Eloquent Silence

I sat there with the eloquent silence, with the laughter and tears that are not meant to be heard, yet felt. Having a conversation with sanity on how to stay sane with all the insanity around. Asking the voiceless sound that was on the verge of breaking out, how to stay quiet with all the madness around.
Not one shows any sign of answering the questions.

Distracted, uncertain, anxious, yet thrilled.

Then I start asking happiness, how to stay blossom when the garden is on fire.
Asking how love felt when it was humiliated, betrayed.
You are not ought to feel helpless, do not run away from yourself, they said.
Conquer your demons, love until nothing left but ashes in your bones.

The conversations went on for years
My brain attained the answers, yet stills no sign of knowing how to execute them.
Then patience came out and told me not to give up yet, told me to stop asking questions and let heart find its way out of the opaqueness.

(by Dimitri Josephine)

Ibu

seorang ibu adalah
cahaya, cahaya dan cahaya
sebab,
ia yang merangkul hati para pecinta.

Purwokerto, Juni 2018

Penulis: Yanwi Mudrikah

Emmakku yang Cantik

emmakku yang cantik
sering kali mengajakku ke ladang
melewati kebun nyiur
melintasi rumah burung-burung

dipanggulnya resahku
beriring gemunung rumput
yang mengembun ke matanya

lalu aku jauh
ia tersimpuh

di kejauhan tubuhku mengabut
asapnya mencium mata emmak
hingga bening kesedihannya
hingga pedih kenyataannya

LK, 6 November 2018

Penulis: Ibna Asnawi

Pesan Ibu

Di atas panggung aku menjadi saksi
Ibuku berdiri dan melihat
D antara kerumunan orang
Tak lelah ia menikmati keletihannya

Ribut orang banyak menjelma menjadi senyap
Seolah hanyut dan larut dalam teduhnya tatap
Gema bunyi menghilang ditelan sunyi

Ada kata yang hendak disampaikan
Oleh mata yang sejak dulu menjadi teman

Tenang
Damai
Tentram
Dan nyaman

Dalam kerinduan
Ibuku bilang,
“Berbahagialah dengan pilihan,
jadilah kuat dalam tiap cobaan.”

Menteng, Desember 2018

Penulis: Paulus Bagus Sugiyono

Suatu Saat Nanti

Suatu saat nanti kau pulang
Datanglah ke tepi gunung dekat pantai
tempat kita menanak rindu
Aku sudah menantimu di sana

Ayah sendiri pernah berlayar dan
Menebar debar asmaranya di sana
Bersama selembar malam dan sebuah sepi
Kita dipancang ke pelupuk pertiwi

Tak ada yang berubah
Toilet dan kamar mandi masih ada
Fotomu juga masih pajang di situ

Di balik bilik teluk cahaya itu
Katamu, Biak adalah perihal kebaikan
Menjelma ayah dan ikan-ikan membiak
Ke dinding karam laut jadi kita

Maka baiklah suatu saat nanti kau pulang
Datanglah ke tepi gunung dekat pantai itu

Biak ruang segala pergi telah
menemukan jalan pulangnya

Jakarta, Agustus, 2018

Penulis: Rino Fahik

Senja

Aku menjadi saksi
Tentang seorang ayah yang pulang ke rumah dengan perasaan bangga membawa sebungkus lauk untuk keluarga tercinta.
Tentang sepasang kekasih yang sedang kasmaran menikmati indahnya jingga di cakrawala sambil berbicara tentang rencana-rencana membangun sebuah rumah tangga.
Tentang anak kecil dengan wajah masam yang tak mau disuruh berhenti bermain bola oleh ibunya karena hari sudah petang.
Tentang sekawanan burung yang terbang meninggalkan tanah lapang munuju peraduan.
Tentang seorang pemuda yang berdiri di penghujung asa merasa seluruh hidupnya sia-sia semenjak ditinggal wanita.

Aku menjadi penantian
Bagi manusia yang lelah dan penat seharian terjerat dalam masalah-masalah pekerjaan.
Bagi orang tua renta dengan tubuhnya yang termakan usia hingga menghitung waktu yang masih tersisa.
Bagi pemudi frustasi yang tengah depresi mencoba mengumpulkan nyali untuk mengakhiri hari.
Bagi pekerja malam yang bersiap dengan dandanan berharap sedikit rejeki untuk makan.
Bagi harapan yang terus mencari jalan untuk membuat semua asa menjadi kenyataan bukan hanya menggantung di angan.

Aku menjadi yang dibenci
Oleh pasangan yang masih enggan saling meninggalkan di saat semua hal indah mulai muncul perlahan.
Oleh pedagang di pinggir jalan yang beranjak pergi meratapi jajaannya yang tak ada pembeli lagi.
Oleh orang pinggiran dengan listrik yang padam dan mereka tak mampu lagi melihat terang.
Oleh semua insan yang membenci kenyataan karena senja selalu mengajarkan tentang kesadaran.

Namun aku tetaplah senja
Yang selalu menyimpan cerita bagi setiap jiwa yang rindu akan hangatnya siang sebelum harus meringkuk di antara dinginnya malam.
Yang selalu mampu menyihir mata dengan gradasi warna hingga setiap insan merasakan betapa indahnya semesta.
Yang selalu mampu mengubah tawa menjadi air mata atau mengubah duka menjadi suka cita.
Dan yang selalu mampu mengubah setiap kejadian manis, pahit, susah, senang menjadi lembaran-lembaran kenangan dalam ingatan.

Penulis: Wirga Wirgunatha

Nyanyian Kesedihan

(Peristiwa Tragis)

aku membayangkan betapa hari ke hari berikutnya begitu dingin
bukan sebab ingin yang melayang-layang di pikiran
tetapi, keputusan yang tegas dan pas
di bulan Agustus

aku nikmati haus dan lapar
dengan waktu yang makin menghempas
di dada seorang Ibu
yang melahirkan, yang merawat, dan membesarkanku

aku tahan lapar
aku menahan memar
sampai pada batas

Darmakradenan, Agustus 2018

Penulis: Yanwi Mudrikah

Kembali ke Rumah Cahaya

bukan gadis yang kau kejar
apalagi rasa lapar
tetapi,
kau kembali ke rumah cahaya
hingga menyala
seluruh tubuh

ruh-mu menyala
ke lubuk
ke lamuk
tak ada kata ‘mengamuk’

kembalilah para pencinta
kepada cahaya

lenyaplah
dari huru-hara dunia
dan prahara
di deretan jarum
dan benang dunia

kembalilah ke rumah cahaya

Darmakradenan, 2018

Penulis: Yanwi Mudrikah

Above The Nicobar

Out in the heaven so blue
swirls the silvering clouds,
with the edges fly, and monsoon dies,
men challenged the storm, and with thunder crushed.

What violence, said the men,
could rattle the canopy and
tear the fiery rays asunder?
or quisle the dying gold of Her grandiose,
or maul the sun till ocean’s bleed.

And underneath, the ocean foams and twirls,
with Gods and Goddesses from the river’s rage.
All men, women in silk and hued zest sing
“be calm, sea - the ashes of my love sleep therein!”

Underneath, the devil and Poseidon are chanting
lullaby and haunting serenade
to bid the Nicobar coast a sweet dream.

Sea of turmoil, will you speak
the hour of my death?
until the restful temper of eve
claims Nicobar an Eden

Author: Sarita Diang

//Garis Samar//

I.

Garis merah di sudut jari kanan bibirmu
Bagai senja yang terburu-buru bersolek
sebelum hujan turun sore itu.

Kau paksakan samudera ke dalam warna sepatumu
yang aku dapat bercermin kepadanya—ganjil, aneh, janggal.

II.

Kau mencoba mengukir kisah kasih di atas kertas,
namun sayang, tintamu habis
sebelum namaku usai kau tulis setelah namamu

Dan cahaya lilin yang kian redup
membawa bayanganku semakin jauh, jauh, jauh.

III.

Gitar tuamu, mengadu padaku
bahwa sejatinya kau begitu menyukai lagu pemberian dariku

Hingga kau gemakan nadanya berulang-ulang,
dan, akhirnya sumbang di tepi kenang

IV.

Sayangku, sesungguhnya aku sudah tidak mencintaimu
dan ingin berumah dengan yang lain
Namun pintuku masih terbuka untukmu jika hendak bersua
Kali lain, mari kita berdansa di atas laut biru, di bawah kemilau senja,
membukukan kisah untuk cucu kita, juga menyanyikan asmara yang takkan kedaluarsa.

-jika, aku masih mengingatmu

Penulis: Julia DK