Terbakar di Pintu

Perempuan itu menepi. Terbakar di dekat pintu
dan rasa kangen yang ganjen
gamang
kemana gerangan dialamatkan?

Sedangkan hujan kian jauh merantau
pada diri lelaki yang membakar tembakau.
Hai, hidup memang tak tentu, ketika roda berdentam mengagetkan
pecah di sebelah kanan.

Munjul-Pandeglag, 29 Oktober 2015


BURNED AT THE DOOR

That woman stopped over. Burnt near
the door
and a flirtatious longing feeling was
fret
where it should be addressed to?

Whilst the rain keeps wandering away
to a man that burning tobacco.
Hey, life indeed is uncertain, when wheels
are pounding aghast
crashing on the right side

Munjul-Pandeglang, 29th October 2015


Author: Riduan Hamsah
Translated by Poetry Prairie

Riduan Hamsah. Penulis pernah bekerja sebagai jurnalis dan penulis kolom juga aktif menulis karya-karya sastra, sejumlah tulisan dipublikasikan di Harian Media Kalimantan, Radar Banjarmasin, Harian Satelit News (Tangerang), Lampung Post, Majalah Sabili, Majalah Suluh, http://www.wartalambar.com, serta termuat dalam sejumlah buku antologi antara lain; TANAH PILIH, 142 PENYAIR NUSANTARA, dll. Saat ini penulis bekerja sebagai pegawai di Bidang P2PL Dinas Kesehatan Kabupaten Pandeglang, Banten.

Dalam Diam

Janganlah dulu kau pamit
Janganlah dulu kau beranjak
Malam waktu baru menyapa,
Silahkan masuk katanya.
Sunyi masih muda
Alun angin masih menari-nari
lincah

dan kita berdua terduduk di sini
di bangku taman
di bawah pohon rindang
berterangkan hanya sebatang lilin
yang terus leleh dimakan waktu
saling bertatap
dalam diam
diselimuti kabut; kabut bianglala

Arak-arakan gerimis pun datang
mau mampir mereka kata
yang tiap serbuk-serbuk dari mereka membawa
setitik kenangan yang purba

masihlah kita saling balas tatap
masih dalam sunyi
sunyi yang diiringi tembang jejangkrik
diiringi orkestra gerimis
dan angin yang bergesekan
tapi kita rasakan gejolak dari dalam diri
ingin menghambur ria keluar
tapi tak sepatah, dua patah, tiga patah kata pun
berontak dari rongga mulut

malam itu, tak ada kata-kata terucap
tapi segala macam rasa dan pikir
telah sampai ke kami berdua
mesra rasanya.
Hangat.

Malam nyaris gugur, rebah
Fajar akan bertamu sebentar lagi
Mentari sedari tadi curi-curi kesempatan mengintip kami
Kami yang saling bertukar cinta kala sunyi

Bukankah mencintai dalam diam itu
lebih menyenangkan?
Bak gerimis,
disembunyikannya rindu yang meriap
oleh serbuk-serbuk air yang luruh ke tanah
tanpa mengacaukan apa yang ada di sekitarnya.
Tapi mau sampai kapan?
“Andaikata aku…”
Tapi kau ini gerimis!
Janganlah menjelma jadi badai
yang buat risau sekitarnya.

Jakarta, 23 Maret 2016


IN SILENCE

Please, do not say goodbye already
Do not go away
The night has just greet us,
It says please come in.
 The silence’s still young
 The wind’s still dancing agile

and we both sat here
 on a park bench
 under a shady tree
 alighted by a candle
 that melted in time
we were staring to each other
in silent
shrouded in mist; the mist of rainbow

The drizzles’ cortege had arrived
they want to stop by, they said
 when each of their dusts brought
 a speck of ancient memory

still we stared to each other
 still in silence
 with the song of cicadas
 and the orchestra of drizzling rain
 the wind set a friction
but we sensed our inner turmoil
that wanted to burst out
but not one, two or three words came out
rout of the oral cavity

that night, no words were spoken
but all sorts of feeling and thoughts
has clenched us both
it felt intimate.
Warm.

The night was almost falling, and laid down
Soon the dawn would come
The sun was surreptitiously peeking on us
We, that were exchanging love when silent came

Wasn’t it much more merrier when loving secretly?
Like the drizzling rain,
that hid a protrude longing
by drops of water, exuviated to the ground
without interfering the vicinity
But how long it would take?
“If only I…”
But you are the drizzling rain
Don’t transform into a storm
that overwhelmed your surroundings

Jakarta, 23rd 2016


Author: Muhammad Ilham Fauzi
Translated by Poetry Prairie

Muhammad Ilham Fauzi. Lelaki yang tertarik pada dunia sains dan kesenian ini menjadikan kegiatan bersastra dan berteater sebagai sarana pengikis penat dari rutinitasnya di jurusan kampusnya, jurusan fisika UNJ. Saat ini sedang berperan aktif dalam Unit Kesenian Mahasiswa sebagai pengurus bidang Sastra Drama.


Endorfin

image

Aroma tubuhmu telah lama aku simpan dalam bisik nadi
Perahlah, ia begitu suci selayak air yang mengalir dalam pelukku.

Sesekali aku pernah bermimpi menjadi keringat dalam perjalananmu
Menjadi derak nafas yang pasang surut
Seketika engkau mempercepat langkahmu sepanjang kemarau,
sepanjang ephemrida yang engkau tulis kembali.

Continue reading Endorfin

Catatan Pertemuan Luka

image

Air jatuh menyapa tanah
Silap mata Tuhan segala ketidakyakinan menjadi mungkin
Seribu satu warna rasakan deras detak jantung
Bak air mengalir hingga terhenti pada samudera
Satu kata lima huruf satu arti memutar dunia hingga beralih tujuan
Cinta… maha daya zat kuasa manusia

Continue reading Catatan Pertemuan Luka

Rayap dan Karatku

screenshot_2016-05-11-06-55-01-817.jpeg

Dari waktu yang memasungku pada aromamu, masih tak dapat aku dobrak, bahkan sepertinya pasungmu tuli terhadap lapuk, terhadap rayap yang kukirim tiap saat.

Nafsu memalingkanmu tanpa ingin tahu padaku yang terseok dengan pasung berat sambil mengendus-endus asap di antara angin kencang yang terkadang memberitahuku kemana arahmu beberapa hari yang lalu, dan aku tahan nyeri, aku obati robek dengan ludah yang bernanah. Terus aku endus baumu sampai endusan anjing tak lagi mengungguli endusanku.

Continue reading Rayap dan Karatku