Pendahuluan

1/ SILIR Tak bisa lagi diajak berkompromi Berat, terasa berat melawannya Hawa dingin menyergap, menyelimuti layaknya kabut di pagi buta Ketukan detik jam terus berputar Berputar, berputar semakin cepat Air mengalir keluar dari mata, mengambang dan jatuh Suara yang terdengar bagai kereta cepat Hanya lewat sepintas tanpa disadari Dengan suara lirih selirih hembusan nafas manusia …

Continue reading Pendahuluan

Gelora

Dalam karung itu matahari ia pikul, ada juga jumawa yang sengaja ia jinjing tinggi tinggi. Lalu ketika hujan tumpah, dan menguyubkannya. Ia masih saja berkisah "Matahari ini kan tetap merajai semesta" Ia yang buta dengan benderang obor di tangannya. Dihadapnya, sumbu peletup segala dermaga dengan puluhan drum berisi rum. Satu ledakan mampuskan beberapa anak kecoa …

Continue reading Gelora

Kasidah Air Mata

;Teruntuk Neng Ozara Selamat malam luka, selamat hijrah ke hatiku Apalagi yang semestinya hendak kututupi berkali-kali pada sepi Bilamana sekuntum mawar di tubuhku, perlahan gugur Mengering dedaunannya, sebab penindasan kemarau Tak henti-hentinya kau kirim dari senyummu Bahkan, seratus duri-durinya Pasrah menancap di curam dadaku. Terimakasih luka, perih yang kau wasiatkan padaku Telah sempurna menjadi riuh …

Continue reading Kasidah Air Mata

Falsafah Tragedi Rindu Kian Memanjang di Kota Dadaku

Nona, mengawali segelintir cemas ranggas paling ganas di dadaku Aku ingin titip perihal pada nyala api yang menari di matamu Bahwa tragedi paling kukuh: Adalah tunggalnya kesaksian rindu. Apalagi yang harus kukatakan pada langit Bilamana kebenaran dari rinduku Tak pernah mengenal proklamasi musim Keadilan kemarau, juga tetas rinai hujan yang bertandang di pekarangan rumahmu. apalagi …

Continue reading Falsafah Tragedi Rindu Kian Memanjang di Kota Dadaku

Suatu Saat Nanti

Suatu saat nanti kau pulang Datanglah ke tepi gunung dekat pantai tempat kita menanak rindu Aku sudah menantimu di sana Ayah sendiri pernah berlayar dan Menebar debar asmaranya di sana Bersama selembar malam dan sebuah sepi Kita dipancang ke pelupuk pertiwi Tak ada yang berubah Toilet dan kamar mandi masih ada Fotomu juga masih pajang …

Continue reading Suatu Saat Nanti

Menahkodai Purnama

Aku hanya mengandalkan cahaya temaram senja di tepian pantai untuk menulis sebuah puisi yang terlahir dari kegelapan sebatang bakau dengan abunya yang menyala menjadi penerang setiap kata Tiada gulungan ombak juga desir angin yang mampu menakutiku semua terasa tenang ketika lampu-lampu perahu menemani kesunyianku aku tak peduli jika saja ombak mau membawaku ke pelatarannya meskipun …

Continue reading Menahkodai Purnama

Di Bawah Tenda

bukanlah pencinta Bungur bila merebut bunga dari rantingnya menimbulkan suara patah menyerupai kata pamit dari belantara ungu yang kusebut cinta lalu meremah di sela jemari yang tak kunjung menulis puisi betapa merugi perhiasan aneh yang kau sebut hati yang tak pernah jera membangun kesedihan di bawah tenda bumi, tenda bunga yang kita kuliti atas nama …

Continue reading Di Bawah Tenda

Bulan Nampak Lebih Kecil di Kotaku

Di kotaku pintu-pintu setengah terbuka adat peluh yang berpesta di pelupuk mata belum juga punah di bahu kurus trotoar debu lebih deras dari keringat pejalan kaki hujan terbata-bata puisi-puisi yang lahir bersama embun harakiri di penghujung hari di pusat kota terlihat puluhan bencana tetapi bila mata dipicingkan jumlahnya berjuta-juta seperti kuman di sela kuku jemari …

Continue reading Bulan Nampak Lebih Kecil di Kotaku

Kaca Kita Berkaca-Kaca

-Sebuah Puisi 5 Bagian- (Mendengarkan album ERA by Mike Dawes, dan mengulang-ulang Zerkalo/The Mirror (1975) by Andrei Tarkovsky) Dedicated for : T. I - DEEP PURPLE Roulette dan Peluru Dingin yang tak sengaja, Dan kucium keningmu, Kita akan hempas, sayang .... Seketika ini atau esok setelah sia-sia, atau dihapus suara gitar, Yang meraba-raba raut cinta …

Continue reading Kaca Kita Berkaca-Kaca

Blue

Maybe it is just one of his random notion, Or the result of his complex contemplation, When he blurted out his favourite tone out of summer hue's gradation Blue is the calmest colour, he said, it is the epitome of a tragic illusion. Just look at the sky, he continues without any hesitation, The bluish …

Continue reading Blue