Dia Dalam Waktu, Musim dan Pertigaan Jalan

Dia, seorang perempuan di pertigaan jalan.
Di hari pertama kumelihat dia tidak begitu jelas
Rabun seperti embun yang menguap di sela-sela pinus di tebing perbukitan
Dalam redupnya awan yang siap menghujani tanah-tanah gersang
Dia yang sendiri menatap kosong sebuah keramaian, antara menunggu dan ditunggu

Dia, seorang perempuan dalam penantian pada pertigaan jalan.
Dia, seorang perempuan memakai hijab di hari kamis.
Dalam senja selalu kutemui dia dalam pertigaan jalan
Dalam gerimis syahdu pun hanya bergeser pada pohon rindang
Sesekali dia menoleh arah barat, menjemukan matahari yang semakin tenggelam
Sesekali dia menoleh pada arloji, meminta waktu dalam derik untuk berhenti

Dia, seorang perempuan dalam kesendirian pada pertigaan jalan.
Dilindungi payung biru saat hujan menghantam november.
Sepatu dan jeansnya telah kuyup digerogoti air pada jalanan
Ancaman langit melalui petir tidak membuat dia bergeming dari tempatnya
Sendirinya tak hangatkan tubuh dalam gerimis yang bertubi-tubi jatuh

Dia, seorang perempuan dalam tanda tanya pada pertigaan jalan.
Melindungi kepala dengan sebuah majalah saat gersang meradang juli.
Rambutnya sedikit bermandikan keringat pada pelipis putihnya
Sesekali dia menutup senyum dalam masker
Sesekali dia menatap debu tanpa senyum

Dia, seorang perempuan pada pertigaan jalan.
Aku telah terlarut dalam waktu untuk selalu menatapnya
Aku telah membeku dalam ruang untuk selalu memperhatikan kegelisahannya
Aku telah terganggu dalam senja untuk menemukan jawaban penantiannya
Waktu itu selasa, sebelum gerimis, awal desember yang tidak begitu cerah.
Aku menghentikan laju kendaraanku, terakhir kuingat aku menjabat tangannya.

Penulis: Youbil Fernando

Dalam Gelap dan Terang

Telah kujamah dalam semu tanah garam
Pada saat embun masih sendu pada daun
Aku rasa tadi malam adalah pekat
Yang belenggu mati pada langkah
Yang kulihat adalah waktu yang tak berjalan
Pun mereka tak merangkak mundur

Kelak ku tetap di sini, pada malam pekat
Rindu itu takkan mencumbuinya dalam satu nira
Sapaku pun tak hinggap seujung selendang birunya

Karena dalam hitam dan abu-abu ini, aku telah tak menolehnya

Telah kujamah dalam haru samudra madu
Pada saat ombak masih hempas pada karang
Aku rasa telah kurengguh sang inspirasi kata ini
Yang lama suri dalam sembilan ratus malam
Yang kulihat adalah waktu yang berdenting indah
Pun mereka bernyanyi tentang laut tenang

Kelak aku akan tetap disini, pada ujung pelangi
Rindu ini akan kuperjuangkan untukmu dalam satu dunia
Sapaku pun telah kulontarkan sepenuhnya dalam harimu

Karena dalam hijau dan biru ini, aku telah memilihmu

Penulis: Youbil Fernando