Origami Malam


/1/
Aku menulis fragmenmu: mengultuskan hujan penghabisan. Senja menenun angin di penghabisan musim sunyi: kediamanku yang disesaki selusin senyap manakala malam datang mengiring pemayaan atasmu yang kemudian aku punah olehnya.

/2/
Aku ingin melampirkan kepadamu sepucuk malam gigil: sepilihan riak ombak yang pernah bertahta atas penghabisan jejak kakimu di atas pasir yang bersepuh purnama ayu. Hujan turun menyemai remang purnama yang semerbak di pelataran agar dia dapat tumbuh menemani lelapmu, agar ia dapat tumbuh dan menetaskan pagi dingin: kediaman isakmu yang fana.

/3/
Aku ingin melukis sunyi dengan bising suara hujan untuk kemudian menyihirnya, menjadikan tubuhmu Malam menjelma pigura anggun membingkai redup purnama untuk kemudian menenunnya, menjadikan teduhmu. Kita adalah kefanaan yang saling bertemu mengucapkan salam perpisahan dalam dekap cahaya matahari penghabisan murung yang dipintal oleh sang kala.

Penulis: Orkestra Bisu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s