Di kotaku pintu-pintu setengah terbuka
adat peluh yang berpesta di pelupuk mata
belum juga punah di bahu kurus trotoar
debu lebih deras dari keringat pejalan kaki
hujan terbata-bata
puisi-puisi yang lahir bersama embun
harakiri di penghujung hari

di pusat kota terlihat puluhan bencana
tetapi bila mata dipicingkan
jumlahnya berjuta-juta
seperti kuman di sela kuku jemari orang-orang kenyang akan janji tetapi tubuhnya rontang

barangkali janji yang tak layak konsumsi
tersedak di kerongkongan para nasabah
berlalu-lalang melihat pengemis di pelataran
lalu mendermakan senyuman di kotaku
dimana bulan nampak lebih kecil
dan setiap dada hanya dilalui satu musim

Kendari, 2015

Penulis: Astika Elfakhri