Pentas Kita


Hari ini, aku mencari wangimu di antara sekian aroma yang dikirim angin.
Ingin kuberitahu kau, tentang
puisi yang tumbuh dari pertemuan-pertemuan tak sengaja,
pandangan yang gagap, dan senyum yang kusembunyikan.
Telah kusiram ia dengan rindu yang jatuh di ujung senja,
juga dengan rinai pinta pada Tuhan.

Aku menebak-nebak, mungkin kau tengah sibuk merawat puisi yang sama,
dan mulai bertanya; apakah puisimu tumbuh subur atau malah layu
dan luruh? Tapi pikiranku terlalu takut, dan memutuskan bahwa aku akan
menganggapmu sibuk menyanyikan lirik-lirik lagu
tentang pertemuan-pertemuan tak sengaja,
pandangan yang gagap, dan senyum yang tersembunyi. Setidaknya,
lirik lagu tak mengenal kata subur atau layu.

Aku menjadi terus berpikir kau telah memiliki banyak lagu,
dan mulai membayangkan kita akan menggelar pentas berdua.
Jika sudah tepat tanggalnya, kita akan gelar pentas kita.
Saat itu, puisiku sudah akan berbunga, menjadi kata-kata
yang bisa kau selipkan dimana saja; di tidurmu, di secangkir kopimu,
di sela senyum yang kau punya atau dalam tembang yang kau nyanyikan.
Orang-orang akan berdatangan meramaikan pentas kita.
Kita akan terus merayakannya, hingga
orang-orang kembali pulang, dan lampu-lampu
di panggung pentas kita padam.
Saat itu, yang tersisa adalah puisiku dan lagumu.

—————————————

OUR STAGE

Today, I seek your scent amongst the aroma that sent by the wind.
I wanted to tell you, about a poem that grew out from the coincidentally meetings,
the stuttering stares, and a smile that I hid.
I have watering it with longing that fell at the end of twilight,
also with drizzles of plead to God.

I was guessing, you might be busy taking care of the same poem,
and I began to ask; is your poem flourishing or instead, withered
and exuviate? But my mind was too scared, and decided that I would
think you’re busy singing the lyrics of a song about coincidentally meetings,
stuttering stares, and a hidden smile. At least, the lyrics not recognized the word infertile or wither.

I was constantly thinking that you’ve had a lot of songs,
and then began to imagine we’d take our stage together.
If the date is on the right time, we’ll be performing our show.
At that moment, my poem will already flourish into words
which you can slip in anywhere; in your sleep, in your coffee cup,
on the sidelines of a smile that you have or even in the song you sing.
People will come enliven our stage.
We will continue to celebrate, until the crowds are going back home, and the lights
on our stage switch off.
At that moment, my poem and your song are all that left remain.

Author: Halimard
Translated by Poetry Prairie

Halimard. Puisi ibarat wadah, yang bisa kau tuangkan apa saja ke dalamnya, lalu ia akan menjelma kata-kata dengan ciri khas dan aroma yang baru.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s