Blue

Maybe it is just one of his random notion, Or the result of his complex contemplation, When he blurted out his favourite tone out of summer hue's gradation Blue is the calmest colour, he said, it is the epitome of a tragic illusion. Just look at the sky, he continues without any hesitation, The bluish …

Continue reading Blue

Advertisements

Dia Dalam Waktu, Musim dan Pertigaan Jalan

Dia, seorang perempuan di pertigaan jalan. Di hari pertama kumelihat dia tidak begitu jelas Rabun seperti embun yang menguap di sela-sela pinus di tebing perbukitan Dalam redupnya awan yang siap menghujani tanah-tanah gersang Dia yang sendiri menatap kosong sebuah keramaian, antara menunggu dan ditunggu Dia, seorang perempuan dalam penantian pada pertigaan jalan. Dia, seorang perempuan …

Continue reading Dia Dalam Waktu, Musim dan Pertigaan Jalan

Dalam Gelap dan Terang

Telah kujamah dalam semu tanah garam Pada saat embun masih sendu pada daun Aku rasa tadi malam adalah pekat Yang belenggu mati pada langkah Yang kulihat adalah waktu yang tak berjalan Pun mereka tak merangkak mundur Kelak ku tetap di sini, pada malam pekat Rindu itu takkan mencumbuinya dalam satu nira Sapaku pun tak hinggap …

Continue reading Dalam Gelap dan Terang

Tamu Besar

Tamu besar berbadan besar Datang membawa masalah besar Romannya terang-terangan berbinar Melihat semua orang menjadi cahar Kala itu,jika kau melihat adanya, mata semua orang berpendar Seperti jelaga yang dibakar Semua jelas menjadi nanar Hilang semua koar-koar “Itukah algojo kehidupan, wahai Tuhan yang Maha Besar?” “Seperti burung yang berkuar.” Izrail bisa jadi adalah manusia yang besar …

Continue reading Tamu Besar

Ayahku Itu Siapa?

Sampai hari ini aku bingung ayahku itu siapa. Semenjak kecil aku sering ditinggal bersama gadis muda di ruang keluarga. Ibu pernah bilang gadis muda itu pengganti ibu selama ibu pergi bekerja. Lalu ayah penggantinya mana? Ibu bilang ayahmu tidak perlu pengganti, kan ayah masih sibuk dengan tidurnya di kamar ibu. Aku selalu bertanya-tanya tentang ayah …

Continue reading Ayahku Itu Siapa?

Tuhan Keduaku

Hari itu aku sangat heran Darah di sekujur tubuhku berceceran Kulihat dunia baru yang berserakan Tetapi kupandang wajah yang penuh pengorbanan Di saat saraf otakku mulai tersesat tanpa arah melaju melewati batas akal sang pencipta Aku malu untuk maju mengangkat dagu, malu untuk menunggu kepastian yang masih terbelenggu Hampir-hampir aku tak tahu jasad siapa yang …

Continue reading Tuhan Keduaku

Cerita-Cerita yang Tidak Diketahui Selepas Hujan

Prolog: Selepas hujan adalah saat di mana lingkar pelangi menghiasi udara, sebuah keadaan yang tepat untuk aku memulai. Seredup aliran nafas untuk mengambil setiap ruh yang hendak berpergian mencari jalan pulang, demikian pula dia yang meringkuk di jalan Tuhan. Aku mengenal banyak wanita di dunia ini, gincu, rindu, senja dan cinta bahkan aku bisa mengingat …

Continue reading Cerita-Cerita yang Tidak Diketahui Selepas Hujan

Tandan Duka Bersenandung Angin

Entah di laut mana sekeping jiwaku jatuh, Terhempaskah dia di antara dera karang Rimbunan bakau di ujung senja, yang mencakar tebing lara.... ** Diakah yang berkelakar kabut, Menjamah haluan hingga gelora laut Menghujat kemudi, atau.. Berjelaga sudut mata gadis melayu, Tepi dermaga... ** Ada butir luruh di jiwaku rapuh.. Mengapung terayun nyanyian badai, Terkikis tak …

Continue reading Tandan Duka Bersenandung Angin

Urat Hikayat

Bumi yang dulu urat hikayat Bumi yang dulu kisah sejarah, kini mengambang Satu persatu kisahnya ditenggelamkan oleh zaman Saat langit diatasnya membiru, Cakrawala di laut mengapung Kepunahan yang terselubung tentang bumi yang sekarat Hidup semakin jadi melarat Saat aku berteriak hentikan! Belatung-belatung berteriak jangan! Bumiku semakin tersungkur Bagaikan raja tak lagi punya makhota Hilang sudah …

Continue reading Urat Hikayat

Membatu Di Depan Kaca

Selepas tidak melakukan apa-apa, lalu apa-apa tidak bisa dilakukan, karena batas mengatur setiap apa: beku yang terjamah mata—pikiran terlanjur menjadi negara, mengapung atas pertanyaan sendiri. Aku tak tahu. Ketika menemuimu, sebuah pistol melekat di pipi, tak terasa ledaknya tapi mulut tak bisa bersuara, itu sekilas cahaya. Denyar membawa jiwa karam ke dasar seperti sebuah pasar. …

Continue reading Membatu Di Depan Kaca