Origami Malam

/1/
Aku menulis fragmenmu: mengultuskan hujan penghabisan. Senja menenun angin di penghabisan musim sunyi: kediamanku yang disesaki selusin senyap manakala malam datang mengiring pemayaan atasmu yang kemudian aku punah olehnya.

/2/
Aku ingin melampirkan kepadamu sepucuk malam gigil: sepilihan riak ombak yang pernah bertahta atas penghabisan jejak kakimu di atas pasir yang bersepuh purnama ayu. Hujan turun menyemai remang purnama yang semerbak di pelataran agar dia dapat tumbuh menemani lelapmu, agar ia dapat tumbuh dan menetaskan pagi dingin: kediaman isakmu yang fana.

/3/
Aku ingin melukis sunyi dengan bising suara hujan untuk kemudian menyihirnya, menjadikan tubuhmu Malam menjelma pigura anggun membingkai redup purnama untuk kemudian menenunnya, menjadikan teduhmu. Kita adalah kefanaan yang saling bertemu mengucapkan salam perpisahan dalam dekap cahaya matahari penghabisan murung yang dipintal oleh sang kala.

Penulis: Orkestra Bisu

Advertisements

Di Bawah Tenda

bukanlah pencinta Bungur
bila merebut bunga dari rantingnya
menimbulkan suara patah menyerupai kata pamit
dari belantara ungu yang kusebut cinta
lalu meremah di sela jemari
yang tak kunjung menulis puisi

betapa merugi perhiasan aneh yang kau sebut hati
yang tak pernah jera membangun kesedihan di bawah tenda bumi,
tenda bunga yang kita kuliti atas nama kehidupan
kehidupan yang tak ramah bagi yang elok
pun bagi yang jelek rupa
betapa kecewa
bukanlah pencinta Bungur diriku
karena merebut bunga dari rantingnya
bagi telapak tanganku yang papa

Kendari, 2017

Penulis: Astika Elfakhri

Bulan Nampak Lebih Kecil di Kotaku

Di kotaku pintu-pintu setengah terbuka
adat peluh yang berpesta di pelupuk mata
belum juga punah di bahu kurus trotoar
debu lebih deras dari keringat pejalan kaki
hujan terbata-bata
puisi-puisi yang lahir bersama embun
harakiri di penghujung hari

di pusat kota terlihat puluhan bencana
tetapi bila mata dipicingkan
jumlahnya berjuta-juta
seperti kuman di sela kuku jemari orang-orang kenyang akan janji tetapi tubuhnya rontang

barangkali janji yang tak layak konsumsi
tersedak di kerongkongan para nasabah
berlalu-lalang melihat pengemis di pelataran
lalu mendermakan senyuman di kotaku
dimana bulan nampak lebih kecil
dan setiap dada hanya dilalui satu musim

Kendari, 2015

Penulis: Astika Elfakhri

Kaca Kita Berkaca-Kaca

-Sebuah Puisi 5 Bagian-
(Mendengarkan album ERA by Mike Dawes, dan mengulang-ulang Zerkalo/The Mirror (1975) by Andrei Tarkovsky)
Dedicated for : T.

I – DEEP PURPLE

Roulette dan Peluru Dingin yang tak sengaja,
Dan kucium keningmu,
Kita akan hempas, sayang ….
Seketika ini atau esok setelah sia-sia, atau dihapus suara gitar,
Yang meraba-raba raut cinta
Yang tak akan pernah bisa

Roulette dan peluru
Kau peluk aku … Tak ada namamu
Kita tak ingin
Tak ada namaku
Kita tak punya
Revolver tak berdosa
Atas nama revolusi
Kemerdekaan tak akan pernah mengerti kita

Roulette dan peluru,
Cerita ini hujan yang berbeda

(17/10 17)

II – KEMILAU

Puisi ini ketidakberdayaan cinta atas mencintai
Namun, juga apa saja yang tak henti aku harapkan ketika hujan
Layang-layang merah sebelum itu
Lagu yang tak ingin selesai
Senyum setelah itu hanyalah ramai yang sama kemudian :
Akan ada tangis …
Akan ada yang tak ingin terhapus …
Kekasih, mungkin kau tak akan mengerti
Menulis adalah penderitaan yang tak pernah berbeda
Dengan, ataupun tanpamu.

(17/10 26)

III – REFLEKSI

Judul, sajak, birama yang patah
Meski tak ada yang menghendaki kata itu
Lalu sia-sia menjadi istilah yang paling romantik
Tak seperti namamu, tak seperti Waltz, tak juga puisi
Kemudian judul, goresan pena, arang, kenangan
Refrain, sampai tanggal mengepung ruang
Dengan ritus setiap hari, dengan waktu
Yang tak lagi singgah di kertas ini
Sampai di seberang sana,
Pada sisa hujan sehari tadi
Cahaya lampu yang menyentuh genang itu
Patah
Namun aku sediakalaku,
Judul, sajak, birama yang patah
Lalu, sia-sia menjadi mula bagi romantika yang lain

(17/10 26)

IV – FORESHADOW

Ladang
Beranda kayu
Piring keramik, teko kaca, dan angin yang jatuh
Berbunyi, membunyi tepi meja musim dingin
Yang tak mengenal padi, atau roti gandum
Hanya pisau perak, dan cermin buram
Dan hangat pipimu pada pipiku
Yang memudar
Ladang, Lumbung, jerami, semak belukar
Lalu akan ada api
Kemudian asap
Mungkin, di hijau dan hujan itu …
Aku masih mencintaimu

(17/10 27)

V – CUTAWAY

Jendela, dan kerit yang tak rela
Entah, barangkali semacam perih
Ada yang tak ingin terbuka, namun ada lebih banyak hal
Yang sangat ingin ditampakkan oleh relung ruang ini
Kepada segenap hal yang dengan liar berjatuhan di luar
Air, sarang burung, abu tembakau, isak, desah
Ranting, pejam, mungkinkah hujan?
Mungkinkah apa saja, namun
Tak satupun suaramu?
Kerit usai perlahan-lahan, kemudian rintik :
Derai deras yang sampai, mengucur dari lapuk langit-langit
mungkin tangis, mungkin bahagia, mungkin hanya tumpah
Lalu terkikis, sebelum perlahan patah, sampai rebah
Sampai dingin, sampai tinta terlepas dari kertas
Dan tak ada nama, tak ada rindu
Tak ada lagi puisi
Hanya basah

(17/10 28)

Penulis: Panji Sadewo

Dalam Gelap dan Terang

Telah kujamah dalam semu tanah garam
Pada saat embun masih sendu pada daun
Aku rasa tadi malam adalah pekat
Yang belenggu mati pada langkah
Yang kulihat adalah waktu yang tak berjalan
Pun mereka tak merangkak mundur

Kelak ku tetap di sini, pada malam pekat
Rindu itu takkan mencumbuinya dalam satu nira
Sapaku pun tak hinggap seujung selendang birunya

Karena dalam hitam dan abu-abu ini, aku telah tak menolehnya

Telah kujamah dalam haru samudra madu
Pada saat ombak masih hempas pada karang
Aku rasa telah kurengguh sang inspirasi kata ini
Yang lama suri dalam sembilan ratus malam
Yang kulihat adalah waktu yang berdenting indah
Pun mereka bernyanyi tentang laut tenang

Kelak aku akan tetap disini, pada ujung pelangi
Rindu ini akan kuperjuangkan untukmu dalam satu dunia
Sapaku pun telah kulontarkan sepenuhnya dalam harimu

Karena dalam hijau dan biru ini, aku telah memilihmu

Penulis: Youbil Fernando

Tamu Besar

Tamu besar berbadan besar
Datang membawa masalah besar
Romannya terang-terangan berbinar
Melihat semua orang menjadi cahar
Kala itu,jika kau melihat adanya, mata semua orang berpendar
Seperti jelaga yang dibakar
Semua jelas menjadi nanar
Hilang semua koar-koar

“Itukah algojo kehidupan, wahai Tuhan yang Maha Besar?”
“Seperti burung yang berkuar.”

Izrail bisa jadi adalah manusia yang besar
Tidak menatar
Malah meratakan pasar
Tidak siap menyajikan repertoar
Berserobok dengan manusia nestapa di sudut kota yang buyar

“Kita bisa mati, lebih mati dari yang kemarin, mati yang lebih kasar.”

Tanah ini akan ia jadikan rumah manusia-manusia besar

Penulis: Alwi Yusran

Kota

Di seberang kota yang buta itu
Kudapati beberapa anak-anak bisu
Dari kantong-kantong belanjaan supermarket
Membisu sesekali terdiam
Terdiam sesekali membisu

Di seberang kota yang bisu itu
Kudapati beberapa pengamen yang tuli
Dari dompet-dompet tuan buncit berdasi
Mendengar sesekali tuli
Tuli sesekali mendengar

Di seberang kota yang tuli itu
Kudapati beberapa pengemis buta
Dari pinggir-pinggir jalanan berdebu
Melihat sesekali buta
Buta sesekali melihat

“Bahwa” kini kusadari
Kota benar benar nasib, beranak cucu

Penulis: Diqdo Gustiro

Kita Tak Mau Berbuat Apa-Apa

saat kita kehabisan kata
menyesatkan diri
atau bersembunyi
kau pilih di antara, di tengah
keterlanjuran-keterlanjuran
bukan melulu soal rasa
atau perkara cinta

hatimu perlahan dihinggapi rayap
menggerogoti jiwa
yang lemah dan lembab
juga harimu, menuju penghabisan
hingga bosan yang mahadahsyatnya

kita tak bisa berbuat apa-apa
(yang paling parah)
kita tak mau berbuat apa-apa
menunggu, hingga gelap langit tiba-tiba
membutatuli seperti biasa

jika saja kita bersepakat
untuk menemukan tanda titik
akhiri cerita dengan sederhana saja
keringat
dan airmata yang sia-sia
telah bermuara menuju samudra

Bekasi, 24 Oktober 2017

Penulis: Akah

Ayahku Itu Siapa?

Sampai hari ini aku bingung ayahku itu siapa. Semenjak kecil aku sering ditinggal bersama gadis muda di ruang keluarga. Ibu pernah bilang gadis muda itu pengganti ibu selama ibu pergi bekerja. Lalu ayah penggantinya mana? Ibu bilang ayahmu tidak perlu pengganti, kan ayah masih sibuk dengan tidurnya di kamar ibu.

Aku selalu bertanya-tanya tentang ayah bahkan dinding ruang keluargapun bisu saat aku tanya tentang sosok ayah. Ayah selalu di kamar diam dan malu menampakkan wajahnya kepada saya. Seperti aku ini bukan anak ayah saja.

Hingga aku dewasa, aku masih ditampar dengan sosok ayah yang bertahun-tahun tidak pernah menampakkan dirinya di kamar ibu. Ayah itu sebenarnya siapa. Lalu gadis muda pengganti ibu itu bilang ayahmu itu lelah saat kau lelap di malam hari, ayahmu selalu mencari kau dalam sunyinya merobek paras-paras kelam di setiap diamnya hingga malam pergi dia menepi ke kamar. Aku dibuat pusing oleh gadis muda cerewet itu. Aku penasaran oleh sosok ayah sebenarnya. Lalu aku lari mengintip ayah dari gorden kamar ibu, malah ibu sibuk memeluk bantal di atas pangkuannya sambil menengok ke jendela kamar. Hingga aku tahu bahwa ayah sebenarnya adalah bantal guling yang dipeluk oleh ibu saat itu.

Penulis: Diqdo Gustiro

Tuhan Keduaku

Hari itu aku sangat heran
Darah di sekujur tubuhku berceceran
Kulihat dunia baru yang berserakan
Tetapi kupandang wajah yang penuh pengorbanan

Di saat saraf otakku mulai tersesat tanpa arah melaju melewati batas akal sang pencipta
Aku malu untuk maju mengangkat dagu, malu untuk menunggu kepastian yang masih terbelenggu
Hampir-hampir aku tak tahu jasad siapa yang sedang kurasuki ini

Sampai kutahu siapa penciptaku siapa pelahirku

Siapa Tuhan pertamaku siapa tuhan keduaku
Siapa yang memberi nyawa padaku siapa yang merelakan nyawanya untukku
Siapa yang memberi akal padaku siapa yang sabar mendidikku
Dan siapa yang kulihat setelah matiku siapa yang kulihat sesudah lahirku

Aku bukan hanya melihat sosok perempuan seperti hawa atau kartini
Bukan hanya pahlawan yang gagah berani
Bukan hanya istri yang taat pada suami
Apalagi ibu-ibu sosialita masa kini

Canduku padanya tak membuatku overdosis
Tetapi sakau diriku ketika melihat sang matahari menangis

Medan, 25 Februari 2017

Penulis: Hasan Pratama Siregar