Akhir Pesta Di Tepi Neraka


Belum habis sisa segelas darah yang bercampur dosa
Dari pesta semalam di tepi neraka
Di situ yang ditemani setan dan iblis saling bersayembara
Memperebutkan tahta yang terpenjara dalam hati manusia
Karena sudah lama berkarat tak lagi tersiram oleh iman
Hingga luntur warna keemasan yang dulu menjadi tameng kenistaan
Kini hanyalah nadi terakhir yang bergegas memompa segenap asa
Berusaha keras menjawab teka-teki waktu yang perlahan mengikis nyawa
Tapi belum sempat terjawab telah pecah gelas sang penadah dosa

Kami hadir dalam wujud manusia
Dengan sebujur kerangka yang tak berkulit
Namun beruntung kami masih mempunyai tulang beluang
Di mana kami mampu mengangkat kedua tangan
Membentang melingkari jari-jari bumi
Memohon ampun atas segala kesalahan yang mengikat leher kami
Seakan menolak apapun yang akan masuk dalam lambung
Karena begitu banyak keharaman yang kami telan
Mungkin serpihan pecahan gelas tadi menjadi kesempatan terakhir
Bagi kami untuk menyusun sebentang sajadah
Sebagai tempat sujud dahi tangan dan kaki kami
Satu tanda bukti persembahan
penutup wujud pengampunan kami
Sebelum kumpulan bambu dan tanah menyelimuti raga kami
Dan bunga sebagai peleburan atas busuknya dosa-dosa kami

Purworejo, 09 Juli 2017

Penulis: Estu Ismoyo Aji
Poetry Prairie Literature Journal #6

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s