Eloquent Silence

I sat there with the eloquent silence, with the laughter and tears that are not meant to be heard, yet felt. Having a conversation with sanity on how to stay sane with all the insanity around. Asking the voiceless sound that was on the verge of breaking out, how to stay quiet with all the madness around.
Not one shows any sign of answering the questions.

Distracted, uncertain, anxious, yet thrilled.

Then I start asking happiness, how to stay blossom when the garden is on fire.
Asking how love felt when it was humiliated, betrayed.
You are not ought to feel helpless, do not run away from yourself, they said.
Conquer your demons, love until nothing left but ashes in your bones.

The conversations went on for years
My brain attained the answers, yet stills no sign of knowing how to execute them.
Then patience came out and told me not to give up yet, told me to stop asking questions and let heart find its way out of the opaqueness.

(by Dimitri Josephine)

Advertisements

Above The Nicobar

Out in the heaven so blue
swirls the silvering clouds,
with the edges fly, and monsoon dies,
men challenged the storm, and with thunder crushed.

What violence, said the men,
could rattle the canopy and
tear the fiery rays asunder?
or quisle the dying gold of Her grandiose,
or maul the sun till ocean’s bleed.

And underneath, the ocean foams and twirls,
with Gods and Goddesses from the river’s rage.
All men, women in silk and hued zest sing
“be calm, sea - the ashes of my love sleep therein!”

Underneath, the devil and Poseidon are chanting
lullaby and haunting serenade
to bid the Nicobar coast a sweet dream.

Sea of turmoil, will you speak
the hour of my death?
until the restful temper of eve
claims Nicobar an Eden

Author: Sarita Diang

Blue

Maybe it is just one of his random notion,
Or the result of his complex contemplation,
When he blurted out his favourite tone out of summer hue’s gradation
Blue is the calmest colour, he said, it is the epitome of a tragic illusion.

Just look at the sky, he continues without any hesitation,
The bluish hue is just another form of deception,
letting us believe that the sky is within our reach, messing with our ideal conception.
His view of the said tint sadly filled with too much contradiction.

Little that he knows that I agree to disagree on his revelation,
As what I see from the hue itself is the reason for my opposition,
Blue reminds me of him, the object of my absolute adoration,
Filling my sleepless nights with memories that are worth to mention.

If only he knows,
maybe he would finally give the said tint its deserving appreciation.

Penulis: Jennifer Jaenata

The Bloody Moon

If my heart has to tell something
it will tell a tale of the moon
rotating subritiously
the orbital defect
and it will shine, shine
bloody like a bitter daydream
soon perished into eclipse
as I hide,
in the far side of the moon

Author & artwork: Poetry Prairie

Tamu Besar

Tamu besar berbadan besar
Datang membawa masalah besar
Romannya terang-terangan berbinar
Melihat semua orang menjadi cahar
Kala itu,jika kau melihat adanya, mata semua orang berpendar
Seperti jelaga yang dibakar
Semua jelas menjadi nanar
Hilang semua koar-koar

“Itukah algojo kehidupan, wahai Tuhan yang Maha Besar?”
“Seperti burung yang berkuar.”

Izrail bisa jadi adalah manusia yang besar
Tidak menatar
Malah meratakan pasar
Tidak siap menyajikan repertoar
Berserobok dengan manusia nestapa di sudut kota yang buyar

“Kita bisa mati, lebih mati dari yang kemarin, mati yang lebih kasar.”

Tanah ini akan ia jadikan rumah manusia-manusia besar

Penulis: Alwi Yusran

Kepada Laut

:mengenang We Cudai

Di dermaga dekat kotaku
Kau adalah laut yang paling palung
Sejejer karang karam di dasar sukmamu
Menyeruak cahaya dalam gulita katakata

Segerombol camar kerap ramai mengunjungiku
Sekedar berbagi berita tentang dirimu yang tak lagi biru
Ombakmu yang berhenti bisu
Atau anginmu yang lupa deru

Di suatu senja yang asin
Cecar tanya berlomba
Guyur di atas luka yang makam.

Makassar, 2017

Penulis: Syahrir Baso Pajalesang


To The Ocean
Reminiscing We Cudai

At the quay near my town
You are the ocean with deepest trough
Along side of sinking corals at the bottom of your soul
Lights beamed from the darkness of words

A flock of gulls often visited me
To share stories about you that is no longer blue
Your mute waves
Or your wind that forgets to roar

In one salty twilight
Rally of questions begin to race
Deluge over the grave of wound

Makassar, 2017

Author: Syahrir Baso Pajalesang

Translated by Poetry Prairie

Senja yang Marah

Senja yang marah
Merajuk sepi di penghujung hari
Mengingat segala liku
Membasuh segala luka
Mengikat segala lupa 

Tetes keringat dari langit
menyeruak aroma kepulangan yang dinanti sejak waktu.
Jika kembali adalah hatimu
maka pergi adalah perih yang mesti diikhlaskan
_sebisa mungkin.

Senja semakin marah
Sebab jemari kata seringkali hunus yang paling tajam
Mencabik maruah yang disemat setinggi tiangtiang penantian
Mengoyak diri sehasta demi sehasta
Melawan gerus yang dipahat waktu
_sekuat tenaga.

Senja masih saja marah.
Di suatu sepi yang menyendiri,
kepulan asa telah menggantung di sudut mata.

Palopo, 2017

Penulis: Syahrir Baso Pajalesang


WRATH OF TWILIGHT

A wrath of twilight
Sulking silently when day ends
Recall every twist
Wash out every wound
Tie up every obliviousness

The sweat drops from the sky
bursting the scent of homecoming that has been awaited
If return is your heart
then go is the pain that must be endure whole-heartedly
_as strong as possible.

The wrath of dusk is getting deeper
Because fingers of words mostly the sharpest thrust
Tearing dignity apart as high as piles of waiting
Ripped us bit by bit
Battling the carving of time
_with all might.

Dusk still keeps its wrath.
In secluded loneliness
the cloud of hope string up in the eye’s corner.

Palopo, 2017


Author: Syahrir Baso Pajalesang

Translated by Poetry Prairie

Membatu Di Depan Kaca

Selepas tidak melakukan apa-apa, lalu apa-apa tidak bisa dilakukan, karena batas mengatur setiap apa: beku yang terjamah mata—pikiran terlanjur menjadi negara, mengapung atas pertanyaan sendiri.

Aku tak tahu.
Ketika menemuimu, sebuah pistol melekat di pipi, tak terasa ledaknya tapi mulut tak bisa bersuara, itu sekilas cahaya.
Denyar membawa jiwa karam ke dasar seperti sebuah pasar. Berbinar-binar warna perempuan melekat di kaca dan gambar-gambar kapitalis.

Mati sajalah aku. Cekik celanaku.
Seorang anak kecil datang dari sebuah toko menyodorkan proposal. Aku tak punya apa-apa. Apa dia mau mendengar dongeng filsafat?

Mati sajalah aku.
Aku terus dibawa tanpa paksa atau provokasi. Tanpa suapan atau negosiasi yang lebih demokratis.
Tubuhku membatu di depan kaca.
Cahaya itu basah, mengalir.

Penulis: M. Roisul K.

PETRIFIED IN THE MIRROR

After doing nothing, then everything cannot be done, because limitation regulates everything: the frozen untouched by eyes -mind has became a state, floating above questions.

I don’t know.
When I met you, a pistol was right next to the cheek, I felt the explosion but mouth is soundless, in a glimpse of light.
Trills wrecked the soul to a market-like floor. Glowing colors of women are embedded in mirrors and capitalist pictures.

Just let me die. Choke my pants.
A little boy came from a shop with a proposal. I have nothing. Did he want to hear a philosophy tales?

Just let me die.
I was constantly taken without force or provocation. Without bribery or democratic negotiation.
My body was petrified in front of the mirror.
The light was wet, flowing.

Author: M. Roisul K.
Translated by Poetry Prairie

35 Puisi – Poetry Prairie Lite #6

DAFTAR PUISI PILIHAN

Daviatul Umam – Malam Pengampunan
Sami’an Adib – Menuju Taman Maharanum
Panji Sadewo – Unnamed Hollows


Aditya Aji Novtara – Mencoba Mengerti Sebuah Titik
Agnes Melati – Setetes Cinta Untukku
Ahmad K – Bangunlah
Alma Fitri Steviana – Bentang Maaf
Ammar – Segelas Cahaya Sang Pengampun
Angga Kusumadinata – Ampunanmu Ampunan-Nya
Army Iswandani – Maaf, Terlalu Lama
Dini Duanasari – Penjahat
Elif Fertia Wahyu – Gemuruh Ampunan Tuhan
Estu Ismoyo Aji – Akhir Pesta di Tepi Neraka
Faris Al Faisal – Maafku
I Gede Wikania Wira Wiguna – Aku Yakin
Iswadi Bahardur – Pada Pertiga Gelap Semesta-Mu
Khusnul Khotimah – Berbahagialah Para Pendosa
Marthilda Magdaleni Naru – Tahirkan Khilafku
Maulidan Rahman Siregar – Nikmat Tuhan Mana Lagi Yang Kau Dustakan
MeezaA – Sebuah Titik Balik
Mia Nurholisa – Pada Suatu Sore
Novitasari – Jejak Penembus
Ogie Munaya – Demi Pengampunan
Ogie Munaya – Kekasih Pendosa
Olia Girindra Sakti – Curatele
Putri Barita – Ampun Dalam Derita
Qatrunnada – Terlambat
Rama Adi – Dosa
Rizky Pradipta – Hijrah Sang Penghina
Salsabila Fitriana – Aku Akan Pulang, Tuhan
Sami’an Adib – Terperangkap
Shella Anggraeni – Malam Panjang Pengampunan
Sisca Aliatuliyah Cica – Mengukir Tembok Beton
Siti Lilatus Sa’adah – Gelabah Malam
Yaizha Zannuba Fatimah – Kesekian Kaliku

Nyala Obor

Saat-saat sunyi perjalanan. Kunyalakan obor di tangan.
Apinya dari kepundan keramat
puncak Kelud di musim pancaroba, yang
menembangkan kutukan Lembu Sura.
Anak-anak zaman limbung. Bermain dalam gelap
perbendaharaan bahasa.

Kubawa api penerangan di atas jalan berbatu.
Apa kabar hari ini petani tebu, petani
yang dulu memasok bahan baku primadona
perdagangan kolonial;
kini lahan penanaman tebu diperluas
agar lahan yang ada berkurang
daya tawarnya.
Apa kabar hari ini penduduk negeri
yang dicekoki hasil produksi,
lupa tanahnya berkisah pilu Mpu Sedah
yang tak rampung menggarap
parwa-parwa baratayuda. Sementara
biji mata kita disilaukan
gaya hidup negeri asing.

Nyala obor tinggal setengah ons,
ketika jalan berbatu kian renggang.
Longsor mengintip dari balik gelap.
Aku berkata, sejarah bukan
untuk dijadikan teror
bukan pula jari telunjuk yang ditudingkan
dari arah masa lalu.
Sejarah adalah lakon manusia
agar saling memahami. Bukan menghakimi.

Lalu, apa kabar buruh hari ini
oposan tetap sejak zaman kolonial;
suaranya di jalan disejajarkan
dengan kemacetan
dan dijawab dengan kabar pemindahan pabrik
ketika menuntut upah diperbaik.
Amboi, selain tanah yang subur
negeri ini kaya pula angkatan kerja!

Nyala obor kian redup. Langkah
kian bergetar. Kulihat obor-obor lain bagai
titik bintang di kedalaman semesta. Jauh
dan kecil, namun bertahan.

Surabaya, January 2017

Poetry Prairie Literature Journal #5
Penulis: Chandra Krisnawan