Kuhitung jauh,
yang beramai-ramai kabur dari sepi.
Dan sebagian yang sepi,
telah ramai oleh sunyi.
Bagaimana akan mengabur?
Padanya yang terguyur hujan,
yang derasnya di dalam dada.
Meski kutahu takkan menemukanmu,
di samping lelapku.
Telah kuruwat rasa yang mengakar dalam jiwa.
Kusimponikan di setiap kesunyiannya.
Berpukau pada duka yang terlalu indah.
Menyimpulkan cinta.
Semakin sunyi,
yang ramai pada bunyi-bunyi,
yang bunyinya berpukau,
pada serdadu rasa,
yang bercandu.
Tanpa menyungkur balasan.
Reras kan reras.
Reras kan reras.
Menyamur-nyamur di setiap gejolaknya.
Menyunting semesta dalam buaian.
Karna sungguh,
teramat ramai sunyinya cinta.
Menian-nian manisnya.
Tanpa fana.
Malang, 24 Februari 2016
Dewi Rizqi Maulidah. Penulis asal Gresik dan merupakan
mahasiwi S1 di Jurusan Sastra Indonesia Universitas Negeri
Malang. Selain pengalamannya sebagai jurnalis, Dewi sudah suka
dengan menulis terlebih pada dunia puisi. Baginya, puisi adalah
bentuk untuk mengungkapkan yang tak terungkapkan.
Selengkapnya, silakan kunjungi instagramnya: dewi_derimah.