Cerita-Cerita yang Tidak Diketahui Selepas Hujan

Prolog:
Selepas hujan adalah saat di mana lingkar pelangi menghiasi udara, sebuah keadaan yang tepat untuk aku memulai.
Seredup aliran nafas untuk mengambil setiap ruh yang hendak berpergian mencari jalan pulang, demikian pula dia yang meringkuk di jalan Tuhan.

Aku mengenal banyak wanita di dunia ini, gincu, rindu, senja dan cinta bahkan aku bisa mengingat dan mengulangi lagi, gincu yang rindu dan senja penuh cinta. Aku mengenal semuanya. Tidak terkecuali dia.

Aku akan menceritakan semua yang ku ketahui itu dengan perlahan, sampai saat malam ini semua bisa merasuk ke dalam buai mimpi; memberikan kehangatan.

Setiap hal yang aku suka dari dia adalah lingkar senyumnya yang mengingatkanku sehabis hujan terkadang tidak selalu mendung dan muram, terkadang pelangi muncul perlahan.
Mungkin bagi dia tersenyum adalah sebuah keharusan membahagiakan.

Ada banyak cara Tuhan menciptakan wanita, mulai dari tersenyum sampai cara bercanda, aku tak pernah tahu mana yang dia sukai tapi aku lebih suka jika ia bercanda sambil tersenyum bukannya tersenyum sambil bercanda.

Lebih dari itu adalah candanya yang jatuh di sekitar dan menjadi riuh taman di mana anak-anak kecil sibuk berlarian dan di sana aku melihat dia terlalu lelah berdiri sendiri menopang semua candaan itu.

Istirahatlah sebentar sampai hujan turun lagi, dan mengubahmu menjadi pelangi kembali. Sampai saat itu aku adalah cerita yang terus memperhatikan pelangi dari kejauhan.

Akhir:
Aku menyukai pelangi itu.

Penulis: Dimas Wahyu Ridho