Ombak Pantai Lombang

setetes ombak menyeretku ke tengah samudera
menyelami karang-karang jiwa
memaknai laut yang membara
lantaran bibirnya tempias ke dasar bahaya

di tepi bulu alismu, Uliefa
aku menaiki perahu waktu
gelombang menerpa
gerimis menyapa

cemara yang mengganti bulu matamu
tak henti-henti aku elus
menerangi lampu cakrawala
dan menemani langit senja

ombak pantai lombang
kadang kau datang dengan tenang
kadang kau datang dengan perkasa
dan aku tak peduli pada penjaga dan penguasa
yang menyeretmu ke ladang sengsara

wajahmu putih, tubuhmu biru
kau pelihara ikan-ikan tongkol putih
yang segar dan terkenal enak
semoga kau tak mati di telan ambisi

ombakmu seputih ikan-ikan
cemaramu sehijau karapan

Battangan, Januari 2016
~Matroni Muserang~

Advertisements

Dunia Bawah Laut

Alam samudra…
Dirimu membentang bagaikan sebuah lukisan
Keindahanmu merayap di pelupuk mata setiap insan
Menembus ke dalam relung jiwa
yang mendambakan sebuah kebahagiaan
Menyimpan seribu misteri kehidupan
yang tak dapat dipecahkan
Menyelimuti terumbu karang
yang memberi tempat segala penghidupan
Ikan-ikan kecil menari dan bersukaria menikmati
kejernihan alam yang kau berikan

Mutiara-mutiara nan indah berkilau dalam
kerang-kerang yang memberi perlindungan
Sungguh harmonis, tenang tiada kejahatan
Saling memberi, saling menghidupi,
penuh kasih sayang
Bervariasi bentuk dan rupa tak menjadi penghalang
dari berbagai macam keragaman
Duniamu sungguh indah memikat seluruh jiwa yang ada dalam genggaman

Bunga-bunga menghiasi taman-taman
yang tak memiliki udara kehidupan
Sangatlah besar keagungan-Nya dalam menciptakan surga di alam lautan
Pasir-pasir putih selalu setia menjadi dasar sebuah pijakan
Gulungan-gulungan ombak senantiasa menjadi benteng pertahanan
Bintang-bintang tetaplah menjadi penerang dalam kegelapan di dasar lautan
Hiu-hiu jadilah penjaga dari segala macam kejahatan
Gurita dalam kehidupan malam,
tutuplah mata segala pencemaran
Lestarilah engkau sampai akhir penghidupan
Wahai pesona penghapus lara dalam kesedihan

~M. Abdul Rasyid~

Kalam Yang Karam

Ada masa sulit ketika aku tidak bisa menggubah kata-kata
Untuk rindu yang membusur menuju silam
Sebebas pemandangan maha luas
Bagaimana masa kecil seseorang berenang di tempat ini
Lidahku mampu mengecap keagungan yang sama
Ketika ombak bernyawa mendekap tawa anak umur belasan
Yang bermimpi meniup matahari dari kediamannya
Lalu melepasnya pada semesta dataran tandus bertuah
Yang tidak belajar menjaring hikayat

Ikan-ikan tidak menangis meski saudaranya direbut mata kail
Bisa saja anaknya, bisa saja ibunya
Mereka tetap berlari riang menuju perairan antah-berantah
Aku tidak ingin mendaratkan kata-kata
Namun aku leluasa bersua dengan masa kecilku
Ingin merunduk lebih lama sambil bersyukur
Tiba-tiba aku sudah berdiri di pinggir kapal
Yang menyeberangkan bintang tengah malam menuju subuh
Lumba-lumba bersiul menyalami udara, entah salam tangis atau bahagia
Mengarungi ritme yang mereka kenal baik
Daripada dengkur mabuk para penumpang
Kedua kali, ribuan kali

Lautan membimbingku untuk tunduk bersyukur

Jember, 20 Oktober 2016
~M. Zaenul Muttaqin~

Laut Belit

Uap uap meluap ke udara
Memecah amis darat
Mengirimkannya pada surya
Yang sedang bermanja-manja
Sambil menikmati hidangan laut

Air-air bercakap sana-sini
Mencari insang yang berenang
Atau karang-karang yang berlubang
Ibu air kerepotan mengejar anaknya
Yang masih kecil dan sulit diatur

Tangan-tangan berkaret tiba
Ikan ikan kepahitan
Karang-karang menerima kenyataan pahit
Matahari melirik sedikit
Tapi belum sempat mampir dalam masalah

Dasar laut, dasar harus bersuara
Bercerita pada surya yang adil sepertinya
Bahwa dasar laut harus tetap gelap
Sehingga akan tenang di dalam sana
Tanpa ada yang mengusik karena ketakutan.

~Muhammad Ridlo~

Poetry Prairie Lite #4 “Dunia Bawah Laut”


…Spektrum cahaya terbias
Berpendar pada pertemuan gelombang
Riak arus mendekap tubuhmu
Melalui coral dan anemone
Buih-buih meletup dari bibir ikan segala warna
Yang t’lah menempuh ribuan mil samudera
Di persimpangan arus dan gelombang,
jutaan ikan itu membuatmu hilang…

Poetry Prairie Literature Journal kembali membuka penerimaan karya puisi. Edisi keempat ini memiliki tema “Dunia Bawah Laut”. Kami mencari puisi yang sanggup menggambarkan dunia bawah laut dengan segala mahluk laut di dalamnya, dengan pasir dan karang, dengan arus dan gelombang serta keterkaitan manusia di dalamnya baik fisik maupun rasa. Menyelamlah ke dalam laut bersama puisimu dan lihatlah dunia bawah laut dengan segala keindahan dan misterinya.

Cara mengirimkan puisi dapat dilihat (di sini)

Terbakar di Pintu

Perempuan itu menepi. Terbakar di dekat pintu
dan rasa kangen yang ganjen
gamang
kemana gerangan dialamatkan?

Sedangkan hujan kian jauh merantau
pada diri lelaki yang membakar tembakau.
Hai, hidup memang tak tentu, ketika roda berdentam mengagetkan
pecah di sebelah kanan.

Munjul-Pandeglag, 29 Oktober 2015


BURNED AT THE DOOR

That woman stopped over. Burnt near
the door
and a flirtatious longing feeling was
fret
where it should be addressed to?

Whilst the rain keeps wandering away
to a man that burning tobacco.
Hey, life indeed is uncertain, when wheels
are pounding aghast
crashing on the right side

Munjul-Pandeglang, 29th October 2015


Author: Riduan Hamsah
Translated by Poetry Prairie

Riduan Hamsah. Penulis pernah bekerja sebagai jurnalis dan penulis kolom juga aktif menulis karya-karya sastra, sejumlah tulisan dipublikasikan di Harian Media Kalimantan, Radar Banjarmasin, Harian Satelit News (Tangerang), Lampung Post, Majalah Sabili, Majalah Suluh, http://www.wartalambar.com, serta termuat dalam sejumlah buku antologi antara lain; TANAH PILIH, 142 PENYAIR NUSANTARA, dll. Saat ini penulis bekerja sebagai pegawai di Bidang P2PL Dinas Kesehatan Kabupaten Pandeglang, Banten.