Kepada Laut

:mengenang We Cudai

Di dermaga dekat kotaku
Kau adalah laut yang paling palung
Sejejer karang karam di dasar sukmamu
Menyeruak cahaya dalam gulita katakata

Segerombol camar kerap ramai mengunjungiku
Sekedar berbagi berita tentang dirimu yang tak lagi biru
Ombakmu yang berhenti bisu
Atau anginmu yang lupa deru

Di suatu senja yang asin
Cecar tanya berlomba
Guyur di atas luka yang makam.

Makassar, 2017

Penulis: Syahrir Baso Pajalesang


To The Ocean
Reminiscing We Cudai

At the quay near my town
You are the ocean with deepest trough
Along side of sinking corals at the bottom of your soul
Lights beamed from the darkness of words

A flock of gulls often visited me
To share stories about you that is no longer blue
Your mute waves
Or your wind that forgets to roar

In one salty twilight
Rally of questions begin to race
Deluge over the grave of wound

Makassar, 2017

Author: Syahrir Baso Pajalesang

Translated by Poetry Prairie

Senja yang Marah

Senja yang marah
Merajuk sepi di penghujung hari
Mengingat segala liku
Membasuh segala luka
Mengikat segala lupa 

Tetes keringat dari langit
menyeruak aroma kepulangan yang dinanti sejak waktu.
Jika kembali adalah hatimu
maka pergi adalah perih yang mesti diikhlaskan
_sebisa mungkin.

Senja semakin marah
Sebab jemari kata seringkali hunus yang paling tajam
Mencabik maruah yang disemat setinggi tiangtiang penantian
Mengoyak diri sehasta demi sehasta
Melawan gerus yang dipahat waktu
_sekuat tenaga.

Senja masih saja marah.
Di suatu sepi yang menyendiri,
kepulan asa telah menggantung di sudut mata.

Palopo, 2017

Penulis: Syahrir Baso Pajalesang


WRATH OF TWILIGHT

A wrath of twilight
Sulking silently when day ends
Recall every twist
Wash out every wound
Tie up every obliviousness

The sweat drops from the sky
bursting the scent of homecoming that has been awaited
If return is your heart
then go is the pain that must be endure whole-heartedly
_as strong as possible.

The wrath of dusk is getting deeper
Because fingers of words mostly the sharpest thrust
Tearing dignity apart as high as piles of waiting
Ripped us bit by bit
Battling the carving of time
_with all might.

Dusk still keeps its wrath.
In secluded loneliness
the cloud of hope string up in the eye’s corner.

Palopo, 2017


Author: Syahrir Baso Pajalesang

Translated by Poetry Prairie

Membatu Di Depan Kaca

Selepas tidak melakukan apa-apa, lalu apa-apa tidak bisa dilakukan, karena batas mengatur setiap apa: beku yang terjamah mata—pikiran terlanjur menjadi negara, mengapung atas pertanyaan sendiri.

Aku tak tahu.
Ketika menemuimu, sebuah pistol melekat di pipi, tak terasa ledaknya tapi mulut tak bisa bersuara, itu sekilas cahaya.
Denyar membawa jiwa karam ke dasar seperti sebuah pasar. Berbinar-binar warna perempuan melekat di kaca dan gambar-gambar kapitalis.

Mati sajalah aku. Cekik celanaku.
Seorang anak kecil datang dari sebuah toko menyodorkan proposal. Aku tak punya apa-apa. Apa dia mau mendengar dongeng filsafat?

Mati sajalah aku.
Aku terus dibawa tanpa paksa atau provokasi. Tanpa suapan atau negosiasi yang lebih demokratis.
Tubuhku membatu di depan kaca.
Cahaya itu basah, mengalir.

Penulis: M. Roisul K.

PETRIFIED IN THE MIRROR

After doing nothing, then everything cannot be done, because limitation regulates everything: the frozen untouched by eyes -mind has became a state, floating above questions.

I don’t know.
When I met you, a pistol was right next to the cheek, I felt the explosion but mouth is soundless, in a glimpse of light.
Trills wrecked the soul to a market-like floor. Glowing colors of women are embedded in mirrors and capitalist pictures.

Just let me die. Choke my pants.
A little boy came from a shop with a proposal. I have nothing. Did he want to hear a philosophy tales?

Just let me die.
I was constantly taken without force or provocation. Without bribery or democratic negotiation.
My body was petrified in front of the mirror.
The light was wet, flowing.

Author: M. Roisul K.
Translated by Poetry Prairie

A Mother’s Vow

She walked as bright as candle light in a silent cold night
She was a delicate one that strongly gave birth to her divine love
Her loving tears are the fibrious sea in her heart
Washing off the shore with the chants of children’s voice in the wind

From the darkness of her womb she lit her vow
For her soul to kiss the rain of gallant ardour
She whispered softly,

Fly, fly my love
My children of heaven
I am your earth when you passthrough
The archway in the sky

December 22, 2016
Happy Mother’s Day


Sumpah Ibu

Ia berjalan seterang lilin di malam dingin gelap
Ia adalah kelembutan yang dengan kuat melahirkan cinta teristimewa
Air mata kasihnya adalah jalinan laut di hatinya
Membasuh pantai dengan gema nyanyian suara anak-anak di atas angin

Dari gelap rahim ia nyalakan sumpah
Bagi jiwanya ‘tuk mencium siraman hujan hasrat agung
Ia berbisik lembut,

Terbang, terbanglah cintaku
Anak-anak surgaku
Akulah bumimu ketika kau melintasi
Lengkung langit tinggi

22 Desember 2016
Selamat Hari Ibu

Melawan Ingat

Hentakkan kakimu
Hempas dia dalam hatimu
Lihatlah ruang dan waktu
Masihkah ada kamu
Masihkah ada lukisanmu di dia
Cobalah menerka
Rasakan dengan nuranimu
Tatap apa yang ada di pandangannya
Jangan luka
Jangan pernah luka
Kosong yang ada
Senyum itu dari pikirannya
Senyumnya penuh rencana
Tangannya di bawah
Tangannya menengadah
Layunya rasa dalam hatimu
Itu rahasia pencipta dan ciptaan-Nya

Parasnya memang silau
Hatinya begitu redup
Pikirannya begitu picik
Logika terlalu sakit
Hidupnya penuh dusta
Topeng kebaikan terpasang
Seluruh hamba Tuhan mengiyakan
Mengiyakan apa yang diperbuat
Mengiyakan adab busuk tak terlihat
Tawanya terbaca lukaku
Langkahnya tersimpan karma dariku

Dia itu sang pengelana
Sang pengembara
Mungkin juga pujangga
Hingga waktu bumi berhenti
Dan nafasnya tak ada lagi
Dia baru mengerti
Dia baru memahami
Arti diciptakan
Arti kasih sayang

*


AGAINST REMEMBRANCE

Stomp your feet
Throw him inside your heart
Look at the space and time
Are you still there
Is the picture of you still with him
Try to guess
Feel with your conscience
Look what’s inside his stare
Do not be hurt
Be never hurt
Vacant,
That smile is from his mind
His smile is full of plans
His hand’s below
His hand looks up
Withering sense in your heart
That’s the creator’s secret and His creation

His face is glowing
Yet his heart is so dim
His mind is shortsighted
The logic is too sick
His life is full of lies
The goodwill mask attached
The servants of the Lord agreed
Affirmed what he has done
Agreed his invisible foul deeds
His laughter read by my wounds
His steps keeping the karma from me

He is the rover,
The traveler,
Perhaps also a poet
Until the time of earth stops
And his breath is no longer exist
Then he’ll understand
Then he’ll start to understand
The meaning of being created
The meaning of affection

*

Author: Fitri Anggarsari
Translated by Poetry Prairie

Fitri Anggarsari. “Saya suka menuliskan semua cerita tentang hidup saya, karena saya bingung harus bagaimana. Dengan menulis, emosi dan unek-unek bisa terluapkan.”

Tentang Datang dan Pergi

Malamku begitu sepi tanpa sekelibat parasmu, canda tawa yang dahulunya tak pernah absen untuk duduk di serambi hatiku kini tinggal debu

Wanita itu yang merenggutmu dari pangkuanku, karena kekuranganku yang selalu memantrai setiap sudut matamu

Bahkan kepak sayapku tak mampu meyakinkan agar kau tetap tinggal, meski tergelepar perih dan tergeletak kaku

Sungguh, aku tak sedang meratapi kepergianmu. Namun entah mengapa ada getar yang tertinggal tatkala sepi merajam diri

Ada sesak yang kian menghambur tatkala simponi terdengar lirih

Ini wanitamu yang merasa rapuh, digenggamnya seberkas pesan masa lalu, tentang kasih dan mengasihi, tentang datang lalu pergi

Tersenyumlah luka, sampai matahari mencumbu purnama. Saat gemintang bersinar di langit biru. Aku akan menunggu kau pulang.

Meski batu berlubang yang melingkar di jari manisnya mencegatku dari tatap matamu, aku akan tetap merindukanmu dengan setangkai bunga layu.

Diamku adalah duka, diammu adalah luka

Jombang, 25/01/2015

——————————-

About Arrival and Departure

My night’s too quiet without the glance of your face, laughter that used to sit on the porch of my heart now lives in dust

A woman breached you out of my caress, because my flaws had always jinxed each corner of your eye

Not even my flapping wings could assure you to stay, though I was sorely broken and stiffly laid on the floor

Truthfully, I’m not lamenting your departure. Yet somehow a vibration strikes when loneliness stoning my heart

There’s a stertorous feeling, burst out when the symphony was softly singing

This is your fragile woman, holding the scratch of letters from the past, about love and loving, about coming then leaving

Smile, O wound, until the sun kisses full moon. When stars are shining in the blue sky. I’ll wait for you to come home.

Though the hollow stone that circled her finger is blocking me from your eyes, I will always be missing you with a sprig of wilted flowers.

My silence is grief, your silence is wound

Jombang, 01/25/2015


Author: Shella Wani
Translated by Poetry Prairie

Shella Wani. Seorang mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Surabaya. Pernah tergabung dalam beberapa antologi puisi, dan tulisan-tulisannya banyak di muat di Tabloid Gema Unesa. Kini tinggal di Tugu Kesamben Ngoro Jombang.

Terbakar di Pintu

Perempuan itu menepi. Terbakar di dekat pintu
dan rasa kangen yang ganjen
gamang
kemana gerangan dialamatkan?

Sedangkan hujan kian jauh merantau
pada diri lelaki yang membakar tembakau.
Hai, hidup memang tak tentu, ketika roda berdentam mengagetkan
pecah di sebelah kanan.

Munjul-Pandeglag, 29 Oktober 2015


BURNED AT THE DOOR

That woman stopped over. Burnt near
the door
and a flirtatious longing feeling was
fret
where it should be addressed to?

Whilst the rain keeps wandering away
to a man that burning tobacco.
Hey, life indeed is uncertain, when wheels
are pounding aghast
crashing on the right side

Munjul-Pandeglang, 29th October 2015


Author: Riduan Hamsah
Translated by Poetry Prairie

Riduan Hamsah. Penulis pernah bekerja sebagai jurnalis dan penulis kolom juga aktif menulis karya-karya sastra, sejumlah tulisan dipublikasikan di Harian Media Kalimantan, Radar Banjarmasin, Harian Satelit News (Tangerang), Lampung Post, Majalah Sabili, Majalah Suluh, http://www.wartalambar.com, serta termuat dalam sejumlah buku antologi antara lain; TANAH PILIH, 142 PENYAIR NUSANTARA, dll. Saat ini penulis bekerja sebagai pegawai di Bidang P2PL Dinas Kesehatan Kabupaten Pandeglang, Banten.

Dalam Diam

Janganlah dulu kau pamit
Janganlah dulu kau beranjak
Malam waktu baru menyapa,
Silahkan masuk katanya.
Sunyi masih muda
Alun angin masih menari-nari
lincah

dan kita berdua terduduk di sini
di bangku taman
di bawah pohon rindang
berterangkan hanya sebatang lilin
yang terus leleh dimakan waktu
saling bertatap
dalam diam
diselimuti kabut; kabut bianglala

Arak-arakan gerimis pun datang
mau mampir mereka kata
yang tiap serbuk-serbuk dari mereka membawa
setitik kenangan yang purba

masihlah kita saling balas tatap
masih dalam sunyi
sunyi yang diiringi tembang jejangkrik
diiringi orkestra gerimis
dan angin yang bergesekan
tapi kita rasakan gejolak dari dalam diri
ingin menghambur ria keluar
tapi tak sepatah, dua patah, tiga patah kata pun
berontak dari rongga mulut

malam itu, tak ada kata-kata terucap
tapi segala macam rasa dan pikir
telah sampai ke kami berdua
mesra rasanya.
Hangat.

Malam nyaris gugur, rebah
Fajar akan bertamu sebentar lagi
Mentari sedari tadi curi-curi kesempatan mengintip kami
Kami yang saling bertukar cinta kala sunyi

Bukankah mencintai dalam diam itu
lebih menyenangkan?
Bak gerimis,
disembunyikannya rindu yang meriap
oleh serbuk-serbuk air yang luruh ke tanah
tanpa mengacaukan apa yang ada di sekitarnya.
Tapi mau sampai kapan?
“Andaikata aku…”
Tapi kau ini gerimis!
Janganlah menjelma jadi badai
yang buat risau sekitarnya.

Jakarta, 23 Maret 2016


IN SILENCE

Please, do not say goodbye already
Do not go away
The night has just greet us,
It says please come in.
 The silence’s still young
 The wind’s still dancing agile

and we both sat here
 on a park bench
 under a shady tree
 alighted by a candle
 that melted in time
we were staring to each other
in silent
shrouded in mist; the mist of rainbow

The drizzles’ cortege had arrived
they want to stop by, they said
 when each of their dusts brought
 a speck of ancient memory

still we stared to each other
 still in silence
 with the song of cicadas
 and the orchestra of drizzling rain
 the wind set a friction
but we sensed our inner turmoil
that wanted to burst out
but not one, two or three words came out
rout of the oral cavity

that night, no words were spoken
but all sorts of feeling and thoughts
has clenched us both
it felt intimate.
Warm.

The night was almost falling, and laid down
Soon the dawn would come
The sun was surreptitiously peeking on us
We, that were exchanging love when silent came

Wasn’t it much more merrier when loving secretly?
Like the drizzling rain,
that hid a protrude longing
by drops of water, exuviated to the ground
without interfering the vicinity
But how long it would take?
“If only I…”
But you are the drizzling rain
Don’t transform into a storm
that overwhelmed your surroundings

Jakarta, 23rd 2016


Author: Muhammad Ilham Fauzi
Translated by Poetry Prairie

Muhammad Ilham Fauzi. Lelaki yang tertarik pada dunia sains dan kesenian ini menjadikan kegiatan bersastra dan berteater sebagai sarana pengikis penat dari rutinitasnya di jurusan kampusnya, jurusan fisika UNJ. Saat ini sedang berperan aktif dalam Unit Kesenian Mahasiswa sebagai pengurus bidang Sastra Drama.


Di Bawah Langit Agustus

Mari bicarakan rindu (lagi)
Yang datang secara tiba-tiba pun tanpa aba-aba
Bukan salah siapa, hanya saja hadirnya memang nyata
Walau tanpa terka
Ada, di waktu menikmati pesona malam-Nya
Pada rasi bintang yang samar di antara rasa yang menguat 

Lalu kubiarkan berhamburan di pelataran takdir,
menjelma menjadi sebuah kata berwujud kepastian

Maka, tak perlu lagi kutanya kabarmu pada-Nya
Sebab di langit kerinduan itu aku tahu, bahwa harap itu perlahan kian pudar tergerus waktu

Seperti halnya cahaya dari konstelasi yang mengisi langit malam ini

Karena kita,
adalah dua beda yang tengah mencari arah

Karena kita,
adalah dua yang saling menunggu pada genggaman takdir


Under August Sky

Let’s talk about longing (again)
Which come so suddenly without a cue
No one’s fault, it’s just that its presence is real
Though without a guess
There, in the time to enjoy the charm of His night
In the faint constellations between a stronger feeling

Then I let it bursts in the court of destiny,
transforms into a tangible word of certainty
So, I need not to ask about you to Him
Because in that sky of longing I know
that hope is slowly fading, erodes in time

Just as the light of the constellations that fills the sky tonight

Because we,
are two differences that seek our direction

Because we,
are two that await on the grip of destiny

©Putri Adhitya

Cahaya Sirius Si Perangkai Canis Mayor

Berjuta terang menghiasi gelap gulita
Tak peduli akan takut pada malam
Menghapus kian ribu mimpi buruk
Merobek penuh ragu dalam sunyi
Mencoba jauh lihat wajah langit
Mengagumi kemegahan ciptaan Tuhan

Gugusan bintang menyapu sepi
Membangun jalinan arti rasi
Ditemani jutaan rangkai bintang
Mengizinkan anganku melayang
Tampak pancaran sinar paling terang
Mencoba memanggil suatu tanya

Siapa bintang paling terang itu?
Seolah menyambut pula memanggilku
ia ambil alih sorot pandanganku
Menatap langit gelap menuju arahnya

Kutanya pada segenap bintang…
siapakah dirinya itu?
Bertanya pada sang rembulan
Siapakah cahaya penerang itu?
Mencoba tuntaskan segala kata tanya

Lalu bintang berikan jalannya
Pada rasi canis mayor ia tinggal
Mencoba cari siapa namanya
Sang perangkai canis mayor

Kepadamu gelap kubertanya
Penuh terang yang jauh kugapai
Mencoba hiasi malamku nan sepi
Sirius sang perangkai

Tak ingin malam ini laju
Merapuh lalu usai
Ingin terus memandangimu
Tak penat menatap wajah langit
Cahayamu menggetarkan rongga hati
Kepadamu sirius si perangkai canis mayor

Curup, 7 Agustus 2016


Sirius Light The Canis Major’s Designer

Millions of light adorn total darkness
No matter how scared at night
Erase thousands nightmares
Ripping doubtfully in silence
Try to see the face of sky from a distance
Adore His grandeur divine creations

The stars’ clusters sweep this silence
Build the tangles of constellations
Accompanied by a million truss of stars
Allow my thoughts to wander
I see the most bright light
Trying to call a wonder

Who is that most bright star?
As if it greets me and call
It takes over my sight
Staring at the dark sky toward the star

I ask the stars, who it was?
I ask the moon
Who is that torch of light?
Trying to complete all the wonders

Then stars open their way
To Canis Major it lives
I try to seek its name
The Canis Major’s designer

To darkness I ask
So bright that’s so far
Trying to decorate my hollow night
Sirius the coupling

I don’t want this night to run
Fragile then done
I want to look through at you
Staring the face of sky
Your light thrills the cavities of heart
To you Sirius, the Canis Major’s designer

Curup, August 7th 2016

©Fetra Ardianto