Di puncak gunung,
fajar tidak datang tergesa
ia menunggu sunyi
menyelesaikan doanya,
hingga matahari
membuka rahasianya perlahan
Kabut menunduk,
cahaya menyentuh bumi
dan pagi terasa
seperti sebuah mantra
yang akhirnya terucap
*where poems bloom endlessly
Di puncak gunung,
fajar tidak datang tergesa
ia menunggu sunyi
menyelesaikan doanya,
hingga matahari
membuka rahasianya perlahan
Kabut menunduk,
cahaya menyentuh bumi
dan pagi terasa
seperti sebuah mantra
yang akhirnya terucap
Denting-denting pagimengirimkan cahaya jinggamenembus rimbun daun dan ranting tua Pepohonan tumbuh miring,bukan karena salah arah tapi karena disanalah cahaya berada … More
Di balik belukar,
melati kecil menyala mahkotanya
di antara daun-daun liar,
seolah bulan meninggalkan
serpih cahayanya
Embun masih menyimpan
bisikan malam di kelopaknya
sementara angin menyusup perlahan
membawa aroma
yang tak bernama
Pagi merentang di atas sungai,
membawa cahaya
yang pecah menjadi
ribuan kilau
Air mengalir tanpa putus
melewati batu-batu,
menyentuh akar yang karam,
membawa pergi
daun-daun yang telah selesai
menulis kisah waktu
Mungkin kita juga begitu
Ada yang harus kita genggam,
ada yang harus kita lepaskan,
dan ada jalan
yang hanya bisa ditemukan
setelah kita berani mengalir
Seperti sungai yang tidak pernah
sampai ke laut
dengan tergesa-gesa
menuju akhir yang sedari awal
setia menanti
Mist keeps the valley’s secretswhile the flowers open quietlyas if hope needs no witness Beneath the pale and waking skysomething … More
You do not need to bloom overnight,even the meadow greets the sunone blade of grass at a time Becoming yourselfis … More
Biji-biji pecah di rekah bumiDi tempat paling keras, kita mendamba lahirnya harapan Di ruang-ruang sunyi, atau tanah-tanah konflikTempat manusia mati … More
Alam tak lagi marahIa hanya sedang diam Laut menyimpan asin air matanyadi balik senyum wisata Langit menurunkan panas sebagai tanda … More
Sungai tak pernah berdebat
dengan lekuk tepinya
Ia berbelok,
dan entah bagaimana tetap sampai
Dari hujan yang mula-mula lembut hingga air yang membawa kehilangan, Rumah Air adalah puisi tentang banjir, rumah, kemanusiaan, dan harapan untuk kembali pulang.
Pagi terbuka oleh cahaya selembut doa
dan ketukan daun di jendela menggugah ingatan
bersama tetes embun dingin
Desir bayu tak pernah jauh dari jari jemari pohon rindang nun menjulang, rumput semak yang bergoyang di padang, mahkota bunga … More
Kau hadiahkan pot bertunas tanaman seledriKau bilang wanginya sanggup menampung pagiDi kala hari kita sepiTapi hati kita menari Tak perlu … More
From the forest we hear some noisesThe sound of migrating birds, the rotten leaves, decaying lichens,and all the voices of … More
Aku hafal benar dengan angin, Aromanya, warna dan tabiatnya Bersebab dianya senantiasa ada Walau dalam ketiadaan Kedangkalan pikiran. Rasa Dan … More
bukanlah pencinta Bungur bila merebut bunga dari rantingnya menimbulkan suara patah menyerupai kata pamit dari belantara ungu yang kusebut cinta … More
Ke mana perginya ingatan? Jika kautanya begitu, aku pun tidak tahu. Yang aku tahu, ia pernah merumah di dasar palung … More
Desir pasir berderai lembut Diterjang ombak pecah berderai Daun kelapa mendayu-dayu merdu Melambai-lambaikan kepada sang pencipta Alunan-alunan indah dasar laut … More
Karena buih yang berkumandang Renyah dalam diam hangatnya nafas yang sudah jadi prasasti ribuan tahun lamanya Jauh bahkan ketika aku … More
Arus senantiasa setia Tak pernah berbalik arah melakoni takdirnya Arus senantiasa setia Mengalir dari hulu Hingga ke hilir Membawa bongkahan … More