Akar Tunggang

Layakkah aku
menjadi akar tunggang
yang hidup tenang di matamu
mencari sisa fosil-fosil mikro organisme
tanpa air matamu yang menyuburi tanahnya
kau sering mengubah musim dan jarak
di saat sebuah cinta mulai bermimpi
meleburkan kisah rindu abadi
hingga aku boleh berkata :
layakkah seorang aku

Dan jika musim perkawinan pelangi tiba
kabarkan padaku dengan segera
aku ingin mengikrarkan janji
pada tujuh warna-warnanya
bahwa aku bahagia
melihat tonggak kayu
kembali berseri di wajahnya
yang membawa sari-sari makanan
untuk disajikannya kepada putri daun
dalam proses fotosintesisnya kepada dunia
hingga aku mampu layak menjadi akar tunggang
yang bersemi penuh kewangian di jasad dan jiwamu

Purworejo, Sabtu, 21 April 2018, 00:50 WIB

Penulis: Estu Ismoyo Aji

Advertisements

Membatu Di Depan Kaca

Selepas tidak melakukan apa-apa, lalu apa-apa tidak bisa dilakukan, karena batas mengatur setiap apa: beku yang terjamah mata—pikiran terlanjur menjadi negara, mengapung atas pertanyaan sendiri.

Aku tak tahu.
Ketika menemuimu, sebuah pistol melekat di pipi, tak terasa ledaknya tapi mulut tak bisa bersuara, itu sekilas cahaya.
Denyar membawa jiwa karam ke dasar seperti sebuah pasar. Berbinar-binar warna perempuan melekat di kaca dan gambar-gambar kapitalis.

Mati sajalah aku. Cekik celanaku.
Seorang anak kecil datang dari sebuah toko menyodorkan proposal. Aku tak punya apa-apa. Apa dia mau mendengar dongeng filsafat?

Mati sajalah aku.
Aku terus dibawa tanpa paksa atau provokasi. Tanpa suapan atau negosiasi yang lebih demokratis.
Tubuhku membatu di depan kaca.
Cahaya itu basah, mengalir.

Penulis: M. Roisul K.

PETRIFIED IN THE MIRROR

After doing nothing, then everything cannot be done, because limitation regulates everything: the frozen untouched by eyes -mind has became a state, floating above questions.

I don’t know.
When I met you, a pistol was right next to the cheek, I felt the explosion but mouth is soundless, in a glimpse of light.
Trills wrecked the soul to a market-like floor. Glowing colors of women are embedded in mirrors and capitalist pictures.

Just let me die. Choke my pants.
A little boy came from a shop with a proposal. I have nothing. Did he want to hear a philosophy tales?

Just let me die.
I was constantly taken without force or provocation. Without bribery or democratic negotiation.
My body was petrified in front of the mirror.
The light was wet, flowing.

Author: M. Roisul K.
Translated by Poetry Prairie

Pagi

Mungkin, kau pernah di beranda
Sebagai kemelinting hiasan dari kerang
Yang dibawa oleh angin untuk cangkul di ladang
Mungkin juga, aku pernah di antara pematang
Sebagai gemerisik rerumpunan padi
Yang dibawa oleh angin untuk gerabah di para-para
Atau mungkin, kita selalu pura-pura tak tahu
Jika kita saling mengisi :
Kau kepada kejauhan dan aku dari kejauhan?

Ah, betapapun kita saling menyembunyikan diri
Pagi selalu saja bisa menyentuh gordin biru tua
Dan menjadikannya keemasan merona-rona

(Mungkin memang jendela dari anyaman bambu tak pernah mampu memisahkan
kita dari temu, atau memang kau yang sengaja tak membuka jendela agar
pertemuan kita selalu rahasia?)

17/01 11


Poetry of The Week
Penulis: Panji Sadewo

Sintesa: Blue Nude Pablo Picasso

Biru, ranum, pucat, lebam, telanjang
Tampak punggung dan pinggul perempuan itu
Menyembunyikan payudaranya dari sudut tatap

“Tuan Picasso, dimana kubisme tuan?”
Perkabungan membuat garis lekung, bukan persegi
Mungkin itu bagiku, tapi bagi Picasso
Yang telah lama hidup di titian garis mati:
Siapa bisa tahu bagaimana rupa kelananya disana?

“Dan, siapa perempuan itu?”
Ah, sekali saja lengkung mengganti lurus
Kenapa selalu perempuan yang terlintas?
Lukisan itu… Seperti winter, ya
Winter

“Baiklah, biar kunyanyikan Ballad… ”
-tidak! Tolong mainkan Jazz! Chick Corea, Spain*!
“Apa di Spanyol turun salju?”
-siapa tahu …
“Tentu tuan, Spain. Kau ingin dimainkan dengan instrumen apa?”
-Flute, pada G. Hanya G, tanpa # atau imbuhan apapun

Dan Jazz… Setelah sekian lama Ballada, cello, perkusi, dan sunyi
Di antara derik improvisasi itu dan malam ini
Ada tiga hal yang hilang :
Duka, karma, tiket Nibbana

Picasso duduk sambil menikmati kretek dari Temanggung
Merumbai alunan Spain yang dimainkan entah siapa
Picasso diam, membirukan diri
Menerima lebam jika memang lebam
Sebab ia sepenuhnya paham, ia tiada bisa lari dari apapun
Walau apapun itu bisa mencampanya sesuka-suka

Malam itu, ada satu hal yang berkecambah
Dan ia biarkan membelukar begitu saja:
Dosa

19 Agustus 2016
nb : * Spain, lagu Chick Corea. (Jazz.)


Poetry of The Week
Penulis: Panji Sadewo