Senyuman Manis Si Laut Biru

Anganku terdampar ke seluk-beluk keindahan
merangkai biru nan luas mata memandang
Mengarungi luas-dalamnya kata yang tersimpan
mencoba mengelilingi tiap sudut arti maknanya
mencari sebuah jalan di persimpangan penuh misteri
Untuk pecahkan rahasia mutiara tersembunyi

Suara ombak pemecah karang memangggil namaku
Mengajakku hadir menenmani indahnya rahasia
Bersamanya coba habiskan tiap detik waktu
Menyusuri kemegahan cipta tangan Tuhan
Elok di mata nan jatuh jadi pujaan permata
Bilik lain dari titik keindahan dunia

Sambutan manis menyapaku dalam birunya
Berikan aku pencerahan lain yang menyatu
Telusuri terumbu karang yang menawan nan eksotis
Jelajahi luas hamparan biru pemanja mata
Rumput laut mengayun menari menyambutku
Kerang-kerang cantik menghiasi suasana
Bintang laut bersantai menikmati hari ini

Kepiting laut mencoba menyapa si kuda laut
Barisan penyu siap pula berlari mengintari samudera
Ubur-ubur melayang di laut seraya menari
Kawanan ikan badut melemparkan tawa candanya
Lumba-lumba terbang raih arti kebebasan

Cinta dan rasa berpadu dalam harmoni
Yang dirahasiakan agar utuh lestari maknanya
Dalamnya laut biru bukan pembelenggu rasa takut
Kalah rasa itu dengan mahakarya yang kuasa
Diciptakan untuk suatu titik keindahan
Sebagai permata mutiara yang tersembunyi
Pantaslah matahari senja tenggelam dipeluknya
Hilang dalam kehangatan biru yang ia berikan
Si penyimpan berjuta rahasia keindahan dunia
Terpaut nyata kemegahan yang tercipta dari cinta
Titip rinduku pada pesona kemegahanmu
“Senyuman manis si laut biru”

~Fetra Ardianto~

Advertisements

Bawah Laut Biru

Aku berenang-renang di pinggir pantai
Mencumbu ombak dan pasir yang
silih memberi salam
Aku rasakan hangat mentari ditepis sang awan
Cahaya yang menusuk lautan
Aku berenang-renang tak tahu lagi
Ini hanya keterbatasan pandangan
Kakiku menari-nari di deburan ombak
Namun tak bisa lebih jauh
Ada apa,
Ada apa,
Selanjutnya aku
Ingin melihat para ikan raksasa
Raksasa yang hidup di bawah laut
Sehingga aku sadar betapa kecilnya aku
Mereka bilang itu hanya impian
Cerita para pelaut yang gagal berlayar
Raksasa yang hidup di bawah laut
Berenang bersama paus dan monster laut
Menghangatkan diri di dalam arus
Aku percaya ada kehidupan
Nyanyian merdu sang pegulat laut
Semua ikan dari seluruh dunia
Bertemu di satu bawah laut

~Faisal Yudha Nugraha~

Nyanyian Terumbu Karang

Kuhempaskan tubuh ini, melayang
Menari kalahkan tarian ombak pasang
Terus kumelayang kalahkan air laut garang
Aku terus merekam aneka kisah tak berbilang

Penerangku sayup-sayup soroti terumbu karang
Kulihat mereka bergoyang-goyang
Menggelinding, peluk pasir lautan nan lengang
Dan mulai kudengar nyanyian terumbu karang

Nanana, huhuhu, lang leng lang
Nyanyian itu terdengar amat garang
Terus kugenggam lautan, kudengarkan ia berdendang
Begitu terasa gamang

Nanana, huhuhu, rang reng rang
Bukan lirik biasa ia ulang-ulang
Dua puluh enam detik lalu terkenang
Bersahutan tangisan dengan sorak penuh riang

Terumbu karang nyanyikan kisah malang
Meski ia tak lagi punya hutang
Laut, langit dan ikan pun telah akui dengan girang
Bila terumbu karang selalu berbaik hati tanpa berang

Sedang takdir menjelma suratan sumbang
Dua puluh enam detik lalu tubuh lainnya menghilang
Larut dalam tarian air laut nan lengang
Bola berdembum itu berhasil menghancurkan kisah lautan karang

Nyanyian itu kembali mengadu pincang
Siluet lukisan laut nampak remang-remang
Kala tangan-tangan durhaka itu menyerang
Menyita pengabdiannya pada lautan sang Maha Penyayang

Terumbu karang terus bernyanyi dan berguncang-guncang
Ia murka, teramat garang
Mencabik penghuni lautan karang
Buat mereka tercengang

Sebab terumbu karang mengenang
Sebab terumbu karang menangis dan marah kepada tangan-tangan curang
Yang hancurkan kebahagiaan terumbu karang
Takkah kau kasihan, duhai ciptaan paling istimewa sang Maha Penyayang?

Sendangagung, 14 November 2016
~Rana Rafidha Salsabilla Rachman~


Dialek Rindu Biota Laut

Polip-polip seolah berkedip
Mengintip cahaya menembus ruang lautan
Menghinggapi terumbu karang

Mata biota laut berkerlap kerlip
Dari balik anemon yang bergoyang
Saling bersenggama memadu cinta

Warna warni makhluk berpelita memesona mata
Penyu-penyu tanpa malu mencumbu terlampau rindu
Dari petualangan mengarungi samudera
Menjelajah lautan berarus mesra

Tak tampak duka di mata kepiting tanpa capit
Koral menjepit liang di atas pasir berkilauan
Anak ikan berwarna belang malu-malu tampak dan hilang
Di antara rerumpun tentakel menari-nari menghibur diri

Dari kedalaman nun jauh sisik-sisik mengilap saling bersenggolan
Ikan-ikan bertamu menyapa kawan-kawan baru
Di balik barisan bukit karang,
dihias bias cahaya mentari menembus batas lautan
Tawa haru mengenang bahagia dari ocehan tanpa suara

Refleksi cahaya dengan air berarus
Membentuk pelangi di atas dunia bawah laut
Anemon tak terhitung mencubit ikan badut
Batu-batu saling rindu dengan karang
Pasir memendam cinta bagi ular berwarna indah jua gurita berlengan di kepala
Obrolan gerak-gerik surga dasar lautan yang memesona

~Muhtarudin~

Narasi Dari Laut

lihatlah…!
kehidupan apa yang masih
bermuara pada gelombang
selain badai yang ribut
atau suara payau nelayan
sambil melempar sauh
ada keanehan di dalam yang biru
sebuah ketenangan sejak
beribu tahun yang lalu
tempat ikan-ikan bermigrasi

sejauh mata memandang
ikan-ikan berlayar
membelah dada samudra
kadang terpelanting jatuh
lalu lumat di cerca ragibnya
badai gelombang di bibir pantai
sedang agitasi Tuhan
telah sempurna meracik luka
pada fragmen hatiku
di tempat yang sama
kembali ikan-ikan mati
di bawah terik yang cemas
tapi tetap saja laut tak pernah sepi

ikan diberi kehidupan
ikan memberi kehidupan
laut memberi tujuan
ketika pelabuhan
tak lagi jadi persinggahan
ikan juga memberi kematian
dan membiarkan laut menjadi kuburan
sebagai jalan kepulangan terakhir

kepada Tuhan aku tanyakan
:sempatkah ikan-ikan tertidur
dan bermimpi besok laut akan surut

dari tepi kulihat laut
membungkuk di tubuh bumi
lalu separuh pulau melandai-landai
dan rembulan berkaca-kaca
di kebiruan yang gamang
kususuri malam lautan
penuh simpang-nama ikan
jatuh dari kerangka puisi
seperti cumi-cumi
tertangkap-menikam mata
melumuri kehitaman laut
tersemburat dari tubuhmu
lalu kepada Tuhan aku katakan
:tubuhku, lautan
kutekur mimpi
kutukar sepi
ketika langkah kakiku patah
di persimpangan segala puisi

~Ahmad El-Rama~