Falsafah Tragedi Rindu Kian Memanjang di Kota Dadaku

Nona, mengawali segelintir cemas
ranggas paling ganas di dadaku
Aku ingin titip perihal pada nyala api
yang menari di matamu
Bahwa tragedi paling kukuh:
Adalah tunggalnya kesaksian rindu.

Apalagi yang harus kukatakan pada langit
Bilamana kebenaran dari rinduku
Tak pernah mengenal proklamasi musim
Keadilan kemarau, juga tetas rinai hujan
yang bertandang di pekarangan rumahmu.

apalagi yang harus kusampaikan pada tanah
manakala sejatinya resah
telah berpijak, pada kegersangan batin yang tak pernah bengkak
juga menjadi tulang-belulang harapan
sebagaimana kehendak tuhan
menghadiahkanku tunas kesabaran.

Apalagi yang harus kutitipkan pada angin
Pabila rahim desirnya
Adalah bagian gigil dari tubuhmu.

Apalagi yang harus kurahasiakan padamu
Pabila hakikat dari silau bebayang lain
Larut sirna di mataku
Dan hanya kepadamulah
hendak kupersembahkan segala rindu.

Penulis: Firmansyah Evangelia

Advertisements

Menahkodai Purnama

Aku hanya mengandalkan cahaya temaram senja di tepian pantai
untuk menulis sebuah puisi yang terlahir dari kegelapan
sebatang bakau dengan abunya yang menyala
menjadi penerang setiap kata

Tiada gulungan ombak juga desir angin
yang mampu menakutiku
semua terasa tenang
ketika lampu-lampu perahu menemani kesunyianku
aku tak peduli jika saja ombak mau membawaku ke pelatarannya
meskipun aku harus mati nantinya
namun dengan syarat
izinkan aku menahkodai purnama
walaupun terombang-ambing oleh gugusan awan

Dan aku ingin berteriak sekeras mungkin
di pantai selatan ini
melepas segala gundahku
hingga senja itu hilang ditelan kegelapan
dan aku ingin benar-benar layak menjadi raja
pada bintang-bintang yang termangu
menatap layar kaca mataku yang buram

Di jendela langit ada samudra
yang mengajak nyawaku berlayar di sana
padahal kakiku masih dibalut pasir-pasir
mustahil aku mampu melunaskan hasratnya
tapi sebuah perjuangan tidak berakhir di sini
aku tetap melangkah menyusuri lorong waktu
mencari jejak-jejak buih yang terdampar
di keasingan hatimu yang pasang-surut
sampai kursi senja mempersilahkan kita
untuk duduk bersama
menatap senja yang kembali bereinkarnasi
memikat roh pada langit di kiblat jiwamu
hingga laut membentuk surat dan perjanjian
mengabarkannya pada ikan dan terumbu karang
seraya berdo’a
memohon kepada Tuhan
untuk berkenan merestui
pernikahan keabadian purnama
di atas kapal yang dinahkodai oleh cinta

Semoga layaklah aku menjadi saksinya

Pantai Jetis, 2018

Penulis: Estu Ismoyo Aji

Pemasak Batu, Aku dan Tempat Makan

suatu petang menekuri kisah ibu pemasak batu,
mencari penghiburan diri dalam malam kian tiris,
berharap ringis sang anak tak berubah menjadi tangis yang panjang

ia merayu perut kosong menunggu temaram berubah menjadi terang. tapi, malam kembali enggan untuk cepat beranjak, sebab jenak tak mengubah apa yang ditanak di atas tungku

perih kian melilit, menghadirkan getar pada bibir
kering tak lepas dari komat kamit. apa yang bisa ia
sajikan di dalam piring kaleng, bunyi yang sama
nyaring dengan lapar berteriak tidak sabaran

pada pengharapan, ia menghalau desir angin agar membawa sebutir kurma atau sekerat roti. ingin kenyang menyapa anak yang kelaparan, hingga
Umar datang menyambut keluhan

di suatu ruang, aku menatapi hidangan ruparupa
tersusun di atas baki bermotif bunga. namun perih
masih saja hadir dalam perut kosong yang tak bisa
diisi apa-apa, hanya bisa menatapnya dengan nyalang

apa yang harus aku lakukan, jika setiap butir nasi atau
sekerat roti tak hendak masuk hanya untuk menyapa lambung yang kian berteriak kesakitan,
perihnya sama oleh rasa lapar

aku membuat pengandaian, sajian itu menyelinap diamdiam dan berproses dalam pencernaan, seketika akupun kenyang
aku dan si ibu pemasak batu berdampingan,
menjajari perih karena tak ada makanan terlewat dari kerongkongan

sedangkan di sebuah tempat makan piringpiring
berantakan, berhias tumpuk makanan, tak menjelma
jadi remah bahkan masih utuh tak jadi dimakan,
tersebab soal selera, tak cocok di lidah, berakhir di tempat pembuangan

Ruang Biru, 280218

Puisi Pilihan 3 – Poetry Prairie Literature Journal #8 “Makanan & Manusia”

Penulis: Hida Syifa

World Poetry Day – March 21

Hear the flow of language drifting above this land, traditions and the trinkets of archipelago. These are voices that compose musical arrangement
of life, revives the soul to remote wilderness, wanderer and traditions.

The hymn of poetry is not as complicated as the waves of strait between the islands, the valley between the mountains and the sea, the movement of dance in musical rhythm, the praying rituals, the interwoven of bamboo roots-trunk, a dry moat and precarious harvesting seasons, the shrinkage of latex harvest, sandy early fruit bunch, fish extinction and dense salt residue on the forehead of fishermen.

The harmony of poetry is as close as the heart, as rapid as the bloodflow, as warm as a mother’s hug, as shady as the stopover’s roof, but as strong as wishful heart, as bright as feelings and pure struggle.

Those voices are spreading across the sky, retracing the hills, wading the oceans and islands’ cross or simply emerge in the sweat of devoted bodies above the land of history. Painting life with the colors of culture. Embellishing the symbols of endless struggles.

Every beat of life is looking for legends on the earth’s natural contours and human’s natural character where every breath, wistful thought and trembling heart are smeared with bones and muscles;
Pour the ink of literature as the imagery of life. Life is too poetic to be summarized in a literature holy book. 

#WorldPoetryDay


Dengarlah aliran bahasa melapisi tanah,
tradisi dan pernak-pernik nusantara.
Semua itu adalah suara yang melagukan hidup, menghidupkan jiwa hingga ke pelosok belantara pelintas-tualang tanah dan tradisi.

Madah puisi tak lebih rumit dari ombak selat di antara pulau, lembah di antara gunung dan laut, gerak tari irama gending, ritual doa persembahyangan, jalinan akar-batang bambu, parit kering dan musim panen genting, susut sadapan karet, tebasan buah pasir masir, ikan punah dan pekat residu garam di kening nelayan.

Laras puisi sedekat denyut jantung, selaju aliran darah, sehangat dekap ibu, seteduh atap persinggahan, namun sekuat angan hati, seterang rasa dan murni perjuangan.

Suara-suara itu menjalar di langit,
menapak perbukitan, mengarung samudera dan perlintasan pulau
atau hanya sekadar berdiam di peluh
para pembakti raga di atas tanah sejarah. Menoreh hidup penuh bilur warna budaya. Sarat simbol makna perjuangan yang tak habis-habis.

Setiap denyut kehidupan mencari kisah di atas kontur alami bumi dan watak alami manusia dimana setiap hembus napas, rajam pikir dan getar hati
berbalur dengan gegas tulang dan otot-otot;
Menuang tinta pengeja sastra yang tercitra dalam setiap pertanda kehidupan. Sungguh hidup terlalu puitis untuk dirangkum dalam satu kitab sastra.

#HariPuisiSedunia