Senja

Aku menjadi saksi
Tentang seorang ayah yang pulang ke rumah dengan perasaan bangga membawa sebungkus lauk untuk keluarga tercinta.
Tentang sepasang kekasih yang sedang kasmaran menikmati indahnya jingga di cakrawala sambil berbicara tentang rencana-rencana membangun sebuah rumah tangga.
Tentang anak kecil dengan wajah masam yang tak mau disuruh berhenti bermain bola oleh ibunya karena hari sudah petang.
Tentang sekawanan burung yang terbang meninggalkan tanah lapang munuju peraduan.
Tentang seorang pemuda yang berdiri di penghujung asa merasa seluruh hidupnya sia-sia semenjak ditinggal wanita.

Aku menjadi penantian
Bagi manusia yang lelah dan penat seharian terjerat dalam masalah-masalah pekerjaan.
Bagi orang tua renta dengan tubuhnya yang termakan usia hingga menghitung waktu yang masih tersisa.
Bagi pemudi frustasi yang tengah depresi mencoba mengumpulkan nyali untuk mengakhiri hari.
Bagi pekerja malam yang bersiap dengan dandanan berharap sedikit rejeki untuk makan.
Bagi harapan yang terus mencari jalan untuk membuat semua asa menjadi kenyataan bukan hanya menggantung di angan.

Aku menjadi yang dibenci
Oleh pasangan yang masih enggan saling meninggalkan di saat semua hal indah mulai muncul perlahan.
Oleh pedagang di pinggir jalan yang beranjak pergi meratapi jajaannya yang tak ada pembeli lagi.
Oleh orang pinggiran dengan listrik yang padam dan mereka tak mampu lagi melihat terang.
Oleh semua insan yang membenci kenyataan karena senja selalu mengajarkan tentang kesadaran.

Namun aku tetaplah senja
Yang selalu menyimpan cerita bagi setiap jiwa yang rindu akan hangatnya siang sebelum harus meringkuk di antara dinginnya malam.
Yang selalu mampu menyihir mata dengan gradasi warna hingga setiap insan merasakan betapa indahnya semesta.
Yang selalu mampu mengubah tawa menjadi air mata atau mengubah duka menjadi suka cita.
Dan yang selalu mampu mengubah setiap kejadian manis, pahit, susah, senang menjadi lembaran-lembaran kenangan dalam ingatan.

Penulis: Wirga Wirgunatha

Advertisements

Nyanyian Kesedihan

(Peristiwa Tragis)

aku membayangkan betapa hari ke hari berikutnya begitu dingin
bukan sebab ingin yang melayang-layang di pikiran
tetapi, keputusan yang tegas dan pas
di bulan Agustus

aku nikmati haus dan lapar
dengan waktu yang makin menghempas
di dada seorang Ibu
yang melahirkan, yang merawat, dan membesarkanku

aku tahan lapar
aku menahan memar
sampai pada batas

Darmakradenan, Agustus 2018

Penulis: Yanwi Mudrikah

Kembali ke Rumah Cahaya

bukan gadis yang kau kejar
apalagi rasa lapar
tetapi,
kau kembali ke rumah cahaya
hingga menyala
seluruh tubuh

ruh-mu menyala
ke lubuk
ke lamuk
tak ada kata ‘mengamuk’

kembalilah para pencinta
kepada cahaya

lenyaplah
dari huru-hara dunia
dan prahara
di deretan jarum
dan benang dunia

kembalilah ke rumah cahaya

Darmakradenan, 2018

Penulis: Yanwi Mudrikah

Above The Nicobar

Out in the heaven so blue
swirls the silvering clouds,
with the edges fly, and monsoon dies,
men challenged the storm, and with thunder crushed.

What violence, said the men,
could rattle the canopy and
tear the fiery rays asunder?
or quisle the dying gold of Her grandiose,
or maul the sun till ocean’s bleed.

And underneath, the ocean foams and twirls,
with Gods and Goddesses from the river’s rage.
All men, women in silk and hued zest sing
“be calm, sea - the ashes of my love sleep therein!”

Underneath, the devil and Poseidon are chanting
lullaby and haunting serenade
to bid the Nicobar coast a sweet dream.

Sea of turmoil, will you speak
the hour of my death?
until the restful temper of eve
claims Nicobar an Eden

Author: Sarita Diang

//Garis Samar//

I.

Garis merah di sudut jari kanan bibirmu
Bagai senja yang terburu-buru bersolek
sebelum hujan turun sore itu.

Kau paksakan samudera ke dalam warna sepatumu
yang aku dapat bercermin kepadanya—ganjil, aneh, janggal.

II.

Kau mencoba mengukir kisah kasih di atas kertas,
namun sayang, tintamu habis
sebelum namaku usai kau tulis setelah namamu

Dan cahaya lilin yang kian redup
membawa bayanganku semakin jauh, jauh, jauh.

III.

Gitar tuamu, mengadu padaku
bahwa sejatinya kau begitu menyukai lagu pemberian dariku

Hingga kau gemakan nadanya berulang-ulang,
dan, akhirnya sumbang di tepi kenang

IV.

Sayangku, sesungguhnya aku sudah tidak mencintaimu
dan ingin berumah dengan yang lain
Namun pintuku masih terbuka untukmu jika hendak bersua
Kali lain, mari kita berdansa di atas laut biru, di bawah kemilau senja,
membukukan kisah untuk cucu kita, juga menyanyikan asmara yang takkan kedaluarsa.

-jika, aku masih mengingatmu

Penulis: Julia DK

Menulis Kerinduan

Hujan adalah kutukan,
Karena rindu tak pernah terbantahkan…

Malam tak pernah bisa diam. Rindu yang tak dipertemukan, dari mimpi yang tak bisa diramalkan.

Sisa kepingan malam yang kusimpan di saku celanaku kini hilang. Setelah kuselidiki dia kembali bertengger di atas, menemani bulan yang lalu lalang sembari mengutuki bintang-bintang memunguti pecahan waktu.

; karena sisa untuk bertemu semakin tipis, membuat nafas kembang kempis.

20:22

Setelah mendengar kesahmu, tubuh bergetar dan rindu semakin menyasar.

(Gusar yang sejak tadi kutampar, telah membalasku dengan kasar dan hujaman teramat pijar)

Mencecapi suara kanak-kanak teriak. Sejenak aku mengerti. Bahwa bahagia tak melulu tentang ini dan itu. Cukup menyantap senyum yang ayu serta candamu yang mengubah kelabu menjadi sajak utuh.

(Merindukanmu adalah kata yang tak pernah habis kutuliskan. Dan yang kutahu obat rindu adalah sebuah pelukan)

Malam legam, Mei 2018

Penulis: Beny Syah

Gadis Kecil Tanpa Nyawa Ayah Bunda

Kau lihat bola bening matanya
Mengalir jernih bulir-bulir lara
Karena darinya sumber mata air air mata

Kau lihat langkahnya
Menapak kerikil tajam tanpa alas dari Ayah dari Bunda
Hingga tertinggal jejak-jejak kerikil di kakinya

Kau lihat mukanya
Tertutup kabut kelabu hitam dalam
Guratan asa tergambar di pipi kanan kirinya
Membuat kusam panorama pandang melihatnya

Diraihnya buah dari dahan yang rendah
Tapi bukan kepunyaan Ayah Bundanya
Adalah hari depannya yang kan selalu mengepung
Karena telah dipermainkan jari nasib dengan curang
Sehingga ia terasing dari kasih sayang
Terasing dari keharmonisan
Terdampar di tepian terhindar

Apa lagi yang tinggal
Gadis itu bertanya
Tak mungkin mencoba pertahankan
Hempasan badai dengan seutas benang, mana dapat

Rumahku roboh olehnya
Atap-atapnya tak mampu menaungi kepercayaan
Dinding-dinding pelindung hancur
Tiang penyangga keropos rata juga dengan tanah
Kini semuanya dianggapnya riwayat
Mencoba mengabaikan bisik risih dalam jiwa
Gadis itu terus melangkah jalan
Meski dia tahu tidak semua menuju ke arah taman

Penulis: Amalia Nur Fajriyati

Puan

Cahaya melahirkan bayang: origami hitam yang diseret seorang perempuan sepanjang trotoar yang ditumbuhi tiang lampu, deret bangku panjang, dan pohon oak yang memanen senja kelabu suatu petang

Sungai melukiskan wajah seorang hawa yang tengah berdiri mematung di pinggir jembatan dengan isak yang ia coba titipkan kepada rinai air dan aroma mendung gigil

Hening mengikal di sekujur langit, malam datang dalam hujan berkesudahan sebelum bayang yang melangkah tunduk berbisik kepada puannya agar menyihir lukisan yang dipahat sungai menjadi sepotong cermin retak yang dicoraki riak dan tubuh perempuan

Penulis: Orkestra Bisu

Menahkodai Purnama

Aku hanya mengandalkan cahaya temaram senja di tepian pantai
untuk menulis sebuah puisi yang terlahir dari kegelapan
sebatang bakau dengan abunya yang menyala
menjadi penerang setiap kata

Tiada gulungan ombak juga desir angin
yang mampu menakutiku
semua terasa tenang
ketika lampu-lampu perahu menemani kesunyianku
aku tak peduli jika saja ombak mau membawaku ke pelatarannya
meskipun aku harus mati nantinya
namun dengan syarat
izinkan aku menahkodai purnama
walaupun terombang-ambing oleh gugusan awan

Dan aku ingin berteriak sekeras mungkin
di pantai selatan ini
melepas segala gundahku
hingga senja itu hilang ditelan kegelapan
dan aku ingin benar-benar layak menjadi raja
pada bintang-bintang yang termangu
menatap layar kaca mataku yang buram

Di jendela langit ada samudra
yang mengajak nyawaku berlayar di sana
padahal kakiku masih dibalut pasir-pasir
mustahil aku mampu melunaskan hasratnya
tapi sebuah perjuangan tidak berakhir di sini
aku tetap melangkah menyusuri lorong waktu
mencari jejak-jejak buih yang terdampar
di keasingan hatimu yang pasang-surut
sampai kursi senja mempersilahkan kita
untuk duduk bersama
menatap senja yang kembali bereinkarnasi
memikat roh pada langit di kiblat jiwamu
hingga laut membentuk surat dan perjanjian
mengabarkannya pada ikan dan terumbu karang
seraya berdo’a
memohon kepada Tuhan
untuk berkenan merestui
pernikahan keabadian purnama
di atas kapal yang dinahkodai oleh cinta

Semoga layaklah aku menjadi saksinya

Pantai Jetis, 2018

Penulis: Estu Ismoyo Aji

Akar Tunggang

Layakkah aku
menjadi akar tunggang
yang hidup tenang di matamu
mencari sisa fosil-fosil mikro organisme
tanpa air matamu yang menyuburi tanahnya
kau sering mengubah musim dan jarak
di saat sebuah cinta mulai bermimpi
meleburkan kisah rindu abadi
hingga aku boleh berkata :
layakkah seorang aku

Dan jika musim perkawinan pelangi tiba
kabarkan padaku dengan segera
aku ingin mengikrarkan janji
pada tujuh warna-warnanya
bahwa aku bahagia
melihat tonggak kayu
kembali berseri di wajahnya
yang membawa sari-sari makanan
untuk disajikannya kepada putri daun
dalam proses fotosintesisnya kepada dunia
hingga aku mampu layak menjadi akar tunggang
yang bersemi penuh kewangian di jasad dan jiwamu

Purworejo, Sabtu, 21 April 2018, 00:50 WIB

Penulis: Estu Ismoyo Aji