Tuhan Keduaku

Hari itu aku sangat heran
Darah di sekujur tubuhku berceceran
Kulihat dunia baru yang berserakan
Tetapi kupandang wajah yang penuh pengorbanan

Di saat saraf otakku mulai tersesat tanpa arah melaju melewati batas akal sang pencipta
Aku malu untuk maju mengangkat dagu, malu untuk menunggu kepastian yang masih terbelenggu
Hampir-hampir aku tak tahu jasad siapa yang sedang kurasuki ini

Sampai kutahu siapa penciptaku siapa pelahirku

Siapa Tuhan pertamaku siapa tuhan keduaku
Siapa yang memberi nyawa padaku siapa yang merelakan nyawanya untukku
Siapa yang memberi akal padaku siapa yang sabar mendidikku
Dan siapa yang kulihat setelah matiku siapa yang kulihat sesudah lahirku

Aku bukan hanya melihat sosok perempuan seperti hawa atau kartini
Bukan hanya pahlawan yang gagah berani
Bukan hanya istri yang taat pada suami
Apalagi ibu-ibu sosialita masa kini

Canduku padanya tak membuatku overdosis
Tetapi sakau diriku ketika melihat sang matahari menangis

Medan, 25 Februari 2017

Penulis: Hasan Pratama Siregar

Cerita-Cerita yang Tidak Diketahui Selepas Hujan

Prolog:
Selepas hujan adalah saat di mana lingkar pelangi menghiasi udara, sebuah keadaan yang tepat untuk aku memulai.
Seredup aliran nafas untuk mengambil setiap ruh yang hendak berpergian mencari jalan pulang, demikian pula dia yang meringkuk di jalan Tuhan.

Aku mengenal banyak wanita di dunia ini, gincu, rindu, senja dan cinta bahkan aku bisa mengingat dan mengulangi lagi, gincu yang rindu dan senja penuh cinta. Aku mengenal semuanya. Tidak terkecuali dia.

Aku akan menceritakan semua yang ku ketahui itu dengan perlahan, sampai saat malam ini semua bisa merasuk ke dalam buai mimpi; memberikan kehangatan.

Setiap hal yang aku suka dari dia adalah lingkar senyumnya yang mengingatkanku sehabis hujan terkadang tidak selalu mendung dan muram, terkadang pelangi muncul perlahan.
Mungkin bagi dia tersenyum adalah sebuah keharusan membahagiakan.

Ada banyak cara Tuhan menciptakan wanita, mulai dari tersenyum sampai cara bercanda, aku tak pernah tahu mana yang dia sukai tapi aku lebih suka jika ia bercanda sambil tersenyum bukannya tersenyum sambil bercanda.

Lebih dari itu adalah candanya yang jatuh di sekitar dan menjadi riuh taman di mana anak-anak kecil sibuk berlarian dan di sana aku melihat dia terlalu lelah berdiri sendiri menopang semua candaan itu.

Istirahatlah sebentar sampai hujan turun lagi, dan mengubahmu menjadi pelangi kembali. Sampai saat itu aku adalah cerita yang terus memperhatikan pelangi dari kejauhan.

Akhir:
Aku menyukai pelangi itu.

Penulis: Dimas Wahyu Ridho

Tandan Duka Bersenandung Angin

Entah di laut mana sekeping jiwaku jatuh,
Terhempaskah dia di antara dera karang
Rimbunan bakau di ujung senja,
yang mencakar tebing lara….

**
Diakah yang berkelakar kabut,
Menjamah haluan hingga gelora laut
Menghujat kemudi, atau..
Berjelaga sudut mata gadis melayu,
Tepi dermaga…

**
Ada butir luruh di jiwaku rapuh..
Mengapung terayun nyanyian badai,
Terkikis tak habis menipis tak manis,
Jika kepahitan bersanding hening,
Menjelma di makam-makam duka

**
.:ada apa dengan jiwaku.
Tandan duka bersenandung angin

Penulis: Rizal De Loesie