Senja di Rahim Hutan

Ada senja
Di kaki dan selasela
Di balik rerimbunan pepohon julang
Di rerumpun akar yang saling menyilang

Ada senja beserta mentari dan gelora bala tentara
Di bias hijau coklat yang membentang
Menggeliat menjilat senyap

Di antara kurcaci dan periperi pohon
Yang bergelantungan dan terbang menarinari
Dongeng masih mengalun di setiap telinga sesemak hutan
Menyatiri luka yang dalam

Continue reading Senja di Rahim Hutan

Perjamuan di Bawah Purnama

Hutan tak jua terpejam mati
Meski wajah langit menetaskan jelaga
Legam, beraroma sepi
Dan lolongan serigala menyambut purnama

Rekah kehidupan baru bergulir
Bagi nocturnal yang melahap getir
Dan kepak-kepak asing berkelebat
Pada pusaran malam nan pekat

Pemangsa merengkuh senyap
Yang berembus di dahan kaku
Mata-mata di antara serasah
Continue reading Perjamuan di Bawah Purnama

Narasi Sewaktu Kecil

Di atas kereta, semua daun lontar jatuh dalam kening hujan. Menurunkan rintik-rintiknya, mengasapi rerumputan dan
berjumpa pada padang senja. Siapakah engkau di sana? Beribu-ribu hujan menelan hutan yang tandus dan berkerlip kisah kereta tua. Pelan-pelan, menguning lewat celah asap di senja ini.

Aku tulis dan duduk dengan kopi di tengahnya. Semua termangun, rerindang api berbulu duduk menjemput awan untuk berkisah dengannya. Hutan katanya: di sana ratusan ikan meloncat, menari dan meminum segelas wine dari daun serta akar pohon pinus muda.
Continue reading Narasi Sewaktu Kecil

Bias-Bias Embun

Sinar cakrawala mulai membuih di langit
Saat embun mulai menetes perlahan
Saat ingin kurengkuh pagi ini di belukar hutan pinus
Sinar yang malu-malu mengintip dari celah-celah daun
Yang membias ke segala arah
Memberikan banyak keindahan

Sampai ada sebuah cerita dari kisah
Dimana embun mulai menabuhkan gendang nyanyian
Seperti bisikan yang lemah
Tapi terdengar merdu di telinga
Nyanyian alam yang begitu merindu
Di tengah hutan pinus

Continue reading Bias-Bias Embun

The Tunes of Earth

Ever clearer in search, through will unfettered
expanding as the rays, where no fear’s define
so now, I tread at the flowering bridge
to sense thy scent, never to return

…and each lonely trees that devours this path
felt how my passion is wanting
to enter the fathomless forest
with shut eyes as the sacred rose
regardless of all-vanity

Continue reading The Tunes of Earth

Di Sebuah Ranjang

Dia janjikan sebuah air terjun
Deras di sebuah ranjang
Beserta sungai elok
Berkelok
Yang membuat kau pada akhirnya
Penasaran bagaimana
likunya

Lantas, dia berbisik “Sungai itu,
terletak di pedalaman
hutan,”
Kau merinding, dia berdalih dingin kau
akan sembuh dengan
pelukan

Continue reading Di Sebuah Ranjang

Blokade Utan

Panggung teater baru saja ditutup
baru ribuan bulan yang lalu

penampilannya menarik
ambon-ambon gemulai menari
dengan ribuan pokok hijau yang memainkan kecapi
hening seluruh
dengan selimut embun dan kabut
membubung di antara sela daun-daun mereka

bedana dan zapin dari meranti-meranti
tiba-tiba memecahkan hening
spektakuler!
Rentak tari mereka begitu memesona
bahagia membubung
senang kali semua penonton
: terdiri dari binatang-binatang dan jin-jin hutan.
tak ada manusia

Continue reading Blokade Utan

Meraba Jejak-Jejak Hutan

|1|
adakah sisa setapak dalam ragamu?
aliran desah lembut akar-akar
mendeburkan ombak di bawahmu
pertanda kehidupan kami yang tumbuh dan gugur
laksana dedaunan yang kelak menambal retak tanah.
adakah pohon-pohon
ikuti jejak kakiku
sebab kurasakan hempasan nyawa demi nyawa
dari ragamu
merasuk boneka-boneka tanah
jadilah kami.

Continue reading Meraba Jejak-Jejak Hutan

Pohon Rindu

pohon rindu itu tumbuh subur
meski hujan yang kau janjikan tak pernah mengguyur

musim kemarau hanyalah ancaman
yang tak bisa merobohkan pohon rindu yang menjulang

kini, telah kusiapkan sebuah keranjang
untuk menampung buah pertemuan
yang bergantungan di setiap dahan

Sumenep, Januari 2015

Fajri Andika. Lahir di Sumenep, Madura. Bergiat di Komunitas Rudal, dan juga aktif di Komunitas Menulis Pinggir Rel (MPR) Yogyakarta. Lidah bisa bersilat, tapi tidak dengan pena (puisi). Untuk itulah saya suka dan cinta pada puisi. Ia telah mengajari saya untuk selalu “jujur” dalam segala hal, termasuk dalam asmara.

Menara Oksigen

Selagi masih ada nyanyian
Sembari menularkan sejuk
Kau misterius yang selalu menjawab semua nafas pekat
Kegembiraan yang tidak tersentuh belulang catatan
Tetaplah terjaga!
Sebab kantuk hanya milik mereka yang kekenyangan
Namun pada sela ketiak dan bulu-bulu kakimu
Tengah saling sahut kuasa di tangan kuasa, rakus yang tiada
berpuasa

Payung pancaran mataharimu lalu berlarian
Ke liang api, menuju lembaran bertuan,
sebagian sisa memeluk beton
Para penjagal itu
Sikapnya manja, penjaja beringas yang tersenyum
Kelopaknya benderang mengaku seusia keluargamu
Kalau kepalamu sudah bersenyawa dengan letih senja
Seragam serdadu, akankah kusam esok pagi?
Kau tidak berdiri, seluruh paru rubuh

Jember, 03 Agustus 2015

M. Zaenul Muttaqin. Terbiasa pura-pura sembunyi seperti puisi.