Pemasak Batu, Aku dan Tempat Makan

suatu petang menekuri kisah ibu pemasak batu,
mencari penghiburan diri dalam malam kian tiris,
berharap ringis sang anak tak berubah menjadi tangis yang panjang

ia merayu perut kosong menunggu temaram berubah menjadi terang. tapi, malam kembali enggan untuk cepat beranjak, sebab jenak tak mengubah apa yang ditanak di atas tungku

perih kian melilit, menghadirkan getar pada bibir
kering tak lepas dari komat kamit. apa yang bisa ia
sajikan di dalam piring kaleng, bunyi yang sama
nyaring dengan lapar berteriak tidak sabaran

pada pengharapan, ia menghalau desir angin agar membawa sebutir kurma atau sekerat roti. ingin kenyang menyapa anak yang kelaparan, hingga
Umar datang menyambut keluhan

di suatu ruang, aku menatapi hidangan ruparupa
tersusun di atas baki bermotif bunga. namun perih
masih saja hadir dalam perut kosong yang tak bisa
diisi apa-apa, hanya bisa menatapnya dengan nyalang

apa yang harus aku lakukan, jika setiap butir nasi atau
sekerat roti tak hendak masuk hanya untuk menyapa lambung yang kian berteriak kesakitan,
perihnya sama oleh rasa lapar

aku membuat pengandaian, sajian itu menyelinap diamdiam dan berproses dalam pencernaan, seketika akupun kenyang
aku dan si ibu pemasak batu berdampingan,
menjajari perih karena tak ada makanan terlewat dari kerongkongan

sedangkan di sebuah tempat makan piringpiring
berantakan, berhias tumpuk makanan, tak menjelma
jadi remah bahkan masih utuh tak jadi dimakan,
tersebab soal selera, tak cocok di lidah, berakhir di tempat pembuangan

Ruang Biru, 280218

Puisi Pilihan 3 – Poetry Prairie Literature Journal #8 “Makanan & Manusia”

Penulis: Hida Syifa

Advertisements

Dari Gudeg Sampai ke Rendang, Betapa!

betapa jauh perjalanan sejarah dari gudeg
sampai rendang
dalam legenda tersurat dari bumi mataram
sampai minang
betapa jauh jarak rumah gadang
sampai ke pendopo joglo*)
tetapi betapa dekat dalam kitab kuno
kisah juang tuanku imam bonjol dan pangeran diponegoro

laukpauk sambal dan serbaneka sayur
lambang cinta warisan leluhur
betapa panjang petualangan semangkuk bakmi dan pizza
adakah sepanjang pengembaraan
cheng-ho dan ibn battuta
betapa jauh jarak budaya pribumi
dan para perantau manca
namun betapa dekat keduanya dalam pusaran masa
ternyata budaya masakan juga titian persaudaraan bangsa
kendati kadang di celahnya terselip duri dalam ketiak
tatkala perkenalannya harus lewat bedil, keris dan tombak
gudeg dan rendang, bakmi atau burger, kebab atau pizza
hanyalah selera, asin-manis lidah-bibir budaya manusia
beragam tabiat menyimpan hakikat nalar dan rasa
hanya seteguk air kelapa atau kokakola
itulah sejatinya kehidupan di dunia!

(bukan pertanyaan hidup untuk makan atau sebaliknya
tapi apakah makna makan bagi keutuhan hidup manusia!)

2018, bumi bagelen

*) Joglo : bentuk bangunan tradisional Jawa

Puisi Pilihan 2 – Poetry Prairie Literature Journal #8 “Makanan & Manusia”

Penulis: Soekoso DM

Masem Pedes

ikanikan berenang dengan rela menuju pengilar milik
lelaki tua yang baru saja melepas keringat usai
mantang di pohonpohon kehidupan
ikanikan itu kelak menjadi gempita saat tubuh mereka
disiangi tangan renta, mafhum bahwa demikian bukti
persahabatannya dengan sungai yang bertambah
ringkih dilibas toltol luar kota

sepanjang jalan, lelaki tua terus saja meramal nasib
ikanikan pada takdir istrinya yang akan
meraungraung ketika mendengar bunyi buldoser lalu
terbahak meratapi sepanci masem pedes
masakannya
kian kemari, aroma menguar kian susut menyisa kuah
kecut. bawang, laos, cabai, kunyit membusuk dalam
timbunan semen dan koral. insang dan belulang
ikanikan lumat dalam hikayat
lelaki tua menggapaigapai hendak menimang
ikanikan namun sungai dengan cepat menutup pintu
dan membiarkan lelaki itu pilu

sungairengit, 28022018

Puisi Pilihan I – Poetry Prairie Literature Journal #8 “Makanan & Manusia”

Penulis: Umi Laila Sari

///Curatele///

Temaram itu tiba dikawal pekatnya langit
Sinar semakin sirna nan kian memudar
Waktu pun berdetik semakin terburu-buru
Bersiap di balik pintu

Benarkah? Salahkah?
Barisan kata sederhana penggoyah paradigma
Pemantik dalam  tatanan kaya, elok
Kelana pun tak berujung

Candu mengintervensi jalan logika
Dogma mengunci gerbang nurani
arah menuju terminasi

Hanya tersisa satu langkah
Langkah terakhir menuju benderang
Di gerbang usia pengampuan
Bernaung dalam putih dan pengampunan

Penulis: Olia Girindra Sakti
Poetry Prairie Literature Journal #6

Kesekian Kaliku

Ribuan bahkan milyaran
Kecil, bahkan tersering besar sekalipun
Napsu yang menguasai raga hina ini
Hanya titik hitam, kala itu
Terbalut kian hitam, benda mulia itu
Saat ini..

Taubat seolah permainan jenaka
Yang bisa kuulangi setelah berbuat
Berbuat hal, yang Kau jadikan larangan.
Sering sekali dosa setelah taubat ku
Sehingga, terus sahaja berputar
Ya, seperti permainan
Yang aku, bisa bermain sesuka hati
Dengan taubat dan dosaku.

Padahal,
Aku tak perlu menunggu,
Menunggu tamparan-Mu
Tapi anehnya, seolah sengaja
Aku lebih menunggu
Tamparan, untuk sadarku
Sebelumnya padahal,
Sinyal peringatan-Mu terlihat
Jelas tak berkabut sedikit pun
Tapi aku, seolah mengkaburkan
Penglihatanku sendiri
Agar berpura-pura tak melihat.
Lewat aku, yang menjauhkan diri
Dari kebaikan dunia-Mu
Mereka, teman teman shalihku.

Padahal,
Kau menjadikan mereka penerang
Di saat, penerang terbesar di dunia pun
Tak dapat menerangi jalan gelapku.

Pikirku, lenyap sudah kesempatanku
Dari ketenanganku yang kurindu
Karena, lama tak kurasakan
Akibat penyia-nyiaanku.
Kasih sayang-Mu, buatku tenang.
Nyatanya, Sang Penyayang masih sahaja
Memberiku biliunan penenang
Bahkan hitungan itu jauh sekali
Dengan apa yang aku rasakan.

Sehingga kini,
Dia membukakan pintu-Nya
Yang kala itu sempat aku,
Menutupnya rapat rapat.
Berlian yang kutahan untuk mengalir
Dengan mandiri mengalir
Tak dapat terbendung,
Tumpah ruahlah sudah
Dengan kalimat sederhana
Namun mulia luar biasa
Ribuan bahkan milyaran
Kecil, bahkan tersering besar sekalipun
Napsu yang menguasai raga hina ini
Hanya titik hitam, kala itu
Terbalut kian hitam, benda mulia itu
Saat ini..

Taubat seolah permainan jenaka
Yang bisa kuulangi setelah berbuat
Berbuat hal, yang Kau jadikan larangan.
Sering sekali dosa setelah taubat ku
Sehingga, terus sahaja berputar
Ya, seperti permainan
Yang aku, bisa bermain sesuka hati
Dengan taubat dan dosaku.

Padahal,
Aku tak perlu menunggu,
Menunggu tamparan-Mu
Tapi anehnya, seolah sengaja
Aku lebih menunggu
Tamparan, untuk sadarku
Sebelumnya padahal,
Sinyal peringatan-Mu terlihat
Jelas tak berkabut sedikit pun
Tapi aku, seolah mengkaburkan
Penglihatanku sendiri
Agar berpura-pura tak melihat.
Lewat aku, yang menjauhkan diri
Dari kebaikan dunia-Mu
Mereka, teman teman shalihku.

Padahal,
Kau menjadikan mereka penerang
Di saat, penerang terbesar di dunia pun
Tak dapat menerangi jalan gelapku.

Pikirku, lenyap sudah kesempatanku
Dari ketenanganku yang kurindu
Karena, lama tak kurasakan
Akibat penyia-nyiaanku.
Kasih sayang-Mu, buatku tenang.
Nyatanya, Sang Penyayang masih sahaja
Memberiku biliunan penenang
Bahkan hitungan itu jauh sekali
Dengan apa yang aku rasakan.

Sehingga kini,
Dia membukakan pintu-Nya
Yang kala itu sempat aku,
Menutupnya rapat rapat.
Berlian yang kutahan untuk mengalir
Dengan mandiri mengalir
Tak dapat terbendung,
Tumpah ruahlah sudah
Dengan kalimat sederhana
Namun mulia luar biasa
Keluar dari lisan hina.
Rabbighfirlii..

Penulis: Yaizha Zannuba Fatimah
Poetry Prairie Literature Journal #6

Mengukir Tembok Beton

Berpaling dari angan
Dengan darah hati menanti
Menuruti paksaan karena tersakiti
Layaknya bulan menandingi matahari

Kelopak mawarpun berguguran
Karena awan melawan hujan
Bak kertas mematahkan goresan hitam
Dengan penuh penyesalan

Kabut telah menanti
Namun, darah putih datang membasahi pipi
Dengan menatap buta
Menyadari kesalahan yang membara

Kurela…
Meretakkan semua yang berlalu
Tuk membuang gumpalan penyesalan
Dan kembali pada Tuhanku Yang Satu

Kurajut embun yang berlalu
Menyulap pelan rintihan terdalam
Yang tuli dalam keadaan, dan,
Mengubah penyesalan menjadi pengampunan

Penulis: Sisca Aliatuliyah Cica
Poetry Prairie Literature Journal #6

Gelabah Malam

Bumi yang merupa kehidupan profan
Seharusnya tidak menjadikan malam pongah dengan menindih siang
Begitu juga dengan dua manusia telanjang yang mengupas keduniawian
Besar rasanya, seharusnya menghayati alasan penciptaan
Perempuan yang yoni dalam rupa lumpang, sabar menjadi sumber kehidupan
Disandingkan dengan lelaki yang disangga
Tertoteh begitu saja tanpa surat nikah
Juga dalam sejarah catatan fana
Keduanya, tidak suci lagi sebagai makhluk Tuhan
Begitulah, tatanama distorsi manusia
Semua sudah pada takarannya
Tak perlu meronta kekeringan
Tak perlu pula meronta kedinginan

Lalu, bagaimana tata cara islah dengan Tuhan?
Hanya tata hati yang solak dan ikhlas menyerahkan diri kepada Tuhan
Yang akan menggenggam marwahnya surga Tuhan.

Penulis: Siti Lilatus Sa’adah
Poetry Prairie Literature Journal #6

Terperangkap

kudengar debur jantung berdebar
menahan denyar renjana liar
yang menawarkan rinai kenikmatan

kusadar tatapan mata telah berubah nanar
memendam gusar diri yang pandir
terbujuk oleh jebakan kesesatan

kini aku benar-benar terkapar
terbius ranum bibir para lacur
yang tak jemu melena khayalan

sampai kapan hal ini akan terbiar?
sedang jiwaku kian menggelepar
terkubang dalam lumpur perangkap syetan

kini satu asa kuteguhkan wahai Dzat Yang Mahabesar
ijinkan aku berenang di kejernihan telaga ampunan-Mu

Jember, 2015


Penulis: Sami’an Adib
Poetry Prairie Literature Journal #6

Malam Panjang Pengampunan

Di kota ini pengampunan itu serupa pengemis jalanan
Menggigil bertangkup udara munafik menjengkali malam-malam di musim dingin
Wajahnya kotor dijelagai kesinisan
Pakaiannya compang-camping disobek kebohongan

Oh lupakan saja rasa bersalah!!!
Malam masih panjang, dia sedang tidur nyenyak
Di pelukan hangat perapian di rumah pengerat berdasi
Dimana penyesalan???
Ia duduk di belakang meja sibuk memotong pajak dari pajak rumah jelata

Kau mesti paham!!! dalam hingar bingar ini metropolitan
Kekuasaan adalah palu keadilan uang adalah raja jalanan
Siapa itu pengampunan??
Sudi dipeluk bila maut sudah meremas kerongkongan

Malam masih panjang, esok pagi belum tentu
Pengampunan meringisi kaki telanjangnya yang melepuh
Merajah aspal bertuah sisa janji-janji berdebu
Dimana lagi di kota ini pintu yang belum ia ketuk agar penebusan bisa diasuh

Di kota ini, pengampunan sebatang kara
Tak lagi bersanak saudara, tak ada yang sudi lagi jadi temannya
Ia diasingkan dari perindunya, dicampakkan kekasihnya
Tapi ia menolak mengemis pada putus asa

Ia mencintai kota ini, biar saja ia disapu jalanan
Akan ia hangatkan dirinya dmeringkuk di kursi taman dengan korek apinya disisa malam,
Ia juga masih memiliki kenangan remah roti sisa semalam
Agar gemerincing perutnya bisa kenyang dalam impian

Selamat malam kotaku, semoga malammu masih panjang…
Sehingga kau bisa memiliki kesempatan dapat menemui sang pengampunan
Yang masih meringkuk di kursi taman dengan kesedihan yang tersedu sedan
Selamat malam kotaku, semoga penebusan masih sudi datang sebelum pagi menjelang…

Penulis: Shella Anggreni
Poetry Prairie Literature Journal #6

Aku Akan Pulang, Tuhan

Senja menyapaku dengan tatapan nanar, layaknya menunggu untuk segera pulang. Sejauh ini, Aku telah menjalani langkah yang terseok-seok sampai hari ini, Aku pernah mencintai dan meletakkan harapan yang tak sejalan dengan kenyataan.

Dalam sunyinya malam, semesta selalu saja membuatku lemah tak berdaya. Mengungkap semua rasa, suka duka mencintai dan berharap tanpa balas. Aku menyukai kebersamaan bersamaNya setiap malam. Dengan deruan air mata dalam sujud, kupinta Semesta memaafkanku dan tidak membenciku.

Aku memang bersalah, memulai sebuah cinta yang pada akhirnya mengalihkan keutuhan cintaku padaNya. Aku tahu, Tuhan merindukanku. Dia menanggalkan sebuah sayatan bahkan tusukan sebagai peringatan bagiku.

Pengingat untuk kembali, dan memohon maaf padaNya. Dia mengingatkan bahwa perkara mencintai bukan berarti memiliki seutuhnya yang bukan miik kita.

Kiranya, Tuhan pasti marah dan mengutukku agar tak berbahagia pada akhirnya. Dia memintaku untuk kembali pulang dan memelukNya, karena hanya cintaNya yang mampu membahagiakanku selamanya.

Aku telah alpa akan cintaNya. Aku memohon maaf padaMu, Tuhan.

Aku memohon maaf atas kealpaanku mencintainya lebih dari mencintaiMu.

Perkenankan aku untuk memperoleh kesempatan terakhir membuka lembaran baru sebelum waktunya aku pulang dalam pelukanMu. Akan aku persembahkan cintaku sepenuhnya padaMu, karena Kau satu-satunya yang mencintaiku lebih dari perluku dan lebih dari yang kutahu. Inilah waktuku kembali.

Aku akan pulang, Tuhan.

Jakarta, 12 Juli 2017

Penulis: Salsabila Fitriana
Poetry Prairie Literature Journal #6