Jarak Pandang Kita

Tidak pernah ada kabut
Sebab udara tak juga mengenal gigil
Meski matahari tampak seolah berselimut

Aku tak bisa memandangmu
walau kurasa jarakmu hanya secuil.
Tidak ada tembok, Jerman telah bersatu
Tersisa sebuah, tempat orang memanggil
Tuhan yang jauh dan tinggi
Aku pun merasa sesak, tanpamu, bernapas menjadi
hal paling tak bebas.

Tak bisa kulepas
masker di wajah, namun mata perih, tetap
tak bisa melihatmu sama sekali.
Aku ingin meratap, mencaci asap
Api asmara telah membakar hutan di dada
dan gambut-gambut yang seperti busa
sudah tidak lagi bisa menyimpan air mata

Penulis: Pringadi Abdi Surya

Do You See What I See?

My love,
do you see what I see?
cloudless night illuminated by the moon
that shine on the beggar kid
who just want a silver spoon

My love,
do you see what I see?
amidst the edifices of banal desire
where money is gain and power is win
there is a man who never had money nor power
since he was born

My love,
do you see what I see?
there’s a couple fighting outside the bar
the woman accuse him of kissing with the waitress
and the man accuse her of fornicating with the bartender
both of them understand that the flame has ceased to exist
and they only want an excuse to begin with

My love,
do you see what I see?
your figure standing in the balcony
hanging your head and lost in thought
you think of many things except me
for I see what you don’t see
the face of love
for someone, not I

Author: Alvin Dharma

Rumus Rindu

sungguh! tiada lebih bising manakala dengung denting kerinduan kian melengking nyaring dalam replika kenangan tentang kita.
mungkin benar; merindu bukanlah sandiwara politik. serupa sidang para kabinet wakil kita kian pandai merangkai permainan kata berupa wacana.
aku tak pernah bisa berkata jujur untukmu, kawan. bilamana wajahmu kerap menabur subur di hati dan mata yang seketika mencipta duka pada tawa foto-foto kita.

oh Tuhan! pencipta segala rasa. hanyutkan aku dalam lebur kabar kawanku ini. malam ke kelam, sampai kuterlelap puas hingga terpejam pulas. memandu lara hingga kabar bahagia. dari canda tawa hingga candu menepis segala duka.

jangankan puting beliung menyeret kenangan kita. ombak badai topan sekalipun; aku akan peluk dengan tenang. hempas air asinnya kuanggap kerangka sebuah rasa. asal derita hati, sua kabar ceria. meski masa semakin mencumbu tua.

walau harus menyepi dengan beribu catatan duka, akan candu canda kita; serupa NIL yang terus berkepanjangan ke ceruk dada. hingga lupa; ternyata perpisahan masih setia menanti diujung dermaga. dan aku harus mengalah pasrah meski gelisah selalu membuncah ruah.

untuk mengenang segala nestapa; kita tepis bersama. indah dikenang, hilir-hilir tangis mengalir. di hening malam berbantal kenangan.

kawan, aku tak pernah tahu rumus tentang rindu!
aku ditambah kamu samadengan candu
aku dikurangi kamu samadengan rindu
aku dikali kamu samadengan candu bertemu
dan aku dibagi kamu samadengan duka rindu ingin bertemu.

Penulis: Fadhil Sekennies

Kasidah Air Mata

;Teruntuk Neng Ozara

Selamat malam luka, selamat hijrah ke hatiku
Apalagi yang semestinya hendak kututupi berkali-kali pada sepi
Bilamana sekuntum mawar di tubuhku, perlahan gugur
Mengering dedaunannya, sebab penindasan kemarau
Tak henti-hentinya kau kirim dari senyummu
Bahkan, seratus duri-durinya
Pasrah menancap di curam dadaku.

Terimakasih luka, perih yang kau wasiatkan padaku
Telah sempurna menjadi riuh dan debur lautan
Lebih pasang dari riak maritim, menghempas segudang harapan
Serta memecahkan jembatan panjang di otakku.

Sebelum waktu makin berlalu
Aku berharap padamu
Hargailah perasaanku
Sebagaimana kau mengerti perasaan mu sendiri.

Ozara, ini kali aku bersaksi
Bahwa semenjak mencintaimu
Aku lupa cara hidup yang sebenarnya.

Ozara, harus dengan apa pula kutatap langit di dadamu
Manakala sesal mendung di mataku
Menjelma kemarau paling ganas di kepala.

Ozara, apakah aku harus ingkar pada sunyi
Biar tetas dari ayat-ayat air mata
Mencipta sungai dangkal di matamu
Agar segalanya bisa kau larungkan
Pada resah yang paling rekah di ceruk-ceruk jiwa.

Ozara, aku sempat ingin berlari dari hikayat
Sebab gurindam kata-kataku
Semakin ranggas tak lagi ganas diksi-diksinya.

Ozara, mungkin begini saja,
Jalan terbaik di antara kita
Adalah menjauh paling sempurna.
Tapi, ada kemungkinan lain
Aku terlalu yatim untuk mencintaimu
Sebab ayah dari rasaku
Telah meninggal paling dahulu.

Aku mohon maaf, Ozara
Jika suatu saat, aku pamit meninggalkanmu
Lalu, kuserahkan kado kecil untukmu
Sebagai pemberian terakhir kali dan selama-lamanya.
Tetapi sebelum itu, aku titip sebotol darah padamu
Mungkin engkau akan menyimpan seribu tanda tanya tentang darah itu?

Sebelum kau tanya, Aku jawab paling dahulu:
“darah itu akan menjadi saksi, bahwa aku pernah berjuang mencintaimu,
meski perihal kegagalan yang sempurna kucapai”.

Maka, cukup kuterjemahkan sekarang
Bahwa hakikat musim yang bertahun-tahun kugenggam
Adalah kegagalan mencipta hujan di tubuhmu.

Annuqayah, 2019

Penulis: Firmansyah Evangelia

Falsafah Tragedi Rindu Kian Memanjang di Kota Dadaku

Nona, mengawali segelintir cemas
ranggas paling ganas di dadaku
Aku ingin titip perihal pada nyala api
yang menari di matamu
Bahwa tragedi paling kukuh:
Adalah tunggalnya kesaksian rindu.

Apalagi yang harus kukatakan pada langit
Bilamana kebenaran dari rinduku
Tak pernah mengenal proklamasi musim
Keadilan kemarau, juga tetas rinai hujan
yang bertandang di pekarangan rumahmu.

apalagi yang harus kusampaikan pada tanah
manakala sejatinya resah
telah berpijak, pada kegersangan batin yang tak pernah bengkak
juga menjadi tulang-belulang harapan
sebagaimana kehendak tuhan
menghadiahkanku tunas kesabaran.

Apalagi yang harus kutitipkan pada angin
Pabila rahim desirnya
Adalah bagian gigil dari tubuhmu.

Apalagi yang harus kurahasiakan padamu
Pabila hakikat dari silau bebayang lain
Larut sirna di mataku
Dan hanya kepadamulah
hendak kupersembahkan segala rindu.

Penulis: Firmansyah Evangelia

Suatu Saat Nanti

Suatu saat nanti kau pulang
Datanglah ke tepi gunung dekat pantai
tempat kita menanak rindu
Aku sudah menantimu di sana

Ayah sendiri pernah berlayar dan
Menebar debar asmaranya di sana
Bersama selembar malam dan sebuah sepi
Kita dipancang ke pelupuk pertiwi

Tak ada yang berubah
Toilet dan kamar mandi masih ada
Fotomu juga masih pajang di situ

Di balik bilik teluk cahaya itu
Katamu, Biak adalah perihal kebaikan
Menjelma ayah dan ikan-ikan membiak
Ke dinding karam laut jadi kita

Maka baiklah suatu saat nanti kau pulang
Datanglah ke tepi gunung dekat pantai itu

Biak ruang segala pergi telah
menemukan jalan pulangnya

Jakarta, Agustus, 2018

Penulis: Rino Fahik

Senja

Aku menjadi saksi
Tentang seorang ayah yang pulang ke rumah dengan perasaan bangga membawa sebungkus lauk untuk keluarga tercinta.
Tentang sepasang kekasih yang sedang kasmaran menikmati indahnya jingga di cakrawala sambil berbicara tentang rencana-rencana membangun sebuah rumah tangga.
Tentang anak kecil dengan wajah masam yang tak mau disuruh berhenti bermain bola oleh ibunya karena hari sudah petang.
Tentang sekawanan burung yang terbang meninggalkan tanah lapang munuju peraduan.
Tentang seorang pemuda yang berdiri di penghujung asa merasa seluruh hidupnya sia-sia semenjak ditinggal wanita.

Aku menjadi penantian
Bagi manusia yang lelah dan penat seharian terjerat dalam masalah-masalah pekerjaan.
Bagi orang tua renta dengan tubuhnya yang termakan usia hingga menghitung waktu yang masih tersisa.
Bagi pemudi frustasi yang tengah depresi mencoba mengumpulkan nyali untuk mengakhiri hari.
Bagi pekerja malam yang bersiap dengan dandanan berharap sedikit rejeki untuk makan.
Bagi harapan yang terus mencari jalan untuk membuat semua asa menjadi kenyataan bukan hanya menggantung di angan.

Aku menjadi yang dibenci
Oleh pasangan yang masih enggan saling meninggalkan di saat semua hal indah mulai muncul perlahan.
Oleh pedagang di pinggir jalan yang beranjak pergi meratapi jajaannya yang tak ada pembeli lagi.
Oleh orang pinggiran dengan listrik yang padam dan mereka tak mampu lagi melihat terang.
Oleh semua insan yang membenci kenyataan karena senja selalu mengajarkan tentang kesadaran.

Namun aku tetaplah senja
Yang selalu menyimpan cerita bagi setiap jiwa yang rindu akan hangatnya siang sebelum harus meringkuk di antara dinginnya malam.
Yang selalu mampu menyihir mata dengan gradasi warna hingga setiap insan merasakan betapa indahnya semesta.
Yang selalu mampu mengubah tawa menjadi air mata atau mengubah duka menjadi suka cita.
Dan yang selalu mampu mengubah setiap kejadian manis, pahit, susah, senang menjadi lembaran-lembaran kenangan dalam ingatan.

Penulis: Wirga Wirgunatha

Above The Nicobar

Out in the heaven so blue
swirls the silvering clouds,
with the edges fly, and monsoon dies,
men challenged the storm, and with thunder crushed.

What violence, said the men,
could rattle the canopy and
tear the fiery rays asunder?
or quisle the dying gold of Her grandiose,
or maul the sun till ocean’s bleed.

And underneath, the ocean foams and twirls,
with Gods and Goddesses from the river’s rage.
All men, women in silk and hued zest sing
“be calm, sea - the ashes of my love sleep therein!”

Underneath, the devil and Poseidon are chanting
lullaby and haunting serenade
to bid the Nicobar coast a sweet dream.

Sea of turmoil, will you speak
the hour of my death?
until the restful temper of eve
claims Nicobar an Eden

Author: Sarita Diang

//Garis Samar//

I.

Garis merah di sudut jari kanan bibirmu
Bagai senja yang terburu-buru bersolek
sebelum hujan turun sore itu.

Kau paksakan samudera ke dalam warna sepatumu
yang aku dapat bercermin kepadanya—ganjil, aneh, janggal.

II.

Kau mencoba mengukir kisah kasih di atas kertas,
namun sayang, tintamu habis
sebelum namaku usai kau tulis setelah namamu

Dan cahaya lilin yang kian redup
membawa bayanganku semakin jauh, jauh, jauh.

III.

Gitar tuamu, mengadu padaku
bahwa sejatinya kau begitu menyukai lagu pemberian dariku

Hingga kau gemakan nadanya berulang-ulang,
dan, akhirnya sumbang di tepi kenang

IV.

Sayangku, sesungguhnya aku sudah tidak mencintaimu
dan ingin berumah dengan yang lain
Namun pintuku masih terbuka untukmu jika hendak bersua
Kali lain, mari kita berdansa di atas laut biru, di bawah kemilau senja,
membukukan kisah untuk cucu kita, juga menyanyikan asmara yang takkan kedaluarsa.

-jika, aku masih mengingatmu

Penulis: Julia DK

Menulis Kerinduan

Hujan adalah kutukan,
Karena rindu tak pernah terbantahkan…

Malam tak pernah bisa diam. Rindu yang tak dipertemukan, dari mimpi yang tak bisa diramalkan.

Sisa kepingan malam yang kusimpan di saku celanaku kini hilang. Setelah kuselidiki dia kembali bertengger di atas, menemani bulan yang lalu lalang sembari mengutuki bintang-bintang memunguti pecahan waktu.

; karena sisa untuk bertemu semakin tipis, membuat nafas kembang kempis.

20:22

Setelah mendengar kesahmu, tubuh bergetar dan rindu semakin menyasar.

(Gusar yang sejak tadi kutampar, telah membalasku dengan kasar dan hujaman teramat pijar)

Mencecapi suara kanak-kanak teriak. Sejenak aku mengerti. Bahwa bahagia tak melulu tentang ini dan itu. Cukup menyantap senyum yang ayu serta candamu yang mengubah kelabu menjadi sajak utuh.

(Merindukanmu adalah kata yang tak pernah habis kutuliskan. Dan yang kutahu obat rindu adalah sebuah pelukan)

Malam legam, Mei 2018

Penulis: Beny Syah