Endorfin


image

Aroma tubuhmu telah lama aku simpan dalam bisik nadi
Perahlah, ia begitu suci selayak air yang mengalir dalam pelukku.

Sesekali aku pernah bermimpi menjadi keringat dalam perjalananmu
Menjadi derak nafas yang pasang surut
Seketika engkau mempercepat langkahmu sepanjang kemarau,
sepanjang ephemrida yang engkau tulis kembali.

Mandikankanlah rasa enunsiasi ini dari kembang kamboja
Hidupkan kemenyan, bungkuslah dari kafan,
sampai kenangan dan luka-luka tidak lagi tersisa di keranda
Lalu, zikirkan aku dari aroma tubuhmu yang sempat terpadamkan dalam bayang.

Perahlah, sesekali urat-urat masih mampu menyanyikan lagu kematian di penghujung kalbu.

Maka, inilah kesunyian yang aku pilih dalam jarak
Di antara menghapus aroma tubuhmu, membunuh kenangan yang pernah basa dalam mimpiku
di ambang kuburan.
Rasa yang pernah aku abadikan dalam pelukmu
Memillih sepi bersama keabadian di tubuh puisi.


ENDORPHINS

The scent of your body that I’ve been saving for long
in the whispers of pulse
Squeeze, it was sacred like the flowing water on my arms.

Sometimes I’ve dreamed of being a sweat on your journey
Becoming the crackling of your tidal breath
At once, you accelerated your steps along the drought,
along Ephemrida that you rewrote.

Bathe this enunciation with the frangipani flowers
Burn the myrrh, wrap with the shroud,
until memories and wounds are no longer left in the coffin
Then, recite me the dhikr of your scent that once has been quenched in the shadows.

Squeeze, sometimes the veins are still able to sing the song of death at the end of the heart.

So, here’s the silence that I choose within
Between erasing your scent, killing the memories that once based in my dreams
on the brink of the grave.
The feeling that once I’ve eternalized in your arms
has chose the eternal loneliness in the body of a poem.

Author: Abd. Khaliq
Translated by Poetry Prairie

Abd. Khaliq. Lahir di Tamansare Dungkek Alumni nasy-mut Candi II lalu hijrah ke Annuqayah. Aktif di kom. PERSI, SANGGAR ANDALAS, KOMPOLAN SASTRA, MSP. Belajar menulis sejak masuk kelas 1 SMA ANNUQAYAH. Puisinya dimuat di berbagai media: Buletin Jejak Bekasi, Buletin Kompak, Horison Kaki Langit, dll. Antologi bersama di Bandara Tangisan Penyair 2013, Suatu Ketika Mereka Membunuh Musim (Gambam 2015). Puisinya pernah mendapat penghargaan Juara II di Bulan Bahasa UGM 2015. Penulis juga penggerak Rumah Kata, Ketua Sanggar Andalas. Email: asholikgunawan.@yahoo.co.id.

Advertisements

One thought on “Endorfin

  1. Nina Sumaya

    Bagus ka puisinya😊 Pada tanggal 15 Jun 2016 08:51, “Poetry Prairie” menulis:

    > poetryprairie posted: ” Aroma tubuhmu telah lama aku simpan dalam bisik > nadi Perahlah, ia begitu suci selayak air yang mengalir dalam pelukku. > Sesekali aku pernah bermimpi menjadi keringat dalam perjalananmu Menjadi > derak nafas yang pasang surut Seketika engkau mempercepat l” >

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s