Do You See What I See?

My love, do you see what I see? cloudless night illuminated by the moon that shine on the beggar kid who just want a silver spoon My love, do you see what I see? amidst the edifices of banal desire where money is gain and power is win there is a man who never had …

Continue reading Do You See What I See?

Eloquent Silence

I sat there with the eloquent silence, with the laughter and tears that are not meant to be heard, yet felt. Having a conversation with sanity on how to stay sane with all the insanity around. Asking the voiceless sound that was on the verge of breaking out, how to stay quiet with all the …

Continue reading Eloquent Silence

Menahkodai Purnama

Aku hanya mengandalkan cahaya temaram senja di tepian pantai untuk menulis sebuah puisi yang terlahir dari kegelapan sebatang bakau dengan abunya yang menyala menjadi penerang setiap kata Tiada gulungan ombak juga desir angin yang mampu menakutiku semua terasa tenang ketika lampu-lampu perahu menemani kesunyianku aku tak peduli jika saja ombak mau membawaku ke pelatarannya meskipun …

Continue reading Menahkodai Purnama

Akar Tunggang

Layakkah aku menjadi akar tunggang yang hidup tenang di matamu mencari sisa fosil-fosil mikro organisme tanpa air matamu yang menyuburi tanahnya kau sering mengubah musim dan jarak di saat sebuah cinta mulai bermimpi meleburkan kisah rindu abadi hingga aku boleh berkata : layakkah seorang aku Dan jika musim perkawinan pelangi tiba kabarkan padaku dengan segera …

Continue reading Akar Tunggang

Only If Your Eyes

Only if your eyes can see You'll find the beauty of god in all beings Only if your eyes can touch You'll find smoothness in your life, even for the roughest part Only if your eyes can hear You'll be startled by the words of god in all creatures For as long as your eyes …

Continue reading Only If Your Eyes

Di Bawah Tenda

bukanlah pencinta Bungur bila merebut bunga dari rantingnya menimbulkan suara patah menyerupai kata pamit dari belantara ungu yang kusebut cinta lalu meremah di sela jemari yang tak kunjung menulis puisi betapa merugi perhiasan aneh yang kau sebut hati yang tak pernah jera membangun kesedihan di bawah tenda bumi, tenda bunga yang kita kuliti atas nama …

Continue reading Di Bawah Tenda

Bulan Nampak Lebih Kecil di Kotaku

Di kotaku pintu-pintu setengah terbuka adat peluh yang berpesta di pelupuk mata belum juga punah di bahu kurus trotoar debu lebih deras dari keringat pejalan kaki hujan terbata-bata puisi-puisi yang lahir bersama embun harakiri di penghujung hari di pusat kota terlihat puluhan bencana tetapi bila mata dipicingkan jumlahnya berjuta-juta seperti kuman di sela kuku jemari …

Continue reading Bulan Nampak Lebih Kecil di Kotaku

Kaca Kita Berkaca-Kaca

-Sebuah Puisi 5 Bagian- (Mendengarkan album ERA by Mike Dawes, dan mengulang-ulang Zerkalo/The Mirror (1975) by Andrei Tarkovsky) Dedicated for : T. I - DEEP PURPLE Roulette dan Peluru Dingin yang tak sengaja, Dan kucium keningmu, Kita akan hempas, sayang .... Seketika ini atau esok setelah sia-sia, atau dihapus suara gitar, Yang meraba-raba raut cinta …

Continue reading Kaca Kita Berkaca-Kaca

Blue

Maybe it is just one of his random notion, Or the result of his complex contemplation, When he blurted out his favourite tone out of summer hue's gradation Blue is the calmest colour, he said, it is the epitome of a tragic illusion. Just look at the sky, he continues without any hesitation, The bluish …

Continue reading Blue

Dia Dalam Waktu, Musim dan Pertigaan Jalan

Dia, seorang perempuan di pertigaan jalan. Di hari pertama kumelihat dia tidak begitu jelas Rabun seperti embun yang menguap di sela-sela pinus di tebing perbukitan Dalam redupnya awan yang siap menghujani tanah-tanah gersang Dia yang sendiri menatap kosong sebuah keramaian, antara menunggu dan ditunggu Dia, seorang perempuan dalam penantian pada pertigaan jalan. Dia, seorang perempuan …

Continue reading Dia Dalam Waktu, Musim dan Pertigaan Jalan