Spear


A poem by Elizabeth Acevedo

I want to share this poem, a piece that gives me the chill, the rage and tears.  I against every violence and sexual abuse. I hope that every people out there really understand that a woman is not a body. Women have the right to live safely, to bloom their heart and soul tenderly, and they have the right to defend their dignity.

It almost curdles my womb dry, these stories. Girl parties in Steubenville, watch her drink, watch her pass out, watch them grab wrist and ankles. She is now a rope they jump. Three girls—no, women now—ten years chained in a Cleveland basement. Did each one give thanks when he skipped her? When he visited that one? When he got her full of stillborn baby. Baby girl in Gretna, Louisiana stuffed into a garbage bag. Show me her mother, how she clenches her fists.

It seems we women must practice how to lose our daughters because I know the boys who will help me carry grocery bags, and they will whistle, will whisper, will crook fingers in my daughter’s direction. And she may flip her hair, she may buck her hip, she may accept their invitation to chill behind paint-chipped staircases. The cheap vodka may burn her throat, but not how they will, later, when they become more thrust than thought, and you can’t tell me that they don’t know that her “No!” is not a moan.

When she wakes me, her bed puddled in piss, I will scrub these hands raw. I will tremble at what they could not prevent. I have to hold every smile of my future daughter tipped up to the milk of this promise. She will not walk hunched, fingers playing with one another as if she can create prayers from the sweat between her palms. She will not be a girl forced to turn herself into a corner, taught that her body is a place to huddle, hide. I won’t raise her to be nice, to give her laugh away, to smile polite as men plot and plan and turn her body into a weapon of war – and if they try, she will know how to wield herself.

Don’t tell me it’s wrong to want to raise a child in this kind of fear. Because I know for every finger that we loosen, another knuckle grows back crooked, another knuckle is looking to crack into my daughter’s skin. And I can’t trust this world to teach their sons how to treat my daughter. So I will raise her to be a sword, a spear, a shield. To turn clasped hands into heated hatchet so it raises between her teeth, took her own kind of advances with the sharpest eyes, to hold all of this together with leather or lace to be chiseled, prepared for rebellions against her flesh. My daughter will be carved from hard rock. Sharpened, sharp, no, a spear! Her whole body ready to fling itself and arrow the hand of the first man who tries to cover her mouth.


Tombak
Penulis: Elizabeth Acevedo
Diterjemahkan oleh Poetry Prairie

Hampir membekukan rahimku kering, kisah-kisah itu. Seorang gadis berpesta di Steubenville, melihatnya minum, melihatnya pingsan, melihat mereka menggenggam pergelangan tangan dan pergelangan kaki. Dia sekarang menjadi tali yang mereka lompati. Tiga gadis -tidak, wanita sekarang- sepuluh tahun dirantai di ruang bawah tanah Cleveland. Apakah masing-masing bersyukur ketika lelaki itu melewatkan dirinya? Ketika lelaki itu mengunjungi seorang yang lain? Ketika lelaki itu memenuhi tubuhnya dengan bayi yang terlahir mati. Bayi perempuan di Gretna, Louisiana dimasukkan ke dalam kantong sampah. Tunjukkan ibunya, bagaimana dia mengepalkan tinjunya.

Tampaknya kita perempuan harus berlatih bagaimana kehilangan putri kita karena aku tahu mungkin anak laki-laki yang membantu membawa tas belanjaan, mereka akan bersiul, akan berbisik, akan menjentikkan jari ke arah putriku. Dan putriku mungkin mengibas rambutnya, mungkin melenggak pinggulnya, dia mungkin menerima undangan mereka untuk bersantai di belakang tangga bercat terkelupas. Vodka murahan mungkin membakar tenggorokannya, tapi tidak bagaimana mereka berkehendak, nanti, ketika mereka menjadi lebih berdaya dalam pikiran, dan kau tak bisa katakan padaku mereka tak tahu bahwa “Tidak”-nya bukanlah erangan.

Ketika dia membangunkanku, tempat tidurnya tergenang air kencing, aku akan menggosok tangan ini. Aku akan gemetar pada apa yang mereka tak bisa cegah. Aku harus menahan setiap senyum masa depan putriku hingga berujung pada janji ini. Dia tidak akan berjalan membungkuk, mempermainkan jemari satu sama lain seolah-olah dia bisa membuat doa dari keringat di antara telapak tangannya. Dia tidak akan menjadi gadis yang dipaksa memojokkan dirinya sendiri ke sudut, yang diajarkan bahwa tubuhnya adalah tempat untuk meringkuk, untuk sembunyi. Aku tidak akan memeliharanya untuk menjadi baik, untuk memberikan tawanya, untuk tersenyum sopan sementara lelaki membuat taktik dan rencana dan mengubah tubuhnya menjadi senjata perang – dan jika mereka mencoba, putriku akan tahu bagaimana mempertahankan dirinya sendiri.

Jangan bilang adalah kesalahan untuk menginginkan membesarkan anak perempuan dalam ketakutan semacam ini. Karena aku tahu dalam setiap jari yang kita longgarkan, buku jari yang lain akan  tumbuh bengkok ke belakang, buku jari yang lain mencari celah ke dalam kulit putriku. Dan aku tidak bisa memercayai dunia untuk mengajar anak-anak lelaki mereka bagaimana memperlakukan putriku. Jadi aku akan membesarkannya sebagai pedang, tombak, perisai. Untuk mengubah tangan tergenggam menjadi kapak panas yang akan timbul di antara giginya, mengumpulkan sesamanya dengan mata paling tajam, untuk menyatukan semua bersama-sama dengan kulit atau renda yang harus dipahat, siap untuk memberontak melawan dagingnya. Putriku akan diukir dari batu keras. Diasah, tajam, tidak, tombak! seluruh tubuhnya siap untuk melemparkan dirinya sendiri dan menghunus tangan lelaki pertama yang mencoba untuk membekap mulutnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s