Akar Tunggang

Layakkah aku
menjadi akar tunggang
yang hidup tenang di matamu
mencari sisa fosil-fosil mikro organisme
tanpa air matamu yang menyuburi tanahnya
kau sering mengubah musim dan jarak
di saat sebuah cinta mulai bermimpi
meleburkan kisah rindu abadi
hingga aku boleh berkata :
layakkah seorang aku

Dan jika musim perkawinan pelangi tiba
kabarkan padaku dengan segera
aku ingin mengikrarkan janji
pada tujuh warna-warnanya
bahwa aku bahagia
melihat tonggak kayu
kembali berseri di wajahnya
yang membawa sari-sari makanan
untuk disajikannya kepada putri daun
dalam proses fotosintesisnya kepada dunia
hingga aku mampu layak menjadi akar tunggang
yang bersemi penuh kewangian di jasad dan jiwamu

Purworejo, Sabtu, 21 April 2018, 00:50 WIB

Penulis: Estu Ismoyo Aji

Advertisements

Akhir Pesta Di Tepi Neraka

Belum habis sisa segelas darah yang bercampur dosa
Dari pesta semalam di tepi neraka
Di situ yang ditemani setan dan iblis saling bersayembara
Memperebutkan tahta yang terpenjara dalam hati manusia
Karena sudah lama berkarat tak lagi tersiram oleh iman
Hingga luntur warna keemasan yang dulu menjadi tameng kenistaan
Kini hanyalah nadi terakhir yang bergegas memompa segenap asa
Berusaha keras menjawab teka-teki waktu yang perlahan mengikis nyawa
Tapi belum sempat terjawab telah pecah gelas sang penadah dosa

Kami hadir dalam wujud manusia
Dengan sebujur kerangka yang tak berkulit
Namun beruntung kami masih mempunyai tulang beluang
Di mana kami mampu mengangkat kedua tangan
Membentang melingkari jari-jari bumi
Memohon ampun atas segala kesalahan yang mengikat leher kami
Seakan menolak apapun yang akan masuk dalam lambung
Karena begitu banyak keharaman yang kami telan
Mungkin serpihan pecahan gelas tadi menjadi kesempatan terakhir
Bagi kami untuk menyusun sebentang sajadah
Sebagai tempat sujud dahi tangan dan kaki kami
Satu tanda bukti persembahan
penutup wujud pengampunan kami
Sebelum kumpulan bambu dan tanah menyelimuti raga kami
Dan bunga sebagai peleburan atas busuknya dosa-dosa kami

Purworejo, 09 Juli 2017

Penulis: Estu Ismoyo Aji
Poetry Prairie Literature Journal #6

Gemuruh Ampunan Tuhan

Tak ada raga yang kekal
Kekal dalam jeruji kekhilafan
Raga berbalut lumpur tak sesuci tasbih
Ngiang lafal ucap membunuh diri
Oh manusia, tak sempurna tuannya

Ia lahir seperti tak tahu arah
Tangan kanan genggam arak
Lalu tangan kiri lihai hisap ganja
Hembusan nafas mendosa raga
Tapi ia tak peduli
Ini hidupku, bukan hidupmu

Lihat! Tangan kekarnya tak ada guna
Guna apa untuk mencabut nyawa
Lalu, lidah-lidah menjilat ucapan dusta
Kaki injak sekelompok semut teraniaya
Sungguh lihainya sifat manusia

Oh Tuhan, lampau aku kalap
Menggertak ribuan nafas suci
Hitam semakin kelam
Dan putih tak memutih
Tapi Engkau tetap disini
Mengampuni darah dosa tubuhku

Oh Tuhan, lampau aku kalap
Biadab dalam perbuat
Dusta bertutur kata
Lihai menipu ribuan mata
Tapi Engkau tetap disini
Menggenggam hati
Seakan mengutarakan
“Aku mengampunimu ”

Penulis: Elif Fertia Wahyu
Poetry Prairie Literature Journal #6

Penjahat

Penjahat bejat mulai sekarat
Terjebak harapan dan keraguan
Segala rasa membongkah seperti batu
Membeku ditusuk lembab
Membisu dibekap pengap

Jangan tanya cinta pada tersangka
Karena kenang sudah menjadi genang
Setelah bekunya lebur dibakar rindu

Di dalam ruang penjara
Hatinya menuntut pada semesta
Apa yang diinginkan seorang tahanan ?
Ampunan,
Atau kesempatan ?

Yogyakarta, 2 November 2016

Penulis: Dini Duanasari
Poetry Prairie Literature Journal #6

Maaf, Terlalu Lama

Hambar di sorot matanya
Ribuan bekas sayatan entah di mana
Pengembaraan yang tak berujung
Kelam yang menghanyutkan
Menyeret-nyeret dalam arus kehampaan

Sebongkah potret dalam bingkai
Sepasang cincin tak genap sepasang
Seutas lagu lama dalam kenangan
Ribuan tawa yang tak lagi diingat bunyinya
Rentetan cerita yang sedang dalam usahanya menghilang

Kursi taman di samping kolam
Rumput hijau di bawah langit
Harum tulip di rongga hidung
Kibasan angin dingin menembus sweater
Dan memori akan seseorang, yang menguap

Walau hujan menjadi salju
Walau salju menjadi embun
Kata maaf yang berujung dalam penantian panjang
Kata maaf yang berakhir dalam penyesalan
Mengambang di lautan, bagai surat dalam botol

Dan raganya telah di kursi taman yang sama
Menunggu …
Wanita dengan jaket merah berbunga
Yang 30 tahun lalu dikenakan terakhir

Jember, 15 Juli 2017

Penulis: Army Iswandini
Poetry Prairie Literature Journal #6

Ampunanmu Ampunan-Nya

Ayah, Ibu
Janganlah kau tanyakan aku tentang apa yang kuberi
Dan yakinku, untuk itu kau takkan sampai hati
Karena yang telah kuberi hanyalah tikaman belati
Atau paling tidak ribuan duri yang menghujam nadi
Tidakkah usang jiwa lucah ini meludahi wajahmu berulangkali?
Tidakkah usang jiwa kotor ini melumurimu
dengan jutaan dosa yang menadi?
Dengan kemurahan durhaka yang terlontar di setiap kata
Aku menunjukan jutaan luka-lukamu dengan bangga
Anak macam apa aku ini?

Tahun ke tahun,
hanyalah kerumunan aib yang berduyun-duyun
Mengantarkan mayatku, mayat hatiku
Namun marahmu tak pernah kau jual murah
Dan kau masih menantiku di penghujung jalan
Di pintu terakhir yang terbuka lebar, selebar ampunanNya
Walau aku sudah tak berwujud manusia. Aku malu.
Aku malu akan senyummu yang begitu ramah
Ayah, Ibu… maafkanlah aku yang tak berwujud ini.

Gubuk Lapuk, 15 Juli 2017

Penulis: Angga Kusumadinata
Poetry Prairie Literature Journal #6