvering clouds,
with the edges fly, and monsoon dies,
men challenged the storm, and with thunder crushed.

What violence, said the men,
could rattle the canopy and
tear the fiery rays asunder?
or quisle the dying gold of Her grandiose,
or maul the sun till ocean’s bleed.

And underneath, the ocean foams and twirls,
with Gods and Goddesses from the river’s rage.
All men, women in silk and hued zest sing
“be calm, sea - the ashes of my love sleep therein!”

Underneath, the devil and Poseidon are chanting
lullaby and haunting serenade
to bid the Nicobar coast a sweet dream.

Sea of turmoil, will you speak
the hour of my death?
until the restful temper of eve
claims Nicobar an Eden

Author: Sarita Diang

Gadis Kecil Tanpa Nyawa Ayah Bunda

Kau lihat bola bening matanya
Mengalir jernih bulir-bulir lara
Karena darinya sumber mata air air mata

Kau lihat langkahnya
Menapak kerikil tajam tanpa alas dari Ayah dari Bunda
Hingga tertinggal jejak-jejak kerikil di kakinya

Kau lihat mukanya
Tertutup kabut kelabu hitam dalam
Guratan asa tergambar di pipi kanan kirinya
Membuat kusam panorama pandang melihatnya

Diraihnya buah dari dahan yang rendah
Tapi bukan kepunyaan Ayah Bundanya
Adalah hari depannya yang kan selalu mengepung
Karena telah dipermainkan jari nasib dengan curang
Sehingga ia terasing dari kasih sayang
Terasing dari keharmonisan
Terdampar di tepian terhindar

Apa lagi yang tinggal
Gadis itu bertanya
Tak mungkin mencoba pertahankan
Hempasan badai dengan seutas benang, mana dapat

Rumahku roboh olehnya
Atap-atapnya tak mampu menaungi kepercayaan
Dinding-dinding pelindung hancur
Tiang penyangga keropos rata juga dengan tanah
Kini semuanya dianggapnya riwayat
Mencoba mengabaikan bisik risih dalam jiwa
Gadis itu terus melangkah jalan
Meski dia tahu tidak semua menuju ke arah taman

Penulis: Amalia Nur Fajriyati

Menahkodai Purnama

Aku hanya mengandalkan cahaya temaram senja di tepian pantai
untuk menulis sebuah puisi yang terlahir dari kegelapan
sebatang bakau dengan abunya yang menyala
menjadi penerang setiap kata

Tiada gulungan ombak juga desir angin
yang mampu menakutiku
semua terasa tenang
ketika lampu-lampu perahu menemani kesunyianku
aku tak peduli jika saja ombak mau membawaku ke pelatarannya
meskipun aku harus mati nantinya
namun dengan syarat
izinkan aku menahkodai purnama
walaupun terombang-ambing oleh gugusan awan

Dan aku ingin berteriak sekeras mungkin
di pantai selatan ini
melepas segala gundahku
hingga senja itu hilang ditelan kegelapan
dan aku ingin benar-benar layak menjadi raja
pada bintang-bintang yang termangu
menatap layar kaca mataku yang buram

Di jendela langit ada samudra
yang mengajak nyawaku berlayar di sana
padahal kakiku masih dibalut pasir-pasir
mustahil aku mampu melunaskan hasratnya
tapi sebuah perjuangan tidak berakhir di sini
aku tetap melangkah menyusuri lorong waktu
mencari jejak-jejak buih yang terdampar
di keasingan hatimu yang pasang-surut
sampai kursi senja mempersilahkan kita
untuk duduk bersama
menatap senja yang kembali bereinkarnasi
memikat roh pada langit di kiblat jiwamu
hingga laut membentuk surat dan perjanjian
mengabarkannya pada ikan dan terumbu karang
seraya berdo’a
memohon kepada Tuhan
untuk berkenan merestui
pernikahan keabadian purnama
di atas kapal yang dinahkodai oleh cinta

Semoga layaklah aku menjadi saksinya

Pantai Jetis, 2018

Penulis: Estu Ismoyo Aji

Akar Tunggang

Layakkah aku
menjadi akar tunggang
yang hidup tenang di matamu
mencari sisa fosil-fosil mikro organisme
tanpa air matamu yang menyuburi tanahnya
kau sering mengubah musim dan jarak
di saat sebuah cinta mulai bermimpi
meleburkan kisah rindu abadi
hingga aku boleh berkata :
layakkah seorang aku

Dan jika musim perkawinan pelangi tiba
kabarkan padaku dengan segera
aku ingin mengikrarkan janji
pada tujuh warna-warnanya
bahwa aku bahagia
melihat tonggak kayu
kembali berseri di wajahnya
yang membawa sari-sari makanan
untuk disajikannya kepada putri daun
dalam proses fotosintesisnya kepada dunia
hingga aku mampu layak menjadi akar tunggang
yang bersemi penuh kewangian di jasad dan jiwamu

Purworejo, Sabtu, 21 April 2018, 00:50 WIB

Penulis: Estu Ismoyo Aji

Origami Malam

/1/
Aku menulis fragmenmu: mengultuskan hujan penghabisan. Senja menenun angin di penghabisan musim sunyi: kediamanku yang disesaki selusin senyap manakala malam datang mengiring pemayaan atasmu yang kemudian aku punah olehnya.

/2/
Aku ingin melampirkan kepadamu sepucuk malam gigil: sepilihan riak ombak yang pernah bertahta atas penghabisan jejak kakimu di atas pasir yang bersepuh purnama ayu. Hujan turun menyemai remang purnama yang semerbak di pelataran agar dia dapat tumbuh menemani lelapmu, agar ia dapat tumbuh dan menetaskan pagi dingin: kediaman isakmu yang fana.

/3/
Aku ingin melukis sunyi dengan bising suara hujan untuk kemudian menyihirnya, menjadikan tubuhmu Malam menjelma pigura anggun membingkai redup purnama untuk kemudian menenunnya, menjadikan teduhmu. Kita adalah kefanaan yang saling bertemu mengucapkan salam perpisahan dalam dekap cahaya matahari penghabisan murung yang dipintal oleh sang kala.

Penulis: Orkestra Bisu

Di Bawah Tenda

bukanlah pencinta Bungur
bila merebut bunga dari rantingnya
menimbulkan suara patah menyerupai kata pamit
dari belantara ungu yang kusebut cinta
lalu meremah di sela jemari
yang tak kunjung menulis puisi

betapa merugi perhiasan aneh yang kau sebut hati
yang tak pernah jera membangun kesedihan di bawah tenda bumi,
tenda bunga yang kita kuliti atas nama kehidupan
kehidupan yang tak ramah bagi yang elok
pun bagi yang jelek rupa
betapa kecewa
bukanlah pencinta Bungur diriku
karena merebut bunga dari rantingnya
bagi telapak tanganku yang papa

Kendari, 2017

Penulis: Astika Elfakhri

Kaca Kita Berkaca-Kaca

-Sebuah Puisi 5 Bagian-
(Mendengarkan album ERA by Mike Dawes, dan mengulang-ulang Zerkalo/The Mirror (1975) by Andrei Tarkovsky)
Dedicated for : T.

I – DEEP PURPLE

Roulette dan Peluru Dingin yang tak sengaja,
Dan kucium keningmu,
Kita akan hempas, sayang ….
Seketika ini atau esok setelah sia-sia, atau dihapus suara gitar,
Yang meraba-raba raut cinta
Yang tak akan pernah bisa

Roulette dan peluru
Kau peluk aku … Tak ada namamu
Kita tak ingin
Tak ada namaku
Kita tak punya
Revolver tak berdosa
Atas nama revolusi
Kemerdekaan tak akan pernah mengerti kita

Roulette dan peluru,
Cerita ini hujan yang berbeda

(17/10 17)

II – KEMILAU

Puisi ini ketidakberdayaan cinta atas mencintai
Namun, juga apa saja yang tak henti aku harapkan ketika hujan
Layang-layang merah sebelum itu
Lagu yang tak ingin selesai
Senyum setelah itu hanyalah ramai yang sama kemudian :
Akan ada tangis …
Akan ada yang tak ingin terhapus …
Kekasih, mungkin kau tak akan mengerti
Menulis adalah penderitaan yang tak pernah berbeda
Dengan, ataupun tanpamu.

(17/10 26)

III – REFLEKSI

Judul, sajak, birama yang patah
Meski tak ada yang menghendaki kata itu
Lalu sia-sia menjadi istilah yang paling romantik
Tak seperti namamu, tak seperti Waltz, tak juga puisi
Kemudian judul, goresan pena, arang, kenangan
Refrain, sampai tanggal mengepung ruang
Dengan ritus setiap hari, dengan waktu
Yang tak lagi singgah di kertas ini
Sampai di seberang sana,
Pada sisa hujan sehari tadi
Cahaya lampu yang menyentuh genang itu
Patah
Namun aku sediakalaku,
Judul, sajak, birama yang patah
Lalu, sia-sia menjadi mula bagi romantika yang lain

(17/10 26)

IV – FORESHADOW

Ladang
Beranda kayu
Piring keramik, teko kaca, dan angin yang jatuh
Berbunyi, membunyi tepi meja musim dingin
Yang tak mengenal padi, atau roti gandum
Hanya pisau perak, dan cermin buram
Dan hangat pipimu pada pipiku
Yang memudar
Ladang, Lumbung, jerami, semak belukar
Lalu akan ada api
Kemudian asap
Mungkin, di hijau dan hujan itu …
Aku masih mencintaimu

(17/10 27)

V – CUTAWAY

Jendela, dan kerit yang tak rela
Entah, barangkali semacam perih
Ada yang tak ingin terbuka, namun ada lebih banyak hal
Yang sangat ingin ditampakkan oleh relung ruang ini
Kepada segenap hal yang dengan liar berjatuhan di luar
Air, sarang burung, abu tembakau, isak, desah
Ranting, pejam, mungkinkah hujan?
Mungkinkah apa saja, namun
Tak satupun suaramu?
Kerit usai perlahan-lahan, kemudian rintik :
Derai deras yang sampai, mengucur dari lapuk langit-langit
mungkin tangis, mungkin bahagia, mungkin hanya tumpah
Lalu terkikis, sebelum perlahan patah, sampai rebah
Sampai dingin, sampai tinta terlepas dari kertas
Dan tak ada nama, tak ada rindu
Tak ada lagi puisi
Hanya basah

(17/10 28)

Penulis: Panji Sadewo

Blue

Maybe it is just one of his random notion,
Or the result of his complex contemplation,
When he blurted out his favourite tone out of summer hue’s gradation
Blue is the calmest colour, he said, it is the epitome of a tragic illusion.

Just look at the sky, he continues without any hesitation,
The bluish hue is just another form of deception,
letting us believe that the sky is within our reach, messing with our ideal conception.
His view of the said tint sadly filled with too much contradiction.

Little that he knows that I agree to disagree on his revelation,
As what I see from the hue itself is the reason for my opposition,
Blue reminds me of him, the object of my absolute adoration,
Filling my sleepless nights with memories that are worth to mention.

If only he knows,
maybe he would finally give the said tint its deserving appreciation.

Penulis: Jennifer Jaenata