Eloquent Silence

I sat there with the eloquent silence, with the laughter and tears that are not meant to be heard, yet felt. Having a conversation with sanity on how to stay sane with all the insanity around. Asking the voiceless sound that was on the verge of breaking out, how to stay quiet with all the madness around.
Not one shows any sign of answering the questions.

Distracted, uncertain, anxious, yet thrilled.

Then I start asking happiness, how to stay blossom when the garden is on fire.
Asking how love felt when it was humiliated, betrayed.
You are not ought to feel helpless, do not run away from yourself, they said.
Conquer your demons, love until nothing left but ashes in your bones.

The conversations went on for years
My brain attained the answers, yet stills no sign of knowing how to execute them.
Then patience came out and told me not to give up yet, told me to stop asking questions and let heart find its way out of the opaqueness.

(by Dimitri Josephine)

Advertisements

Menahkodai Purnama

Aku hanya mengandalkan cahaya temaram senja di tepian pantai
untuk menulis sebuah puisi yang terlahir dari kegelapan
sebatang bakau dengan abunya yang menyala
menjadi penerang setiap kata

Tiada gulungan ombak juga desir angin
yang mampu menakutiku
semua terasa tenang
ketika lampu-lampu perahu menemani kesunyianku
aku tak peduli jika saja ombak mau membawaku ke pelatarannya
meskipun aku harus mati nantinya
namun dengan syarat
izinkan aku menahkodai purnama
walaupun terombang-ambing oleh gugusan awan

Dan aku ingin berteriak sekeras mungkin
di pantai selatan ini
melepas segala gundahku
hingga senja itu hilang ditelan kegelapan
dan aku ingin benar-benar layak menjadi raja
pada bintang-bintang yang termangu
menatap layar kaca mataku yang buram

Di jendela langit ada samudra
yang mengajak nyawaku berlayar di sana
padahal kakiku masih dibalut pasir-pasir
mustahil aku mampu melunaskan hasratnya
tapi sebuah perjuangan tidak berakhir di sini
aku tetap melangkah menyusuri lorong waktu
mencari jejak-jejak buih yang terdampar
di keasingan hatimu yang pasang-surut
sampai kursi senja mempersilahkan kita
untuk duduk bersama
menatap senja yang kembali bereinkarnasi
memikat roh pada langit di kiblat jiwamu
hingga laut membentuk surat dan perjanjian
mengabarkannya pada ikan dan terumbu karang
seraya berdo’a
memohon kepada Tuhan
untuk berkenan merestui
pernikahan keabadian purnama
di atas kapal yang dinahkodai oleh cinta

Semoga layaklah aku menjadi saksinya

Pantai Jetis, 2018

Penulis: Estu Ismoyo Aji

Akar Tunggang

Layakkah aku
menjadi akar tunggang
yang hidup tenang di matamu
mencari sisa fosil-fosil mikro organisme
tanpa air matamu yang menyuburi tanahnya
kau sering mengubah musim dan jarak
di saat sebuah cinta mulai bermimpi
meleburkan kisah rindu abadi
hingga aku boleh berkata :
layakkah seorang aku

Dan jika musim perkawinan pelangi tiba
kabarkan padaku dengan segera
aku ingin mengikrarkan janji
pada tujuh warna-warnanya
bahwa aku bahagia
melihat tonggak kayu
kembali berseri di wajahnya
yang membawa sari-sari makanan
untuk disajikannya kepada putri daun
dalam proses fotosintesisnya kepada dunia
hingga aku mampu layak menjadi akar tunggang
yang bersemi penuh kewangian di jasad dan jiwamu

Purworejo, Sabtu, 21 April 2018, 00:50 WIB

Penulis: Estu Ismoyo Aji

Only If Your Eyes

Only if your eyes can see
You’ll find the beauty of god in all beings
Only if your eyes can touch
You’ll find smoothness in your life,
even for the roughest part
Only if your eyes can hear
You’ll be startled by the words of god in all creatures
For as long as your eyes can promise

Every bit of blinks that they sip, no matter how bitter or sweet,
is a blessing unspoken and a story untold
For as far as your eyes can promise
You’ll never know when your eyes will shut
how your story will end
how it will be told and remembered
So only if your eyes can tell,
Let love be their last word,
For the word was their first and was the reason you started your story

Author: Ignatius Tri Endarto

Di Bawah Tenda

bukanlah pencinta Bungur
bila merebut bunga dari rantingnya
menimbulkan suara patah menyerupai kata pamit
dari belantara ungu yang kusebut cinta
lalu meremah di sela jemari
yang tak kunjung menulis puisi

betapa merugi perhiasan aneh yang kau sebut hati
yang tak pernah jera membangun kesedihan di bawah tenda bumi,
tenda bunga yang kita kuliti atas nama kehidupan
kehidupan yang tak ramah bagi yang elok
pun bagi yang jelek rupa
betapa kecewa
bukanlah pencinta Bungur diriku
karena merebut bunga dari rantingnya
bagi telapak tanganku yang papa

Kendari, 2017

Penulis: Astika Elfakhri

Bulan Nampak Lebih Kecil di Kotaku

Di kotaku pintu-pintu setengah terbuka
adat peluh yang berpesta di pelupuk mata
belum juga punah di bahu kurus trotoar
debu lebih deras dari keringat pejalan kaki
hujan terbata-bata
puisi-puisi yang lahir bersama embun
harakiri di penghujung hari

di pusat kota terlihat puluhan bencana
tetapi bila mata dipicingkan
jumlahnya berjuta-juta
seperti kuman di sela kuku jemari orang-orang kenyang akan janji tetapi tubuhnya rontang

barangkali janji yang tak layak konsumsi
tersedak di kerongkongan para nasabah
berlalu-lalang melihat pengemis di pelataran
lalu mendermakan senyuman di kotaku
dimana bulan nampak lebih kecil
dan setiap dada hanya dilalui satu musim

Kendari, 2015

Penulis: Astika Elfakhri

Kaca Kita Berkaca-Kaca

-Sebuah Puisi 5 Bagian-
(Mendengarkan album ERA by Mike Dawes, dan mengulang-ulang Zerkalo/The Mirror (1975) by Andrei Tarkovsky)
Dedicated for : T.

I – DEEP PURPLE

Roulette dan Peluru Dingin yang tak sengaja,
Dan kucium keningmu,
Kita akan hempas, sayang ….
Seketika ini atau esok setelah sia-sia, atau dihapus suara gitar,
Yang meraba-raba raut cinta
Yang tak akan pernah bisa

Roulette dan peluru
Kau peluk aku … Tak ada namamu
Kita tak ingin
Tak ada namaku
Kita tak punya
Revolver tak berdosa
Atas nama revolusi
Kemerdekaan tak akan pernah mengerti kita

Roulette dan peluru,
Cerita ini hujan yang berbeda

(17/10 17)

II – KEMILAU

Puisi ini ketidakberdayaan cinta atas mencintai
Namun, juga apa saja yang tak henti aku harapkan ketika hujan
Layang-layang merah sebelum itu
Lagu yang tak ingin selesai
Senyum setelah itu hanyalah ramai yang sama kemudian :
Akan ada tangis …
Akan ada yang tak ingin terhapus …
Kekasih, mungkin kau tak akan mengerti
Menulis adalah penderitaan yang tak pernah berbeda
Dengan, ataupun tanpamu.

(17/10 26)

III – REFLEKSI

Judul, sajak, birama yang patah
Meski tak ada yang menghendaki kata itu
Lalu sia-sia menjadi istilah yang paling romantik
Tak seperti namamu, tak seperti Waltz, tak juga puisi
Kemudian judul, goresan pena, arang, kenangan
Refrain, sampai tanggal mengepung ruang
Dengan ritus setiap hari, dengan waktu
Yang tak lagi singgah di kertas ini
Sampai di seberang sana,
Pada sisa hujan sehari tadi
Cahaya lampu yang menyentuh genang itu
Patah
Namun aku sediakalaku,
Judul, sajak, birama yang patah
Lalu, sia-sia menjadi mula bagi romantika yang lain

(17/10 26)

IV – FORESHADOW

Ladang
Beranda kayu
Piring keramik, teko kaca, dan angin yang jatuh
Berbunyi, membunyi tepi meja musim dingin
Yang tak mengenal padi, atau roti gandum
Hanya pisau perak, dan cermin buram
Dan hangat pipimu pada pipiku
Yang memudar
Ladang, Lumbung, jerami, semak belukar
Lalu akan ada api
Kemudian asap
Mungkin, di hijau dan hujan itu …
Aku masih mencintaimu

(17/10 27)

V – CUTAWAY

Jendela, dan kerit yang tak rela
Entah, barangkali semacam perih
Ada yang tak ingin terbuka, namun ada lebih banyak hal
Yang sangat ingin ditampakkan oleh relung ruang ini
Kepada segenap hal yang dengan liar berjatuhan di luar
Air, sarang burung, abu tembakau, isak, desah
Ranting, pejam, mungkinkah hujan?
Mungkinkah apa saja, namun
Tak satupun suaramu?
Kerit usai perlahan-lahan, kemudian rintik :
Derai deras yang sampai, mengucur dari lapuk langit-langit
mungkin tangis, mungkin bahagia, mungkin hanya tumpah
Lalu terkikis, sebelum perlahan patah, sampai rebah
Sampai dingin, sampai tinta terlepas dari kertas
Dan tak ada nama, tak ada rindu
Tak ada lagi puisi
Hanya basah

(17/10 28)

Penulis: Panji Sadewo

Blue

Maybe it is just one of his random notion,
Or the result of his complex contemplation,
When he blurted out his favourite tone out of summer hue’s gradation
Blue is the calmest colour, he said, it is the epitome of a tragic illusion.

Just look at the sky, he continues without any hesitation,
The bluish hue is just another form of deception,
letting us believe that the sky is within our reach, messing with our ideal conception.
His view of the said tint sadly filled with too much contradiction.

Little that he knows that I agree to disagree on his revelation,
As what I see from the hue itself is the reason for my opposition,
Blue reminds me of him, the object of my absolute adoration,
Filling my sleepless nights with memories that are worth to mention.

If only he knows,
maybe he would finally give the said tint its deserving appreciation.

Penulis: Jennifer Jaenata

Dia Dalam Waktu, Musim dan Pertigaan Jalan

Dia, seorang perempuan di pertigaan jalan.
Di hari pertama kumelihat dia tidak begitu jelas
Rabun seperti embun yang menguap di sela-sela pinus di tebing perbukitan
Dalam redupnya awan yang siap menghujani tanah-tanah gersang
Dia yang sendiri menatap kosong sebuah keramaian, antara menunggu dan ditunggu

Dia, seorang perempuan dalam penantian pada pertigaan jalan.
Dia, seorang perempuan memakai hijab di hari kamis.
Dalam senja selalu kutemui dia dalam pertigaan jalan
Dalam gerimis syahdu pun hanya bergeser pada pohon rindang
Sesekali dia menoleh arah barat, menjemukan matahari yang semakin tenggelam
Sesekali dia menoleh pada arloji, meminta waktu dalam derik untuk berhenti

Dia, seorang perempuan dalam kesendirian pada pertigaan jalan.
Dilindungi payung biru saat hujan menghantam november.
Sepatu dan jeansnya telah kuyup digerogoti air pada jalanan
Ancaman langit melalui petir tidak membuat dia bergeming dari tempatnya
Sendirinya tak hangatkan tubuh dalam gerimis yang bertubi-tubi jatuh

Dia, seorang perempuan dalam tanda tanya pada pertigaan jalan.
Melindungi kepala dengan sebuah majalah saat gersang meradang juli.
Rambutnya sedikit bermandikan keringat pada pelipis putihnya
Sesekali dia menutup senyum dalam masker
Sesekali dia menatap debu tanpa senyum

Dia, seorang perempuan pada pertigaan jalan.
Aku telah terlarut dalam waktu untuk selalu menatapnya
Aku telah membeku dalam ruang untuk selalu memperhatikan kegelisahannya
Aku telah terganggu dalam senja untuk menemukan jawaban penantiannya
Waktu itu selasa, sebelum gerimis, awal desember yang tidak begitu cerah.
Aku menghentikan laju kendaraanku, terakhir kuingat aku menjabat tangannya.

Penulis: Youbil Fernando

Dalam Gelap dan Terang

Telah kujamah dalam semu tanah garam
Pada saat embun masih sendu pada daun
Aku rasa tadi malam adalah pekat
Yang belenggu mati pada langkah
Yang kulihat adalah waktu yang tak berjalan
Pun mereka tak merangkak mundur

Kelak ku tetap di sini, pada malam pekat
Rindu itu takkan mencumbuinya dalam satu nira
Sapaku pun tak hinggap seujung selendang birunya

Karena dalam hitam dan abu-abu ini, aku telah tak menolehnya

Telah kujamah dalam haru samudra madu
Pada saat ombak masih hempas pada karang
Aku rasa telah kurengguh sang inspirasi kata ini
Yang lama suri dalam sembilan ratus malam
Yang kulihat adalah waktu yang berdenting indah
Pun mereka bernyanyi tentang laut tenang

Kelak aku akan tetap disini, pada ujung pelangi
Rindu ini akan kuperjuangkan untukmu dalam satu dunia
Sapaku pun telah kulontarkan sepenuhnya dalam harimu

Karena dalam hijau dan biru ini, aku telah memilihmu

Penulis: Youbil Fernando