Mengukir Tembok Beton


Berpaling dari angan
Dengan darah hati menanti
Menuruti paksaan karena tersakiti
Layaknya bulan menandingi matahari

Kelopak mawarpun berguguran
Karena awan melawan hujan
Bak kertas mematahkan goresan hitam
Dengan penuh penyesalan

Kabut telah menanti
Namun, darah putih datang membasahi pipi
Dengan menatap buta
Menyadari kesalahan yang membara

Kurela…
Meretakkan semua yang berlalu
Tuk membuang gumpalan penyesalan
Dan kembali pada Tuhanku Yang Satu

Kurajut embun yang berlalu
Menyulap pelan rintihan terdalam
Yang tuli dalam keadaan, dan,
Mengubah penyesalan menjadi pengampunan

Penulis: Sisca Aliatuliyah Cica
Poetry Prairie Literature Journal #6

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s