Hijrah Sang Penghina

Saat semesta tak menganggap
Saat olok merendahkan
Saat diri tak lagi bertemu bahagia

Apakah sang pengatur semesta melupakan?
Apakah sang pemberi suara membentak?
Apakah sang pemberi bahagia sedang berbahagia?

Dia selalu ingat
Dia hanya menegur
Walau Dia sangat marah

Tak pernahkah terbesit khilaf?
Tak pernahkah terbesit rindu?
Sadarkah?
Dia rindu akan rintihmu
Dia rindu tangis saat kau ingat diri-Nya
Dia rindu hati yang tak pernah menduakan-Nya

Bersama sayup-sayup merdu
Mencoba tata jiwa yang tlah tak terarah
Bersama sapuan air nan segar
Mencoba bersihkan masa hitam yang melebur

Dia tahu hati yang benar-benar hati
Dia sang pemilik hati…
Tak pernah terbesit dendam
Walau kepada para penghina
Yang belum mengenal sadar

Lalu apakah kita berpura-pura tidak tahu?
Saat sinar dari segala khilaf tlah datang
Ingatlah…
Sinar kesempatan
Tak akan selamanya benderang

Penulis: Rizky Pradipta Anomsari
Poetry Prairie Literature Journal #6

Dosa

Kini aku menghitung dosa seakan-akan
menghitung titik-titik hujan
Namun dosa-dosaku tak akan menguap karena panas
Menghilang karena angin
Aku membiarkan garis-garis kehidupan
Menginjak harga diriku
Hari-hari kelam bagai bayanganku
Mengejar kemanapun aku berlari
Semakin cerah tujuanku
Semakin besar bayang-bayangku

Mungkin aku lalai dalam berdoa
Aku kalap dalam bersyukur
Malam ini aku benar-benar menangis
Tangan lemahku menengadah terhadap-Mu
Aku tak bisa memilih irama dalam doa
Yang kutahu hanya Engkau-lah saja
Aku harap kau membalas
Entah nyawa yang harus kubayar

Yang kuinginkan hari ini
Doa dan syukurku, menjadi penghantarku
Entah dunia kelam atau baik yang kudatangi

Penulis: Rama Adi
Poetry Prairie Literature Journal #6

Terlambat

Sepasang tangan penuh luka sayatan
Penuh darah bergelimangan
Memegang ikatan tali derita
Bak sebuah sayap yang enggan lepas dari rantai masa lalu

Terlalu lama bersarang
Terlalu pekat untuk dibasuh
Terlalu sesak menyusup ingatan
Terlalu banyak melahirkan air mata

Matahari berkilauan di sudut senja
Meninggalkan semburat jingga menggelegak
Diiringi Air laut yang memantulkan pengharapan
Akan sebuah pengampunan

Seakan mustahil diterima raga yang bermandikan perih derita
Seakan tak sudi telinga itu mendengarnya
Suara bising isak tangis penyesalan berhamburan bak bintang di langit malam
Penyesalan dalam gemuruh menyeruak memaksa mendiami otak dan hati

Tapi sayang telinga ini telah tertutup darah kepedihan
Hati ini telah membisu diam mematikan kalbu
Mata ini telah menutup kokoh
Nafas ini telah berubah bagai jelaga api yang membakar kertas
Kertas yang berisikan kata maaf

Penulis: Qatrunnada Mochlis
Poetry Prairie Literature Journal #6

Ampun Dalam Derita

Keangkuhanku mendatangkan malapetaka
Bisikan ganjil terus mengusik telingaku
Mengacaubalaukan pikiranku
Bahkan tangan gaib pun mulai merengkuhku
Di atas segala penderitaan yang melanda
Di ujung kewarasanku
Terselip sesal akan hidupku yang keliru
Ingin rasanya berbalik, melarikan diri
Tapi belenggu ini terasa semakin erat
Sakit. Siksa ini semakin sakit

Tolong. Tolong aku
Perlahan raga ini mulai pasrah
Menyerah pada siksa abadi
Kemudian terngiang sebuah nama, nama Sang Pencipta
Sejenak tebersit hasrat untuk mengadu pada-Nya
Namun diri ini begitu malu
Bahkan mengucap nama-Nya saja tak berani
Aku merasa sangat kotor
Manusia yang dicipta-Nya dengan cinta
Telah menusukkan jarum di jari-Nya
Tekanan keras menyesakkan dada
Kerinduan menelusuk hati
Bibir yang hilang kendali dan memanggil nama-Nya
Berlutut dan merendahkan kepala sampai mencium tanah
Seruan lantang keluar dari mulut hinaku

Tuhan, ini aku
Aku mengaku salah
Tolong ampuni kesalahanku
Tolong selamatkan aku
Tolong ampuni kesalahanku
Tolong selamatkan aku

Kehangatan melingkupiku
Mengendurkan belenggu yang melilit jiwa raga
Kelegaan memenuhi jiwa seiring penglihatan yang memudar
Detak jantungku semakin lambat
Perlahan dunia menjadi gelap
Dan sukmaku melayang bebas.

Penulis: Putri Barita
Poetry Prairie Literature Journal #6

Kekasih Pendosa

Aku kekasih pendosa
Yang penuh pengharapan untuk ampunan
Kala memulai penuh sadar namun sulit melupakan
Pada nada memecah telinga-telinga
Saat bersua tinggalkan jejak luka
Ingin kulupakan
Ampunkan

Aku kekasih pendosa
Bermulut dengan maki
Berhati penuh dengki

Bagaikan milik pendosa
Derap-derap langkah yang kutinggalkan menyulut api
Menyala-nyala ke relung jiwa wajah para kecewa
Kusadari penuh pasti
Ngeri

Sepenggal nyawaku berpeluk dosa
Memompa segumpal darah ke setiap denyut nadi
Bergerutu, penggerutu
Bergejolak memuncak-muncak

Penuh ampunan kutadahkan kedua tangan
Sejajar, tergegar
Menunduk malu dalam derai air mata
Pengampunan, pengampunan yang kupintakan
Terjeritkan, terpekikkan

Aku memang kekasih pendosa
Yang pada setiap detiknya tertegun
Yang pada setiap detiknya terpekur

Aku kekasih pendosa
Setia berdoa dalam getar ketakutan
Mengemis dalam pengharapan
Berharap untuk pengampunan

Penulis: Ogie Munaya
Poetry Prairie Literature Journal #6

Demi Pengampunan

Pada-Mu Ilahi
Sungguh hanya Engkau Sang Pengasih
Dalam kesunyian dan bisu
Tubuh ringkihku bertamu penuh noda

    Pada setiap biji-biji tasbih di ujung jari
Rangkul, peluk aku
Topang dan rantai diriku dengan kasih

Demi pengampunan
Kunadakan, senandungkan, melantunkan
Doa-doa memelas dari bibir pucat
Untuk dosa yang terus mengantri
Dari keburukan yang merentangkan tangan dengan senang,
menanti

Nafasku tersesak
Lidahku tercekak
Hatiku kelu saat dosa itu menghantui dari balik mimpi
Mengintaiku
Menyibakkan udara penat
Mencekik

Kupanjatkan pujian-pujian di antara rintihan air mata
Ampuni aku dari segala keburukan menuah-nuah

Aku menangis kesakitan dalam kalbu
Ketakutan penuh malu
Raga keringku labil menopang jiwa
Masih berlatih
Masih tertatih

Demi ampunan dari-Mu Ilahi
Aku meronta penuh keranaan
Culik aku dari yang diam-diam menghalangi asa
Sembunyikan diriku dalam balutan cinta

    Rampas aku dari keburukan
Secepatnya!
Rebut aku dari belenggu dosa-dosa
Sekarang! Segera!
Aku memaksa

Demi ampunan dari-Mu
Kupasrahkan jiwa selembut gelembung menari di Samudra
Kuserahkan diri ini seringan kapas terlayang di udara

Penulis: Ogie Munaya
Poetry Prairie Literature Journal #6

Jejak Penembus

Getaran gelombang berdesir rombongan gemulai
Asap padu buaian mengalun membelah ke ubun tanpa gontai
Di bawah ada yang menengadah dengan memegang  dupa
Dan diatas kubah tak hentinya kening beradu dengan sajadah
Tak jarang di gereja meminta do’a khusyuk tanpa guyonan pilah

Bergeming menyebut nama suci dengan keyakinan pada atmanya
Manusia sering terjerembab pada kejahiliyahan dan amalnya lenggang
Kerukan dusta menggema tiap sudut menandakan sudah tak terasa apa yang dilakukan
Jauh pada ketikan layaran selayang pandang hanya sedikit memerhatikan tentang hisaban
Waduk jadi kecaman terbelenggu yang tak terhentaskan

Layaknya curah ia ingin bebas turun hinggap tersapu angan
Memandang panorama dan menduduki pintu pertobatan
Kancahnya kilat karna habis cobaan kemudian datang pembelajaran

Menyeret  yang jadi bangkai dan mengubur kehinaan dalam tanah ampunan
Pintu masih melonglong sedangkan hati ingin beringsut tetap ke jahanam
Merekahkan surut yang hilang terisak perbuatan menyedakkan kerongkongan

Kusangga diantara cara melelang kebatilan agar hidup bisa nyaman walau di kubangan

Pohon mahoni yang membentang menyuratkan peluklah aku dan jangan jadi sesembahan
Sambil melindungi dari terik menyilaukan lewat perantaranya ia memberi kesejukan

Kirahan yang mencuat berpolakan air yang jadi penyucian
Damai di kelopak hingga tak ada kerjaan ia membuat serdadu

Gelagap bila puing origami maaf tak bisa menembus cahaya
Arusnya menyengat seperti listrik yang menghantarkan panas ria
Daun pintu berkilau menyuarakan silahkan datang kerumahku tuan
Nasib jangan kau risaukan karna perjuangan akan membabat yang bermalasan

Bunyinya gemetar duri yang menancap ditumbuk dan dijadikan minuman
Bukan agar kuat karna sesaknya kehidupan lebih kejam bagi yang kelaparan
Bahan di dasar berserakan dan kembali memunguti kesalahan yang telah tumpah
Menggiring biri tuk memafkan dan bersenandung ria di taman para petuah
Bersemi dan berguguran dan semoga apa yang telah kembali sudah tak ke jurang
Kotak amal jangan hanya jadi dorongan tapi beramallah untuk kemaslahatan membentang
Kucuran keringat tercacah pori yang jadi keinginan
Bukan gemerlap yang diidamkan tapi tataran iman menjulang yang didambakan

Penulis: Novitasari
Poetry Prairie Literature Journal #6

Pada Suatu Sore

Pada suatu sore
Kami duduk di beranda
Hidup, Maut dan Ampunan

Lalu Hidup berkata;
Jangan dahulukan aku
Akan kunikmati seluruh aku
Aku ingin hidup untuk abadi

Lalu bagaimana dengan aku? Kata Maut
Jika hidupmu abadi
Barangkali itu mimpi
Sebab Hidup itu fana
Yang abadi itu aku

Sedang Ampunan hanya tersenyum
Kamu hiduplah sesukamu
Sebelum kau beranjak pada maut
Ingatlah akan aku
Sebab itu yang menjadikanmu abadi

Penulis: Mia Nurholisa
Poetry Prairie Literature Journal #6

Sebuah Titik Balik

Bagaimanatah aku mampu berkuasa memburu-buru-Mu?
Sedangkan Engkaulah penggenggam ruas waktu
Ketergesaanku akan ketetapan-Mu, kelemahanku
Dan tiada sesuatu pun berdaya menuntut-Mu
Maka ajarkan aku untuk bersimpuh

Dalam segenap ironi aku pernah sangat berbangga
Menganggap diri yang teristimewa?
Ah, padahal aku bukanlah siapa-siapa atau apa-apa
Muda, jemawa, dan ingin selalu bergegas
Berusaha beradu cepat dengan masa
Berlari, karena tak lagi sabar merangkak atau berjalan
Terbang, karena angkasa terasa lebih menantang
Kesegeraan adalah suatu keharusan
Ketidaklemahan adalah sesuatu yang harus dibuktikan
Pada akhirnya pun aku kalah dan patah
Masa bukanlah lawan tanding yang seimbang
Tersandung oleh kerikil-kerikil kecil
Sayap-sayap tertaklukkan oleh badai
Arogansi yang sia-sia di hadapan-Mu
Perencana sempurna atas takdir dan waktu

Dan seketika kepongahanku tertampar
Runtuh dan compang-camping
Masih layakkah kupertontonkan keangkuhan?
Perenungan mewujud sebuah titik balik
Penuh dan sesak, rasaku meluap
Langkahku pelan, tertatih-tatih
Keakuanku memohon sebuah pengampunan
Duhai pemilik semesta

Pada logika mana lagi akan sanggup aku meragu?
Segala tentang-Mu paripurna
Aku menyerah di hadapan-Mu
Bersujud dan memohon, aku menghamba
Dalam samudera ampunan-Mu yang maha raya
Benamkan aku di dasarnya

Penulis: MeezaA
Poetry Prairie Literature Journal #6

Nikmat Tuhan Mana Lagi Yang Kau Dustakan

Nikmat tuhan mana lagi yang kau dustakan,
sekarang paha manusia dijual gratis
aurat seharga langit bumi turun harga
dosa-dosa dijual murah
berulang, bisa diulang
nikmat tuhan mana lagi yang kau jauhkan??

nikmat tuhan mana lagi yang kau dustakan
prostitusi sudah dekat
sudah bisa dari rumah ke rumah
bisa juga lewat online, jika tak punya waktu
lumayan juga, tak butuh orang banyak
lumayan sembunyi, lumayan sepi
nikmat tuhan mana lagi yang kau jauhkan??

nikmat tuhan mana lagi yang kau dustakan
ayat quran sudah versi mp3
bisa ke rumahmu, bisa ke genggaman
tatacara shalat dan penyelenggaraan jenazah banyak di youtube
tinggal klik, tinggal lihat
nikmat tuhan mana lagi yang kau jauhkan??

nikmat tuhan mana lagi yang kau dustakan
kebebasan berpendapat dijunjung tinggi
kau boleh sembarang soal, sembarang cara
sembarang berkata, sembarang menghakimi
nikmat tuhan mana lagi yang kau jauhkan??

kenapa memilih pulang?
kau takut, rumahmu dibakar orang?

Batam, 28/05/2015
*Ayat Berulang dalam surat ar-Rahman

Penulis: Maulidan Rahman Siregar
Poetry Prairie Literature Journal #6