Origami Malam

/1/
Aku menulis fragmenmu: mengultuskan hujan penghabisan. Senja menenun angin di penghabisan musim sunyi: kediamanku yang disesaki selusin senyap manakala malam datang mengiring pemayaan atasmu yang kemudian aku punah olehnya.

/2/
Aku ingin melampirkan kepadamu sepucuk malam gigil: sepilihan riak ombak yang pernah bertahta atas penghabisan jejak kakimu di atas pasir yang bersepuh purnama ayu. Hujan turun menyemai remang purnama yang semerbak di pelataran agar dia dapat tumbuh menemani lelapmu, agar ia dapat tumbuh dan menetaskan pagi dingin: kediaman isakmu yang fana.

/3/
Aku ingin melukis sunyi dengan bising suara hujan untuk kemudian menyihirnya, menjadikan tubuhmu Malam menjelma pigura anggun membingkai redup purnama untuk kemudian menenunnya, menjadikan teduhmu. Kita adalah kefanaan yang saling bertemu mengucapkan salam perpisahan dalam dekap cahaya matahari penghabisan murung yang dipintal oleh sang kala.

Penulis: Orkestra Bisu

Advertisements

Blue

Maybe it is just one of his random notion,
Or the result of his complex contemplation,
When he blurted out his favourite tone out of summer hue’s gradation
Blue is the calmest colour, he said, it is the epitome of a tragic illusion.

Just look at the sky, he continues without any hesitation,
The bluish hue is just another form of deception,
letting us believe that the sky is within our reach, messing with our ideal conception.
His view of the said tint sadly filled with too much contradiction.

Little that he knows that I agree to disagree on his revelation,
As what I see from the hue itself is the reason for my opposition,
Blue reminds me of him, the object of my absolute adoration,
Filling my sleepless nights with memories that are worth to mention.

If only he knows,
maybe he would finally give the said tint its deserving appreciation.

Penulis: Jennifer Jaenata

Dia Dalam Waktu, Musim dan Pertigaan Jalan

Dia, seorang perempuan di pertigaan jalan.
Di hari pertama kumelihat dia tidak begitu jelas
Rabun seperti embun yang menguap di sela-sela pinus di tebing perbukitan
Dalam redupnya awan yang siap menghujani tanah-tanah gersang
Dia yang sendiri menatap kosong sebuah keramaian, antara menunggu dan ditunggu

Dia, seorang perempuan dalam penantian pada pertigaan jalan.
Dia, seorang perempuan memakai hijab di hari kamis.
Dalam senja selalu kutemui dia dalam pertigaan jalan
Dalam gerimis syahdu pun hanya bergeser pada pohon rindang
Sesekali dia menoleh arah barat, menjemukan matahari yang semakin tenggelam
Sesekali dia menoleh pada arloji, meminta waktu dalam derik untuk berhenti

Dia, seorang perempuan dalam kesendirian pada pertigaan jalan.
Dilindungi payung biru saat hujan menghantam november.
Sepatu dan jeansnya telah kuyup digerogoti air pada jalanan
Ancaman langit melalui petir tidak membuat dia bergeming dari tempatnya
Sendirinya tak hangatkan tubuh dalam gerimis yang bertubi-tubi jatuh

Dia, seorang perempuan dalam tanda tanya pada pertigaan jalan.
Melindungi kepala dengan sebuah majalah saat gersang meradang juli.
Rambutnya sedikit bermandikan keringat pada pelipis putihnya
Sesekali dia menutup senyum dalam masker
Sesekali dia menatap debu tanpa senyum

Dia, seorang perempuan pada pertigaan jalan.
Aku telah terlarut dalam waktu untuk selalu menatapnya
Aku telah membeku dalam ruang untuk selalu memperhatikan kegelisahannya
Aku telah terganggu dalam senja untuk menemukan jawaban penantiannya
Waktu itu selasa, sebelum gerimis, awal desember yang tidak begitu cerah.
Aku menghentikan laju kendaraanku, terakhir kuingat aku menjabat tangannya.

Penulis: Youbil Fernando

Dalam Gelap dan Terang

Telah kujamah dalam semu tanah garam
Pada saat embun masih sendu pada daun
Aku rasa tadi malam adalah pekat
Yang belenggu mati pada langkah
Yang kulihat adalah waktu yang tak berjalan
Pun mereka tak merangkak mundur

Kelak ku tetap di sini, pada malam pekat
Rindu itu takkan mencumbuinya dalam satu nira
Sapaku pun tak hinggap seujung selendang birunya

Karena dalam hitam dan abu-abu ini, aku telah tak menolehnya

Telah kujamah dalam haru samudra madu
Pada saat ombak masih hempas pada karang
Aku rasa telah kurengguh sang inspirasi kata ini
Yang lama suri dalam sembilan ratus malam
Yang kulihat adalah waktu yang berdenting indah
Pun mereka bernyanyi tentang laut tenang

Kelak aku akan tetap disini, pada ujung pelangi
Rindu ini akan kuperjuangkan untukmu dalam satu dunia
Sapaku pun telah kulontarkan sepenuhnya dalam harimu

Karena dalam hijau dan biru ini, aku telah memilihmu

Penulis: Youbil Fernando

Tamu Besar

Tamu besar berbadan besar
Datang membawa masalah besar
Romannya terang-terangan berbinar
Melihat semua orang menjadi cahar
Kala itu,jika kau melihat adanya, mata semua orang berpendar
Seperti jelaga yang dibakar
Semua jelas menjadi nanar
Hilang semua koar-koar

“Itukah algojo kehidupan, wahai Tuhan yang Maha Besar?”
“Seperti burung yang berkuar.”

Izrail bisa jadi adalah manusia yang besar
Tidak menatar
Malah meratakan pasar
Tidak siap menyajikan repertoar
Berserobok dengan manusia nestapa di sudut kota yang buyar

“Kita bisa mati, lebih mati dari yang kemarin, mati yang lebih kasar.”

Tanah ini akan ia jadikan rumah manusia-manusia besar

Penulis: Alwi Yusran

Ayahku Itu Siapa?

Sampai hari ini aku bingung ayahku itu siapa. Semenjak kecil aku sering ditinggal bersama gadis muda di ruang keluarga. Ibu pernah bilang gadis muda itu pengganti ibu selama ibu pergi bekerja. Lalu ayah penggantinya mana? Ibu bilang ayahmu tidak perlu pengganti, kan ayah masih sibuk dengan tidurnya di kamar ibu.

Aku selalu bertanya-tanya tentang ayah bahkan dinding ruang keluargapun bisu saat aku tanya tentang sosok ayah. Ayah selalu di kamar diam dan malu menampakkan wajahnya kepada saya. Seperti aku ini bukan anak ayah saja.

Hingga aku dewasa, aku masih ditampar dengan sosok ayah yang bertahun-tahun tidak pernah menampakkan dirinya di kamar ibu. Ayah itu sebenarnya siapa. Lalu gadis muda pengganti ibu itu bilang ayahmu itu lelah saat kau lelap di malam hari, ayahmu selalu mencari kau dalam sunyinya merobek paras-paras kelam di setiap diamnya hingga malam pergi dia menepi ke kamar. Aku dibuat pusing oleh gadis muda cerewet itu. Aku penasaran oleh sosok ayah sebenarnya. Lalu aku lari mengintip ayah dari gorden kamar ibu, malah ibu sibuk memeluk bantal di atas pangkuannya sambil menengok ke jendela kamar. Hingga aku tahu bahwa ayah sebenarnya adalah bantal guling yang dipeluk oleh ibu saat itu.

Penulis: Diqdo Gustiro

Tuhan Keduaku

Hari itu aku sangat heran
Darah di sekujur tubuhku berceceran
Kulihat dunia baru yang berserakan
Tetapi kupandang wajah yang penuh pengorbanan

Di saat saraf otakku mulai tersesat tanpa arah melaju melewati batas akal sang pencipta
Aku malu untuk maju mengangkat dagu, malu untuk menunggu kepastian yang masih terbelenggu
Hampir-hampir aku tak tahu jasad siapa yang sedang kurasuki ini

Sampai kutahu siapa penciptaku siapa pelahirku

Siapa Tuhan pertamaku siapa tuhan keduaku
Siapa yang memberi nyawa padaku siapa yang merelakan nyawanya untukku
Siapa yang memberi akal padaku siapa yang sabar mendidikku
Dan siapa yang kulihat setelah matiku siapa yang kulihat sesudah lahirku

Aku bukan hanya melihat sosok perempuan seperti hawa atau kartini
Bukan hanya pahlawan yang gagah berani
Bukan hanya istri yang taat pada suami
Apalagi ibu-ibu sosialita masa kini

Canduku padanya tak membuatku overdosis
Tetapi sakau diriku ketika melihat sang matahari menangis

Medan, 25 Februari 2017

Penulis: Hasan Pratama Siregar

Cerita-Cerita yang Tidak Diketahui Selepas Hujan

Prolog:
Selepas hujan adalah saat di mana lingkar pelangi menghiasi udara, sebuah keadaan yang tepat untuk aku memulai.
Seredup aliran nafas untuk mengambil setiap ruh yang hendak berpergian mencari jalan pulang, demikian pula dia yang meringkuk di jalan Tuhan.

Aku mengenal banyak wanita di dunia ini, gincu, rindu, senja dan cinta bahkan aku bisa mengingat dan mengulangi lagi, gincu yang rindu dan senja penuh cinta. Aku mengenal semuanya. Tidak terkecuali dia.

Aku akan menceritakan semua yang ku ketahui itu dengan perlahan, sampai saat malam ini semua bisa merasuk ke dalam buai mimpi; memberikan kehangatan.

Setiap hal yang aku suka dari dia adalah lingkar senyumnya yang mengingatkanku sehabis hujan terkadang tidak selalu mendung dan muram, terkadang pelangi muncul perlahan.
Mungkin bagi dia tersenyum adalah sebuah keharusan membahagiakan.

Ada banyak cara Tuhan menciptakan wanita, mulai dari tersenyum sampai cara bercanda, aku tak pernah tahu mana yang dia sukai tapi aku lebih suka jika ia bercanda sambil tersenyum bukannya tersenyum sambil bercanda.

Lebih dari itu adalah candanya yang jatuh di sekitar dan menjadi riuh taman di mana anak-anak kecil sibuk berlarian dan di sana aku melihat dia terlalu lelah berdiri sendiri menopang semua candaan itu.

Istirahatlah sebentar sampai hujan turun lagi, dan mengubahmu menjadi pelangi kembali. Sampai saat itu aku adalah cerita yang terus memperhatikan pelangi dari kejauhan.

Akhir:
Aku menyukai pelangi itu.

Penulis: Dimas Wahyu Ridho

Tandan Duka Bersenandung Angin

Entah di laut mana sekeping jiwaku jatuh,
Terhempaskah dia di antara dera karang
Rimbunan bakau di ujung senja,
yang mencakar tebing lara….

**
Diakah yang berkelakar kabut,
Menjamah haluan hingga gelora laut
Menghujat kemudi, atau..
Berjelaga sudut mata gadis melayu,
Tepi dermaga…

**
Ada butir luruh di jiwaku rapuh..
Mengapung terayun nyanyian badai,
Terkikis tak habis menipis tak manis,
Jika kepahitan bersanding hening,
Menjelma di makam-makam duka

**
.:ada apa dengan jiwaku.
Tandan duka bersenandung angin

Penulis: Rizal De Loesie

Urat Hikayat

Bumi yang dulu urat hikayat
Bumi yang dulu kisah sejarah, kini mengambang
Satu persatu kisahnya ditenggelamkan oleh zaman
Saat langit diatasnya membiru, Cakrawala di laut mengapung

Kepunahan yang terselubung tentang bumi yang sekarat
Hidup semakin jadi melarat
Saat aku berteriak hentikan!
Belatung-belatung berteriak jangan!

Bumiku semakin tersungkur
Bagaikan raja tak lagi punya makhota
Hilang sudah kebanggaan sang kuasa
Diruntuhkan lambat-lambat dari dalam

Ular-ular yang mengelilingi bumi kegirangan
Tak ada lagi nurani segala manusia
Datanglah seluruh isi perut bumi
Dunia bukanlah sesuatu yang kekal
Tak bisakah menunggu sang kuasa bertindak

Penulis: Ija Tiara Sihaloho